Ketika sedang makan malam, Radilan menitikkan air mata, air matanya menggenang sejak tadi, karena menahan sakit dan lapar. Sang Kakek sering mengatakan kepadanya untuk bersabar dan terus berdoa, karena kekuatan doa sangat besar, namun manusiawi jika ia merasa sedih saat ini. Hamid menoleh, dan melihat cucunya tengah menangis sesegukan. “Dilan, kenapa, Nak?” tanya Hamid, menyentuh pundak sang cucu yang tengah menangis. Hamid tak tega, usia Radilan memang baru 9 tahun, namun perasaan Radilan malah seperti ini. “Kek, kenapa kita tak pulang saja ke Indonesia?” tanya Radilan, dengan mata berbinar. “Nak, kalau kita pulang, bagaimana dengan Tante kamu?” “Tante—“ “Kakek tahu kamu sedih dan merindukan rumah, namun kita tidak boleh egois, Nak, tantemu membutuhkan kita,” kata Hamid, memeluk cuc

