Tangan itu masih saja menggenggam tanganku dengan erat. Masker oksigen menutupi bibir mungilku, dengan kain perban putih yang membalut sekitar leherku. Suara ambulan dan juga mobil polisi terdengar berdampingan. Ya, seorang pemuda menelfon polisi dan ambulan saat melihat keadaanku dan juga Bastian. Tentu saja ambulan itu tidak hanya datang untukku dan Bastian, tapi juga datang untuk belasan pereman yang babak belur dan tak sadarkan diri di tangan Bastian itu. Tes.... Tes.... Tes... Air mata itu terus berjatuhan dari mata Bastian. Dia masih saja menangis layaknya anak kecil yang kehilangan robot kesayangannya. Seolah ingin robot itu kembali kepadanya dalam keadaan seperti semula. Tubuhnya terbaring lemas di atas pembaringan kasur ambulan itu. Tidak tidak, dia tidak terbaring di sampingk

