Damian melangkah masuk ke ruang rawat dengan langkah yang nyaris tak bersuara. Mesin-mesin medis berdetak pelan, menjadi satu-satunya suara yang mengisi ruangan. Elena masih belum sadar. Wajahnya pucat, nyaris tak berwarna. Tubuh yang terbaring di ranjang itu terlihat begitu rapuh seolah sedikit saja tersentuh, ia bisa hancur. Damian berdiri di sisi ranjang. Lama. Ia hanya menatap, tanpa berani mendekat, seakan takut keberadaannya sendiri akan melukai Elena lagi. Perlahan, tangannya terulur. Ujung jarinya menyentuh pipi Elena yang dingin. “Maaf …” gumamnya nyaris tak terdengar. Hening. “Maafkan aku.” Elena tak bereaksi. Napasnya teratur, matanya tetap terpejam, seolah dunia di luar sana tak lagi ingin ia jamah. Damian menelan ludah. Dadanya terasa sesak. “Kita … kita hampir pun

