Sama

1661 Kata
Pagi ini Rafindra kembali ke sebuah makam yang selalu dia kunjungi. Di batu nisan itu tertulis nama Bunga Aurelia Evelyn. Mendiang istrinya sekaligus cinta pertamanya. Wanita pertama yang berhasil membuat hatinya terbuka. Wanita pertama yang berhasil memberikan cinta untuknya. Wanita itu tetap berada di hati Rafindra walau sudah sepuluh tahun berlalu. Semenjak Aurel meninggal, Rafi menjadi sosok yang diam, cuek dan dingin. Bahkan lelaki itu menunjukkan ekpresinya dengan marah. Dia di kenal sebagai CEO menyebalkan. Semua karyawan di kantornya bahkan takut untuk menatapnya. Awalnya dia tidak begitu. Rafi adalah pria lemah lembut yang selalu ramah pada semuanya. Hingga tragedi yang telah merenggut nyawa istrinya, Aurel. Wanita itu meninggal karena terjatuh dari lantai sepuluh gedung perusahaan Rafi. Karena kejadian itu, Rafi bahkan sampai memindahkan perusahaannya ke gedung lain . Setiap kali menginjak gedung itu, dia akan merasa bersalah karena kelalaiannya, wanita yang dia cintai telah meninggal. Rafi menganggap dirinya bersalah sepanjang hari. Rafi keluar dari area pemakaman. Di depan sudah ada yang menyambutnya. Di belakangnya berdiri seorang lelaki sambil memegang tasnya. Dialah sekretaris utamanya. Namanya Prayoga. Rafi biasa memanggilnya Yoga. Rafindra adalah sosok sempurna. Lelaki kaya dan tampan dengan tubuh tegap dan kekar. Tidak ada yang aneh dari lelaki itu kecuali dirinya yang di kelilingi oleh lelaki di sekitarnya. Rafi sengaja memilih sekretaris dan asisten laki-laki. Karena sebelumnya dia sudah mempekerjakan sekretaris perempuan. Semua wanita di sekelilingnya hanya berusaha mendekati dan merayunya. Sebagian orang menganggap dia bukan pria normal. Bahkan desas-desus mengatakan kalau dia adalah Gay. Dan yang lebih parahnya, semua mengira kalau Yoga adalah kekasih Gay-nya. Padahal mereka tidak tahu kalau Yoga sudah bertunangan. "Pak Rafi, siang nanti ada meeting di kantor. Mengenai proyek baru yang akan di laksanakan." Kata Yoga. "Baik, atur pertemuannya di ruang rapat. Sekarang kita berangkat ke kantor." Kata Rafi Hari ini sudah tepat sepuluh tahun meninggalnya Aurel. Jika Aurel wanita pertama yang memberikan cinta, dia pulalah yang pertama menoreh luka. Meninggalkan Rafi yang sedang cinta-cinta nya kepada wanita itu. Tak terasa air mata Rafi menetes. Yoga dapat mengerti bagaimana perasaan bos-nya itu. Keadaan jalanan yang macet total menambah masalah. Rafi menatap ke luar jendela dan mengamati jalanan yang macet parah. Bahkan mobilnya tidak bergerak sedikitpun. Rafi memperhatikan seorang gadis yang berseragam SMA sedang berlari dan terengah-engah. Merasa penasaran Rafi membuka kaca jendela mobilnya. Rafi terus saja memperhatikan gadis itu. Gadis itu membawa sekantong makanan dan di berikan pada anak-anak jalanan. Karena sangat tertarik, Rafi kemudian turun dari mobil. Dan meminta agar tidak ada yang mengikutinya. Rafi berdiri sambil terus menatap gadis itu. Dia mulai mencuri dengar apa yang gadis itu bicarakan dengan anak-anak jalanan itu. "Terima kasih mbak Gadis." Ucap salah satu anak jalanan tersebut. "Sama-sama. Doakan papa aku ya? Hari ini dia ulang tahun. Doakan agar dia sehat dan panjang umur." Kata Gadis. Mendengar itu Rafi kembali mengingat sesuatu yang pernah di lakukan Aurel saat hidup. "Kamu mau kemana, rel?" Tanya Rafi. Gadis itu terus berlari dan menarik tangan Rafi. Aurel menghampiri para anak-anak jalanan dan membagi-bagikan makanan. "Hari ini ayahku ulang tahun. Doakan dia agar sehat dan panjang umur." Kata Aurel. Apa yang di lakukan dan di ucapkan Gadis sama dengan apa yang di lakukan Aurel. Rafi terus menghampiri Gadis hingga niat itu batal karena seorang pria datang. "Kamu lagi, kamu lagi. Kamu kesini hanya untuk mempengaruhi anak-anak ini kan? Agar mereka lari dariku dan berhenti mengemis kan?" Pria brewok dengan jaket denim itu mulai marah dan menghampiri Gadis. "Enggak, bang. Aku cuma kasih makanan aja." Jawab Gadis. "Jangan bohong kamu. Ini bukan yang pertama. Kamu sudah sering menghampiri anak-anak." Kata si pria. Gadis yang keras kepala itu mulai kesal dan marah. "Emangnya salah kalau gue ngasih makan ke mereka. Gue bukan loe yang bersikap kasar dan gak kasih mereka makan." Kata Gadis. Mendengar ucapan Gadis, preman itu marah dan hendak memukulnya. Sebelum tangan itu menyentuh pipi Gadis, Rafi segera menghadangnya. "Jangan kasar. Dia masih anak-anak." Kata Rafi ikut campur. "Loe siapa berani ikut campur, hah?" Preman itu ingin memukul Rafi tapi lagi-lagi gagal dan kini malah Rafi yang memukul preman itu balik. Melihat ada keributan, Beberapa preman lainnya menghampiri keributan yang terjadi. Melihat banyak preman lain yang datang, Rafi hanya diam dan membeku. Rafi menoleh pada body guard nya di mobil. Dan memberi isyarat agar mereka tidak ikut campur. Tiba-tiba Gadis menarik tangan Rafi dan mengajaknya berlari. "Ayo, lari Om." Kata Gadis. Gadis dan Rafi berlari di trotoar. Ketika berlari bersama Gadis, Rafi kembali mengingat saat-saat bersama Aurel. Gadis sama dengan Aurel. Hanya mereka berdua yang bisa membuat Rafindra berlari. Saat merasa preman-preman itu tidak mengejar lagi, Gadis berhenti. Rafi sampai geleng-geleng kepala melihatnya. Nafas keduanya kini terengah-engah. Gadis berhenti tepat di depan tukang es. Dia membeli dua gelas teh poci dan memberikan satu untuk Rafi. "Ini buat, om. Pasti haus kan habis lari?" Kata Gadis. Perasaan itu kini kembali hadir. Kenangan itu kembali berputar di otak Rafi. "Ini es buat Loe. Minum aja. Tadi kita habis lari. Loe pasti capek." Kata Aurel. Rafi agak sedikit risih tapi dia mengambil es pemberian Aurel dan meminumnya. "Wah, keren. Orang kaya minum teh poci pinggir jalan." Ucap Aurel tersenyum. "Om, mau apa gak? Gak mau ya?" Ucapan Gadis membuat Rafi tersadar dari lamunannya. Rafi mengambil es pemberian dari Gadis dan meminumnya. Kini keduanya sudah duduk di kursi pinggir jalan. "Makasih, om. Sudah bantu aku." Kata Gadis. Rafi hanya tersenyum. Dan orang-orang yang berada di mobil sedari tadi melihat kejadian itu. Mereka mengikuti bos nya itu dari belakang. Mereka cukup kaget karena untuk pertama kalinya bos nya itu tersenyum. "Kalau begitu aku pergi dulu, Om. Sekali lagi terima kasih." Kata Gadis lalu tersenyum. Melihat senyum Gadis, jantung Rafi berdebar. Sama seperti saat dia bersama Aurel. Rafi terpaku sampai-sampai tidak menyadari kalau Aurel masuk ke gedung kantornya. Rafi kembali ke mobil dan masih memikirkan tentang Gadis. Rafi sudah terlanjur penasaran tentang gadis itu. Rafi masuk ke dalam kantor dan terkejut kembali saat melihat Gadis sedang bersitegang dengan seseorang di dekat Lift. "Saya tahu kalau papa saya ini cuma OB disini. Tapi jangan perlakukan dia kayak sampah. Dia tetap menjadi Ayah seseorang. Dan anak itu akan selalu membela papanya." Kata Gadis "Sudah, nak. Jangan begitu. Papa gak kenapa-kenapa kok." Jawab pak Purnomo, papa Gadis. "Papa, Gadis tadi lihat kalau bapak ini melempar sapu ini ke arah papa. Untung saja Gadis datang. Kalau enggak, Gadis gak akan pernah tahu kalau papanya bekerja di tempat yang di penuhi orang-orang sampah kayak dia." Kata Gadis berani. " Kamu berani sekali. Dasar kurang ajar kamu." Ucap lelaki yang bernama Sucipto. Dia adalah salah satu manager di kantor itu. "Maafkan anak saya, pak. Dia masih kecil. Saya yang salah sehingga membuat bapak marah." Kata pak Purnomo. "Saya bisa saja memecat kamu sekarang juga. Anak