"Saya punya syarat yang harus kalian penuhi!" Seru Calvin tanpa keraguan sedikit pun. “Jangan main-main, kamu!” Peringat Eliza dengan netra yang membelalak serta jari yang menunjuk tajam pada pemuda dua puluh tahun itu. Sikap wanita itu yang kurang ajar serta nadanya yang meninggi membuat sebagian besar orang yang ada diruangan itu berjengkit kaget. Evelyn bahkan sampai membuang muka karena malu atas sikap ibunya yang bar-bar, sekaligus merasa kasihan pada kakaknya yang diperlakukan semena-mena sekali lagi. “Jaga sikap dan tutur kata anda, nyonya Eliza yang terhormat! Anda butuh saya, bukan saya yang butuh anda!” Tegas Calvin yang tak lagi bisa menahan rasa marah serta kesalnya. “Berani kamu sama saya?” Eliza semakin geram. “Kak, ayo pulang ke Indonesia! Biarin anaknya mati, aku gak p

