Bandung, November 2016.
“ Bastian!!!. Lama banget sih. Ayo dong nanti kita telat nih.”
Sudah pukul 07.15 namun Bastian belum juga keluar dari rumahnya. Apakah dia masih sakit?. Padahal katanya kemarin dia sudah sehat dan mau ke sekolah hari ini. Tapi kenapa dia lama banget sih. Ah, dasar Bastian. Sudahlah, kuputuskan untuk kerumahnya saja. Aku pun berjalan ke rumah Bastian, maksudku ke dalam rumahnya. Ya karena dari tadi aku sudah berada di depan gerbang rumahnya.
“ Bas, kamu lagi ngapain Bas?. Bastian....” Panggilku.
“ Ih anaknya kemana sih. Nyebelin banget. Untung aja aku suka”
Aku berjalan ke arah kamarnya. Memastikan kalau dia tak berbaring menggigil lagi seperti kala itu. Dan aku kembali di kejutkan saat kubuka pintu kamarnya itu. Bukan karena dia berbaring menggigil lagi. Tapi karena kulihat dia yang sedang tidak memakai atasan. Dia masih dalam keadaan hanya memakai celana sekolahnya saja. Dia belum memakai atasannya. Saat itu dia tengah memakai deodoran. Dan kalian tau apa? Otot lengannya dan perut abs nya itu benar-benar menawan dan sempurna!!!.
“ Whoahhhhhh!!!!!. Otot kamu gede juga ya bas. Gila perut kamu sixpack banget Bas” Seruku padanya.
Bukannya teriak layaknya perempuan pada umumnya, aku malah memuji dan terkagum dengan bentuk badan Bastian yang selama ini di sembunyikan oleh bajunya itu. Ya tentu saja malah Bastian yang terkejut kala itu karena melihatku yang tiba-tiba berada di kamarnya, dan menikmati keindahan tubuhnya itu.
“Yo Raaaa!!!. Kamu ngapain disitu astaga Ra!!!. Keluar sana keluar. Gila kamu ya!!!” Jerit Bastian.
Bastian memarahiku dan melempariku dengan bajunya yang ada di gantungan lemarinya. Tentu saja aku terkejut. Namun, di luar kamar aku malah tertawa terbahak-bahak. Apakah Bastian tadi sedang malu karena tubuhnya ku lihat? Ah, ternyata dia sangat pemalu. Kalau dia ikut denganku ke Korea, disana hal biasa untuk melihat otot dan abs laki-laki. Di drama Korea juga ada banyak. Ah ternyata anak dingin ini pemalu. Hahahahah.
“ Eh, pagi-pagi udah dapat rejeki aja. Bas aku minta satu ya, iya Ra ambil aja. Heheheh ” Bisikku sambil mengambil salah satu baju yang di lempar Bastian itu.
Aku bertanya dan menjawab sendiri seolah Bastian mengizinkanku untuk mengambil salah satu bajunya itu. Aku mengambil salah satu jaketnya. Aku langsung memasukkannya kedalam tasku. Hihihi.. maaf ya Bas.
“ Udah ayo berangkat. Lain kali jangan masuk ke rumah orang sembarangan. Apalagi ke kamar orang. Kamar cowo lagi. Gasopan ”
Bastian keluar dari kamarnya dengan muka bete dan memerah karena malu. Dia berjalan keluar rumah dan meninggalkanku seolah tak ingin bertatapan denganku. Aku tersenyum mengikutinya dari belakang.
“ Kalau aku ga nerobos masuk ke kamar kamu, kemaren kamu pasti udah mati karena ga aku bawa ke rumah sakit. Iya kan..” Cibirku santai.
Bastian memberikanku helm dengan kasar. Dia terlihat bete setelah mendengar jawabanku yang tidak pernah mau mengalah dengannya itu.
“ Ni pake helm. Ingat, ga usah pegang-pegang dan gausah ngomong di jalan” Ketusnya padaku
“ Siap pak bos!” Seruku pada Bastian.
“ Bas, boleh tolong kunciin helm aku gak. Ga kelihatan kuncinya dimana” Ujarku pada Bastian.
Aku mencari alasan bodoh untuk menganggunya lagi. Bastian berbalik, beridiri dan menatapku dengan dingin.
“ Gausah b**o deh Ra. Semua orang juga ga ada yang bisa liat kunci helm waktu mereka pake helm sendiri. Aku juga ga keliatan.” Gerutu Bastian.
“ Eh eh bas. Serius ini pasangin. Atau kalau kamu juga ga keliatan sama kuncinya, kamu mau aku pasangin juga gak? Biar saling membantu. Kan beramal, hehehe” Ujarku sambil tertawa kecil.
Tentu saja Bastian bertambah kesal kepadaku. Diapun berjalan mendekatiku. Mengepalkan tangannya seolah ingin meninjuku. Tentu saja aku menjadi takut dan menutup mataku. Namun tiba-tiba, saat aku menutup mataku, aku merasakan tangannya yang tiba-tiba meraih kunci helm di kepalaku. Dia menguncikannya untukku dan segera naik ke atas motornya. Dia melakukan itu dengan sangat cepat.
“Ah dasar Bastian, kenapa ga bilang kalau mau masangin kunci helm aku. Kan aku bisa buka mata terus tatap tatapan sama kamu kaya di film –film.” Tuturku padanya.
Bastian hanya geleng-geleng kepala melihat jawaban bodoh yang selalu saja keluar dari mulutku ini. Akupun naik ke atas motornya. Dan tentu saja aku memgang pinggangnya. Bukan Yo Ra namanya kalau tak berani nekad menentang Bastian. Bastian bisa apa, dia sedang mengendarai motornya. Dia hanya bisa pasrah sepanjang jalan sampai kami tiba di sekolah.
***
Kringgggg..........!!!!!!!
Jam istirahatpun tiba. Bastian langsung keluar kelas untuk pergi mengisi perutnya yang kosong itu. Tentu saja aku langsung mengikutinya dan berjalan di sampingnya.
“ Bas, kan kemaren aku dah nolongin kamu. Udah bawa kamu ke rumah sakit, terus jagain kamu juga 24 jam selama seminggu. Pokoknya kamu harus balas budi ke aku.” Tuturku manja.
Aku merengek pada Bastian layaknya anak kecil yang merengek minta dibelikan ice cream pada ayahnya.
“ Nolong orang kok minta imbalan” Cibir Bastian dengan dingin, dan terus saja berjalan ke arah kantin.
“Ayolah bas. Jadi orang itu harus tau terimakasih.” Balasku.
Merasa benar-benar lapar dan pusing mendengar ocehanku, Bastian langsung mempercepat langkahnya dan duduk di salah satu bangku di kantin itu. Dia memesan bakso kuah dan es teh manis kepada bu kantin.
“ Kamu mau pesan apa?” tanya Bastian padaku.
Bastian menatap kearahku yang masih aja merengut karena dia tak menjawab pertanyaanku.
“ Yaudah bu, itu aja. Temen saya ga makan” kata Bastian kepada ibu kantin.
Bastian yang tadinya berbicara kepada ibu kantin kini beralih menatap layar ponselnya. Sementara aku masih saja sibuk memajukan bibirku dan menatapnya dengan tatapan memohon.
“ Yaudah mau aku ngapain. Beliin makan?” tanya Bastian padaku.
Akhirnya bastian menjawab pertanyaanku yang dari tadi di abaikannya. Walaupun tidak dengan menatap ke arahku, tak apa asal dia mau menuruti permintaanku.
“ Ah ga asik dong kalau cuman dibeliin makanan doang. Aku juga punya duit kalau beli makan. Aku cape tau jagain kamu kaya ibu ibu selama seminggu“ tukasku padanya.
“Yaudah mau apa cepetan. Gausah bebelit.” Balas Bastian dengan kesal.
“Aku mau pulang sekolah bareng kamu. Tiap hari” Seruku padanya.
Bastian yang dari tadi sibuk dengan hp nya kini beralih menatapku.
“ Ya gabisalah Ra. Kan kamu harus latihan band. Egois kalau kamu ninggalin anak-anak band. Kan kamu udah janji ke mereka bakalan ikut festifal musik” Seru Bastian kesal.
“ Ya makanya aku minta ke kamu Bas. Kamu tungguin aku latihan dulu, baru kita pulangnya bareng. Cuman sebentar kok latihannya. Yayayya.” Pintaku padanya.
“ Ya gamau lah. Yakalik aku nungguin kamu sendirian kaya orang b**o. Lagian kan ada si Riski yang anterin kamu pulang kaya biasanya” Ketusnya padaku.
“ Ih bas bentar doang kok. Aku aja mau nungguin kamu di rumah sakit puluhan jam lamanya.” Cibirku padanya.
Bakso bastian akhirnya datang juga. Dia menjawabku sambil sibuk menyantap baksonya itu.
“Aku ga pernah minta kamu nungguin aku. Kan aku udah suruh kamu pulang. Kamunya aja yang mau nunggu.” Tuturnya padaku.
“ Nah itu, kamu ga minta aja aku peka mau nungguin kamu. Masa iya aku udah minta sercara langsung kamunya masih ga peka juga sih bas. Atau mau aku teriak aja nih sekarang biar kamu peka? ” Ujarku sambil bangkit berdiri.
“ Uhuk uhukkk hkk.”
Bastian batuk mendadak mendengar jawabanku. Dia meneguk es teh manisnya.
“Dih apaan. Gila kamu ya. Jangan jangan. Malu-maluin aja. Lagian kenapa ga sama Riski aja sih. Ribet tau gak. Duduk ga!” Ujar Bastian dengan nada kesal.
Aku kembali duduk dengan kesal.
“ Ih Bas, semenjak diantar pulang sama Riski, anak-anak di sekolah gosipinnya aku suka sama Riski., Padahal kan aku sukanya sama kamu.” Ujarku kesal.
“ Bener bener gila ya kamu Ra. Tolonglah jangan suka sama aku. Aku kan udah bilang ke kamu. Apa perlu aku pacaran dulu sama cewe lain biar kamu tau kalau aku ga suka sama kamu?” Ujar Bastian padaku.
“Jahat banget sih ngomongnya. Ya janganlah. Emang kamu mau liat aku gantung diri karena kamu pacaran sama orang lain?” Tanyaku padanya.
“ Dasar gila kamu. Yaudah iya, tapi ga lama ya. Kalau lama aku pulang deluan” Ujar Bastian mengalah.
“Serius kamu mau Bas? Ah, makasih Bas. Seneng banget deh aku” Seruku padanya.
Bastian geleng-geleng kepala sambil berjalan meninggalkanku. Tentu saja aku mengikutinya.
Bandung, November 2016
Wajar saja bila aku menggila, yang kusukai pun adalah pria gila juga. Gila karena tidak peka meskipun sudah bertahun tahun aku mencintainya.