sama bapak sama aja." Kata Sucipto. "Maaf, pak. Saya minta maaf. Tapi jangan pecat saya." Kata pak Purnomo. "Papa..!!" Kata Gadis. "Cukup Gadis. Ayo minta maaf. Jangan sampai karena ini papa kehilangan pekerjaan." Kata pak Purnomo. Melihat tingkah Gadis, menjadi tontonan yang menarik untuk Rafi, bahkan dia sudah tidak peduli dengan rapat yang akan dia lakukan saat ini. Pak Purnomo bersimpuh dan berlutut di depan pak Sucipto. "Papa, jangan begitu. Ayo berdiri. Papa gak salah." Kata Gadis. Lelaki tua itu tak menggubris anaknya. Dia terus saja bersimpuh. Tiba-tiba hati Gadis terenyuh. Dia paling tidak tega jika melihat papa kesayangannya seperti itu. "Ayo pa. Berdiri. Gadis yang akan minta maaf. Kalau memang menurut papa pekerjaan ini lebih penting." Kata Gadis. Gadis lalu berlutut dan menggantikan papanya untuk meminta maaf. "Maafkan saya pak. Saya yang gak sopan. Saya yang salah. Tolong jangan pecat papa saya." Kata Gadis. Bulir air mata jatuh membasahi pipi gadis itu. Melihat itu Rafi menjadi tidak tega. Lagi-lagi gadis mengingatkannya pada Aurel. "Maafkan saya pak. Saya yang salah. Jangan sakiti ibu saya. Saya janji akan meninggalkan Rafi." Kata Aurel. Rafi memejamkan mata dan mulai mengingat kembali kenangan-kenangan itu. Dia lalu menghampiri keributan itu. "Ini sudah jam kerja. Cepat kembali." Kata Rafi. Gadis lalu berdiri tanpa melihat siapa yang bicara. "Baik, pak." Kata Sucipto. Gadis tidak menatap Rafi dan malah melewatinya. Pak Purnomo mengajak Gadis ke pantry. Rafi masih mengikuti Gadis dan memperhatikan aktifitasnya. Gadis mengambil satu donat dari tasnya. Menaruh sebuah lilin dan menghidupkannya. "Happy birthday to you. Happy birth day to you. Happy birthday... Happy birthday. Happy birthday papa..." Kata Gadis. Pak Purnomo terharu dan meneteskan air mata. Kemudian dia meniup lilin itu dan memeluk putrinya. Rafi juga terhanyut saat itu. Rafi lalu bergegas ke ruang rapat. Pikirannya tidak fokus saat itu. Jadi Rafi mempercepat rapat yang dia adakan. Rafi kembali ke Pantry dan mencari keberadaan Gadis. Tapi sepertinya dia telah kembali pulang. Rafi memerintahkan Yoga untuk mencari tahu latar belakang Gadis. "Tugas kamu mencari tahu latar belakang anak OB itu." Kata Rafi "Baik, Bos." Kata Yoga. Yoga langsung bergegas dan mencari tahu semuanya. Tak butuh waktu lama untuk mencari tahu latar belakang Gadis. Karena pak Purnomo sekarang menjadi karyawan di perusahaan. "Saya sudah dapat informasinya, Bos." Kata Yoga. "Jelaskan padaku." Kata Rafi. "Gadis adalah anak terakhir dari dua bersaudara. Dia punya kakak laki-laki. Pak Purnomo bekerja disini baru sebulan. Itu juga karena rekomendasi pak Syamsul. Sebelum disini dia punya bisnis restoran yang cukup sukses. Namun karena anak lelakinya yang punya banyak hutang, dia bangkrut dan menjual restorannya. Itulah kenapa dia sampai bekerja jadi OB di sini. Gadis masih kelas tiga SMA. Sebentar lagi dia akan Lulus. Dia siswa yang pintar dan cukup populer. Tapi, dia sudah punya pacar. Namanya Randy." Jelas Yoga panjang lebar. "Baiklah. Kamu cari kekurangan anak yang bernama Randy itu. Aku mau tahu latar belakangnya juga." Kata Rafi "Baik, Bos." Kata Yoga. Bayang-bayang Gadis kini berputar di pikirannya. Membayangkan sosok gadis itu membuat jantung Rafi berdebar-debar. Sama saat dulu dia jatuh cinta pada Aurel. Menjalin cinta tak di restui selama lima tahun bersama Aurel tidaklah mudah. Rafi membuktikan kalau Aurel adalah wanita terbaik untuknya. Sampai kedua orang tua Rafi merestui hubungan mereka. Saat berusia 24 tahun, Rafi baru menikahi Aurel. Sayangnya manis pernikahan itu sirna karena kecelakaan yang membuat Aurel kehilangan nyawanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN