Yang Udah Usai

1220 Kata
Setelah salat Asar, aku berlanjut membaca Al-Quran walaupun hanya satu lembar. Sudah 3 hari kiranya aku gak mengaji. Sungguh aku masih tertatih-tatih untuk selalu konsisten. Habis itu bersiap-siap memakai make-up tipis-tipis dan terakhir pakai jilbab. Aku keluar kamar menuruni anak tangga. Aku berjalan ke arah dapur untuk mengisi air pada tambler ungu kesayanganku. Kulihat ibu lagi memindahkan rendang buatannya ke dalam piring. Wangi sekali. “Ibu,” sapaku. “Eh teteh cantik, udah mau berangkat aja. Makan dulu, nih udah matang.” Ucap ibu sambil menyimpan rendang yang dia bawa ke meja makan. “Belum lapar sih bu, tapi bekel aja deh bu.” Soalnya tadi siang pas udah beli ponsel baru, aku dan ibu makan di luar. Ibu hanya mengangguk. Akupun mencari tempat bekal di lemari, ada banyak pilihan tapi semua warnanya sama, warna ungu. Segera aku memasukkan rendang dan nasi secukupnya. “Mau sama kerupuknya?” tanya ibu. “Boleh Bu.” “Teh, mau Ibu antar aja ke kliniknya? Sekalian nanti Ibu yang jemput lagi.” Pinta Ibu, aku menyadari kekhawatian dia pada putri bungsunya yang minggu lalu masuk rumah sakit karena tipes. “Gak usah, aman kok bu. Ibu gak usah banyak pikiran ya, aku insya Allah baik-baik aja ya. Doain aja. Udah ya bu, aku pamit.” Aku salim ke ibu. “Hati-hati ya sayang, hubungi Ibu kalo udah di sana.” Ibu kemudian memeluk erat tubuh munggilku. “Iya bu, assalamualaikum. “Waalaikumsalam.” Aku berjalan ke luar rumah dengan menenteng bekal berisi rendang. Hanya membutuhkan waktu setengah jam, aku pun tiba di Klinik Amerta tempat aku bekerja. Sebagai lulusan S1 keperawatan aku ditugaskan di bagian administrasi. Aku ditempatkan di lantai satu yang khusus poli gigi sedangkan di lantai kedua yaitu poli penyakit dalam. Setelah memarkirkan mobil, aku berjalan menuju klinik. Aku mendengar gelak tawa dari arah ruangan dokter gigi. Siapa lagi kalo bukan Teh Rara, seorang perawat yang aku kenal. Aku pun masuk ke ruangan tersebut. “Narel, kamu udah sembuh? Tadinya teteh sama yang lainnya mau menjenguk.” “Udah teh, alhamdulillah.” Aku lekas duduk di dekat Teh Rara. Di ruangan itu hanya ada Teh Rara dan mahasiswa yang sedang magang bernama Agus. Rupanya Dokter Khairi belum datang, beliau merupakan dokter gigi senior di klinik ini. “Syukurlah, bentar ya teteh ke toilet dulu.” Kata Teh Rara, dia bangkit dari tempat duduknya meninggalkan kami berdua. “Gus, tumben Dokter Khairi belum datang ya?” Tanyaku memecahkan keheningan. “Ouh iya, dokternya udah ganti teh, udah semingguan.” “Ganti?” “Iya teh, soalnya Dokter Khairi udah pindah ke Jakarta teh.” Jawab Agus sambil membereskan peralatan gigi. “Wah aku baru tahu Gus.” Sayang sekali aku gak berpamitan dengan Dokter Khairi, beliau dokter yang sangat baik, hangat, suka bercanda, di klinik beliau sudah seperti ayah kami. Selama sakit aku gak sempat lihat ponsel, jadinya ketinggalan info sekaligus nomorku ganti lagi sebab ponsel aku hilang saat di rumah sakit karena kecerobohanku sendiri. Makanya tadi aku beli ponsel yang baru. Pintu pun dibuka, datanglah Pak Emir. Dia merupakan asistennya Dokter Khairi. Dia juga tak kalah baik, dia sudah menikah dan mempunyai 2 orang anak. Aku sangat beruntung bisa dipertemukan dengan orang-orang baik kayak mereka. “Loh Narel, kamu udah sembuh? Tadinya kami mau menjenguk kamu loh.” “Alhamdulilah pak udah sehat kembali. Pak kalo Dokter Khairi ternyata udah gak di sini lagi ya?” “Heem, udah diganti. Nanti kamu bisa kenalan sama dokter baru, dia udah kesini kok. Lagi salat kayaknya.” Kata Pak Emir yang tengah membuka jaketnya. “Emang siapa pak?” Tanyaku penasaran. Belum sempat dijawab, masuklah Teh Rara disusul dengan seorang pria di belakangnya. Kami sama-sama saling