Waktu berjalan sangat lama sekali bagi Najma. Seakan-akan waktu sengaja melambat setelah dia tahu jika Ibrahim ternyata memang benar berasal dari desa ini. Jelas Sang Waktu tengah mempermainkannya sekarang.
Detik demi detik dan jam demi jam berlalu, semua terasa lama dan di tengah penantian itu, hari baru yang Najma tunggu akhirnya datang. