'Jadilah hujan yang tetesannya selalu jatuh ketika bumi menangis, dan jangan jadi pelangi yang hanya indah namun datangnya hanya sesaat.' * * * Rintik hujan menyapa langit sore mendung yang berawan sedikit gelap, terulur sebuah tangan yang ingin merasakan dingin dan sejuknya air hujan yang membasahi telapak tangan. Ia menengadahkan wajahnya, melihat bertetes-tetes hujan yang turun dari langit. Hingga sebuah suara membuyarkan kesenangannya ketika menikmati hujan. "Ara." "Hmm." "Ara." Akhirnya ia menoleh menatap laki-laki yang tengah duduk disalah satu sofa balkon. "Sini." Laki-laki itu menepuk sofa disampingnya. "Gak mau ah Pak, saya mau lihat hujan." Tolaknya sambil kembali menikmati hujan. "Dosa loh gak ma-.." "Iya deh iya." Ica langsung memotong ucapan Gus Faris karena ia tau

