Setelah mengantar makanan ke rumah sakit dan meninggalkan Dara tertidur, Adnan kembali ke rumahnya larut malam. Ia mendapati Ayahnya, sang Kepala Desa, sedang duduk di ruang tamu, membaca koran dengan kacamata bertengger di hidungnya. "Duduk, Nan," sapa Ayah, nadanya tenang, tetapi Adnan tahu ada sesuatu yang serius. Adnan duduk, merasakan ketegangan di udara. Ia tahu apa yang akan dibahas. Seluruh desa telah melihatnya berlarian dengan Junior Partner dari Jakarta itu selama dua bulan terakhir—di balai desa, di bawah pohon beringin, dan sekarang di rumah sakit. "Bagaimana kabar Pak Rahmat?" tanya Ayah, memulai dengan basa-basi yang sopan. "Kritis, Yah. Tapi stabil. Dara dan Ibunya sangat lelah." Ayah melipat korannya dan menatap Adnan lurus-lurus. "Kerja bagus, Nan. Kamu sudah banyak