bertatap. Dia? Ini beneran kan? A Risyad? A Risyad cinta pertamaku yang sudah jadi mantan. Ya, seperti kata orang cinta pertama selalu gagal. “Panjang umur, ini dia dokter baru kita Narel. Dokter Risyad Ahmad.” Tutur Pak Emir menyambut. “Ah iya, dok perkenalkan ini Narel Amara. Bagian administrasi dan Narel ini Dokter Risyad.” Sambung Teh Rara memperkenalkan dokter gigi yang baru. “Narel?” “Narel?” Teh Rara menepuk bahuku. “Ouh ya, hallo dok.” Sapaku dengan senyum mengembang. Perasaan memang tak bisa dibohongi, aku senang bisa melihatnya lagi. Dokter Risyad hanya mengangguk dan tersenyum tipis. Lihatlah Narel, orang yang dulu kamu cintai sekarang sudah menjadi dokter. Aku turut bahagia bisa melihat A Risyad berhasil menggapai impiannya meskipun aku tidak menemani prosesnya. Aku pun kembali bekerja, memanggil satu persatu pasien, hari ini tidak banyak. Hanya ada 5 orang saja. Sesekali aku kepikiran, kenapa Allah mempertemukan aku dengan A Risyad lagi bahkan kedepannya kita akan lebih sering ketemu. Semua gak ada yang kebetulan bukan. Hubungan kami bahkan udah usai saat masa putih abu. Aku yang memutuskan terlebih dahulu. Aku pikir saat ketemu lagi dengan A Risyad, dia akan bersikap gak suka melihat aku ada di sini, sebab dengan sadar aku yang benar-benar melukai hati dia waktu itu. Namun, hari ini dia tidak memperlihatkan kebencian padaku. Sikap dia ke aku seperti orang yang baru pertama bertemu, seolah tidak mau mengungkit-ngungkit yang dulu. Seolah gak terjadi apa-apa di antara kita. Ya aku pun harus menerimanya. Lagipula itu hanya percintaan masa sekolah. Setelah dewasa gini, apalagi ketika aku pelan-pelan belajar agama aku jadi tidak mau lagi untuk pacaran. Aku hanya pernah pacaran sekali hanya dengan A Risyad, aku lagi berusaha untuk tidak menjalin hubungan dengan siapapun ada hal lain yang harus aku prioritaskan. Namun, perasaan aku ke A Risyad sayangnya masih sama. Aku yang masih mencintai A Risyad. Azan Magrib pun sudah berkumandang, aku menyempatkan dulu salat di mushola yang ada di dalam klinik. Kami sering bergantian untuk salat, karena ukuran musholanya tidak terlalu besar, jadinya ada sebagian orang memilih ke masjid yang jaraknya tidak jauh dari klinik. Tepat pukul tujuh malam, klinik pun tutup. Teh Rara keluar dari ruangan praktek. “Narel ayo pulang.” Ajak Teh Rara. “Iya teh, yang lainnya?” “Masih pada ngobrol, biasalah cowok-cowok.” Aku hanya tersenyum “Mau bareng aku teh? aku hari ini bawa mobil.” “Gak usah, pacar udah nunggu.” “Ouh iya lupa.” Teh Rara emang udah punya pacar, katanya sudah jalan 3 tahun, aku pun mengenalnya. Namanya A Rian, bekerja sebagai dosen. Teh Rara sosok yang terbuka, tak jarang dia curhat masalah hubungannya ke aku. “Yaudah yu, kita bareng aja kedepannya.” Ajak teh Rara. “Bentar teh, mau nyimpan berkas pasien dulu.” Teh Rara mengangguk. Aku kembali memasuki ruangan sekaligus pamitan ke Pak Emir, A Risyad dan Agus “Aku duluan ya” “Iya Narel hati-hati ya.” Jawab Pak Emir. “Iya teh, hati-hati.” Ucap Agus. Hanya mereka berdua yang menjawab sementara A Risyad sekilas melihat ke arah aku dan mengangguk. Aku keluar ruangan dan mengajak Teh Rara. Kami pun berpisah, Teh Rara menuju mobil pacarnya yang udah menunggu sedangkan aku berjalan ke tempat parkir. Belum sempat aku membuka pintu mobil, aku lupa rendang dari ibu belum sempat aku makan dan aku menyimpannya di ruangan praktek gigi. Aku terlalu malas buat kembali lagi ke klinik. Aku putuskan untuk memberikannya ke Agus aja deh. Okey aman sudah aku kirim pesan. Bicara soal rendang, aku jadi teringat lagi dengan A Risyad. Dia sangat menyukai rendang buatan ibu. Ah, apa kisah kita benar-benar sudah usai A Risyad?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN