Hampir dua jam lamanya proses ujian itu berlangsung. Para dosen telah keluar lebih dulu dan semua yang menunggui pemuda itu segera mendekat kearah pintu. Setelah tak ada lagi orang di dalam ruangan, kecuali Calvin seorang, mereka semua pun merangsek masuk dengan terburu. “Gimana?” Tanya Carina tak sabar. Calvin tersenyum lebar, kedua lengannya terbuka lebar, siap memberikan pelukan pada sang istri. “Berhasil, dong! Lancar, dong! Udah sarjana, dong!” Seru Calvin bertubi-tubi. Ia langsung disambut oleh sorakan selamat serta letupan petasan confetti dari teman-temannya. Carina menghambur ke pelukan pemuda itu seraya memeluknya erat bahkan melompat-lompat kecil kegirangan. Tak lupa wanita itu juga menghadiahi sang suami dengan kecupan singkat di pipi sebagai ungkapan rasa bangga. “Congrat

