Dekat Tapi Jauh (3)

1740 Kata
"Van, lo kenapa? Kok bisa mendadak sakit kayak gini?" seru Zizi panik sambil melihat keadaan Vanya yang sudah berbaring diranjang UKS. "gak tau Zi, abis makan di kantin perut gue mendadak melilit gini." Jawab Vanya dengan lemas karena menahan rasa sakit. "emang di kantin lo makan apa? Gue rasa kalo cuma donat gak bakalan bikin lo kayak gini." Tanya Zizi. "gue tadi makan bakso dan kayaknya gara-gara kebanyakan cabenya." Jelas Vanya. "ya ampun Vanya.. lo kan gak boleh makan makanan yang terlalu pedas, inget lambung lo." Tegur Zizi. "iya Zi, gue khilaf." "ah lo, khilaf gak kira-kira. Ya udah mending lo tiduran aja, atau lo mau teh anget? Ntar gue beliin di kantin." "gak usah Zi, gue mau tiduran aja." Seru Vanya. "ya udah kalo gitu biar gue temenin lo ya, biar ntar kalo ada apa-apa gue bisa langsung siap siaga hehe." "gak usah Zi, mendingan lo masuk kelas aja. Bentar lagi bu Salmah pasti masuk, gue gak apa kok sendirian. Lagian lo jangan doain ada apa-apa dong, doa itu biar gue cepet sembuh." "iya neng cantik. Tapi beneran nih lo gak apa kalau gue tinggal?" Tanya Zizi yang masih belum yakin untuk meninggalkan Vanya. "iya yakin non. Udah balik ke kelas sana. Tolong izinin gue aja ya." Seru Vanya yang sudah mulai sedikit tersenyum. "ya udah kalo gitu, cepet sembuh ya Van. Ntar pas bel pulang sekolah gue langsung jemput lo kesini." Zizi pun pergi meninggalkan Vanya. Sesampainya ia didalam ruang kelas, Zizi langsung duduk dikursinya dan tentu saja Zizi akan duduk sendiri pada jam pelajaran matematika nanti karena tidak ada Vanya. Namun hal itu belum sempat terjadi karena begitu mendapati Zizi yang sedang duduk sendirian, menarik perhatian Alka untuk mendekati gadis itu. "Vanya kemana Zi?" Tanya Alka sambil menduduki kursi yang ada disebelah kanan Zizi. "Vanya di UKS, dia sakit." Jawab Zizi. "sakit? Perasaan tadi sehat-sehat aja." Seru Alka kembali. "iya, gara-gara kebanyakan makan cabe. Dia kan gak bisa makan makanan yang terlalu pedas." Jelas Zizi. "emm, ya udah cepet sembuh aja buat dia. Kalo gitu gak apa kan kalo gue hari ini gantiin Vanya?" Tanya Alka. "gantiin Vanya? Maksudnya?" Tanya Zizi bingung. "duduk disini." Jawab Alka singkat. "iya silahkan aja, daripada lo duduk sendiri dipojok pula." Jawab Zizi sambil tertawa. Karena merasa bahwa Zizi tidak keberatan jika ia duduk disampingnya menggantikan Vanya. Alka pun langsung mengambil tasnya dan memindahkannya dibangku sebelah Zizi. Semua siswa mengikuti mata pelajaran matematika dengan semangat. Namun tiba-tiba Alka merasakan sakit pada bagian giginya, sehingga membuat ia menjadi banyak diam dan sesekali memegangi pipi sebelah kanannya. Melihat Alka saat itu lebih banyak diam membuat Zizi penasaran dan mendorongnya untuk menanyakan sebabnya. "lo kenapa Al? Kok dari tadi diem melulu. Lo sakit juga ya?" Tanya Zizi penasaran. Namun tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Alka, ia hanya menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Zizi. "kalo lo gak sakit terus kenapa dari tadi lo pegangin pipi kanan lo terus?" Zizi kembali bertanya. "sakit gigi." Jawab Alka singkat. "ooo..gigi toh, kirain lo lagi diet ngomong hihhi." Ledek Zizi sambil tertawa kecil. Alka tidak menghiraukan ledekan dari Zizi, karena ia telah kembali fokus pada materi yang disampaikan oleh bu Salmah. Zizi pun mengikuti Alka, kembali memperhatikan penjelasan bu Salmah. Namun pada menit-menit terakhir bu Salmah menjelaskan, Zizi mulai menemukan titik jenuhnya karena ada sebagian materi yang disampaikan oleh ibu Salmah yang ia tidak mengerti sehingga membuat ia tidak begitu memperhatikan lagi ibu Salmah menyampaikan materinya. Pikiran Zizi pun pergi dari ruangan itu dan terbang melayang-layang entah kemana. Ia kembali teringat tentang pernyataan kedua orang tuanya. Kira-kira mereka seperti apa ya? Mereka sekarang dimana? Apa mereka juga mikirin gue? "eh Zi lo ngelamun ya?" Tanya Alka. Untuk kali ini Zizi tidak begitu terkejut ketika ditegur oleh Alka, tidak seperti saat ia ditegur oleh Vanya. Bagaimana tidak terkejut, Vanya menegur Zizi dengan menggunakan s*****a. Cubitan. "gue lagi bad mood." Jawab Zizi singkat sambil menutup bukunya. Namun Alka kembali membuka buku yang telah ditutup Zizi, memaksa Zizi untuk tetap belajar. "percuma Al, gue gak ngerti lagi. Ntar gue belajar di rumah aja. Bisik Zizi. Tapi sayang, Alka sama sekali tidak menghiraukan pernyataan Zizi, ia tetap memaksa Zizi untuk belajar hingga ia sendiri yang akhirnya turun tangan untuk memberikan pencerahan pada Zizi. wah pencerahan, kayak apa aja. Alka mengajari bagian-bagian yang tidak dimengerti oleh Zizi walaupun hanya dengan isyarat tangan yang dilakukan Alka karena Alka masih menjaga diamnya karena sakit gigi yang tengah ia derita. "udah deh Al, bu Salmah yang ngejelasin pake mulut dan tangan aja gue gak ngerti, apa lagi lo yang cuma pake isyarat tangan." Gerutu Zizi pada Alka yang menurutnya agak sedikit memaksanya. "ya udah sekarang kamu perhatiin aku ya.. nih variabel yang ini kita eliminasikan terlebih dahulu terus..." Alka menjelaskan semuanya berharap Zizi akan mengerti. Melihat apa yang dilakukan oleh Alka saat itu membuat Zizi tertegun, Alka bela-belain mengajarinya padahal ia sedang sakit gigi. Zizi tidak ingin mengecewakan Alka, dengan semangatnya Zizi menjawab. "iya gue ngerti Al, makasih ya." Seru Zizi. Mendengar Zizi menjawab dengan penuh semangat hingga membuat seisi ruangan itu mendengar seruan Zizi, Alka langsung memutar pandangannya kedepan sambil sedikit memijat-mijat bagian kepalanya karena kekonyolan yang Zizi lakukan. "Zizi.. bu Salmah menegur Zizi. ada apa?" Tanya bu Salmah. Mendengar namanya disebut oleh ibu Salmah membuat Zizi teringat akan kejadian dengan ibu Nita. mampus lagi ni kayaknya, kemarin sama Vanya sekarang Alka. He eh. Keluh Zizi dalam hatinya. "gak ada apa-apa kok bu, tadi ada bagian yang Zizi gak ngerti terus Zizi nanya sama Alka bu, tapi sekarang udah ngerti kok bu." Jawab Zizi sambil tersenyum. "oh begitu, yasudah kita lanjutkan lagi ya.." seru ibu Salmah. Alka hanya tersenyum tipis melihat Zizi yang hampir pasrah karena takut mendapat hukuman membersihkan toilet lagi. Teet...teet...teet... Bel pulang sekolah telah berbunyi. Sebelum mereka pulang, Yogi ketua kelas mereka mengumumkan bahwa setelah pulang dari sekolah mereka mempunyai rencana untuk pergi berkunjung ke rumah Ms. Janet guru yang mengajar mereka pada mata pelajaran bahasa Inggris. Karena Ms. Janet baru saja melahirkan putra pertamanya. Yogi menawarkan kepada mereka siapa saja yang ingin ikut pergi ke rumah Ms. janet karena hal itu bukan merupakan kewajiban. Namun ternyata, tidak satupun dari mereka yang menolak untuk ikut. Sesampainya di rumah Ms. Janet mereka mendapat sambutan yang sangat baik dari Ms. Janet dan keluarga. wah, kebayang gak sih mereka datang satu kelas. Untung saja rumah Ms. Janet cukup besar untuk menampung dua puluh Sembilan orang siswa-siswanya. "wah adik kecilnya lucu banget." Seru Tata. "iya miss, namanya siapa nih si ganteng." Tanya Vanya. "Reza Wijaya." Jawab Ms. Janet sambil tersenyum. "wah, nama yang bagus, seganteng orangnya." Puji Tata. Rumah Ms. Janet ramai dengan canda tawa mereka. Bagaimana tidak, rumahnya dipenuhi oleh siswa satu kelas untung tidak satu sekolah. Karena didalam rumah Ms. Janet terlalu ramai, Zizi, Pita, Eva, Jerry, dan Indra memilih untuk duduk diayunan yang ada dihalaman rumah Ms. Janet. "gue mau duduk disini ah." Seru Alka yang tiba-tiba datang dan langsung duduk disebelah kanan Zizi. "kok lo duduk disini sih?" Tanya Zizi bingung. "tempat yang tersisa ya cuma disini. Kalo gak boleh ya udah gue bakal pergi." Jawab Alka yang sudah hampir berdiri namun terhenti karena Zizi menarik baju Alka. "eh gak usah. Gue cuma sedikit bingung tadi." Zizi mencoba menghalangi Alka agar ia tidak pergi dari tempat duduknya. "udah gak usah ribut, mending ayun lagi." Seru Indra. Tanpa mereka sadari, Hesti mengabadikan moment itu dengan menjepret mereka dalam sebuah foto. Yang membuat foto itu menjadi lebih heboh karena difoto itu terlihat Zizi seperti sedang memeluk Alka, padahal saat itu kejadian dimana Zizi sedang menarik bajunya Alka. Ketika Zizi sibuk mengejar Hesti agar ia dapat menghapus foto itu dari ponselnya Hesti, tiba-tiba Hesti menghentikan Zizi dengan memberi pokok pembahasan baru berharap Zizi akan melupakan tentang foto itu. "Zi, coba liat jari Alka deh." Seru Hesti sambil menghentikan Zizi yang sejak tadi mencoba merebut ponsel dari tangannya. "emang dijari Alka ada apaan? Lo gak usah ngalihin perhatian deh. Gak ngaruh." Seru Zizi tidak memperdulikan apa yang dikatakan Hesti. "gue serius tau, liat deh. Itu cincin yang dipake oleh Alka. Kok kayak sama dengan yang biasa lo pake?" Tanya Hesti bingung sambil memperhatikan jari Alka begitu dalam. "masak sih? Zizi pun mulai tertarik dan ikut memperhatikan juga. oh iya ya. Sama persis malahan Hes." Seru Zizi beberapa saat kemudian. "cincin lo sekarang mana?" Tanya Hesti. "gak tau hehe.." seru Zizi sambil tersengir. "nah, kali aja tuh cincin lo Zi. Lagian dia aneh, cowok pake cincin. Biasanya kan kalo cowok itu pake cincin berarti itu tandanya udah ada ikatan sama siapa gitu." Tuduh Hesti. "hust. Gak boleh ngomong kayak gitu, mungkin aja itu beneran cincin dia. Punya gue mungkin nyelip dikamar gue kali. Lagian cincin putih polos kayak gitu netral kali Hes, siapa aja bisa pake. Jelas Zizi. kita tanya aja ya. Zizi mulai mendekati Alka dan menanyakan tentang cincin yang sedang dipakai oleh Alka. Al, gue boleh nanya gak? tegur Zizi. "iya boleh, lo mau nanya apa?" Tanya Alka. "eh Al, itu cincin lo ya? Nemu dimana? tanpa basa-basi Hesti langsung bertanya pada Alka. "nemu. Sembarangan aja lo. Gue beli tau. Jawab Alka. "tapi cincin itu sama persis kayak punyanya Zizi. nah, punya Zizi hilang." Jelas Hesti. "wah gak bener nih, masak lo nuduh gue nyolong sih? Emang bener sama Zi?" Tanya Alka pada Zizi. "iya sama, sama banget malah. Tapi kita gak nuduh lo kok, cincin gue memang hilang tapi di rumah." "Masak iya lo yang nemuin." Jelas Zizi. "tuh Hes lo denger sendiri kan. Yang punya aja bilang hilang di rumah." Alka tersenyum simpul pada mereka. "iya, sory deh Al, gue cuma becanda kok. Tapi kok bisa ya kebetulan sama persis kayak gini." Seru Hesti yang kebingungan. "takdir kali." ucap Zizi pelan sambil tersenyum. "lo bilang apa tadi?" Tanya Alka dan Hesti serempak. "kayak denger apa aja pake acara kompakan segala. Gue tadi cuma bilang kebetulan kali. Gitu aja kok." Jelas Zizi. Sejak saat itu, Alka dan Zizi selalu saja menjadi pusat perhatian teman-temannya dan menjadi bahan ledekan, semua teman satu kelas mereka mengira bahwa mereka berdua mempunyai hubungan yang spesial. Karena setelah peristiwa di rumah Ms. Janet, ketika pulang ke rumah Zizi langsung mengobrak-abrik kamarnya mencari benda kecilnya yang sempat hilang. Sampai akhirnya ia kembali menemukan benda kecilnya itu. Cincin. Cincin itu ternyata jatuh kebawah ranjang tempat tidurnya. Mendapati cincinnya sudah ia temukan kembali, ia tidak sabar menunggu hari esok karena ia ingin segera memperlihatkan cincinnya itu pada Alka. Berita mereka memiliki cincin yang bentuknya sama semakin memperkuat argument teman-teman mereka.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN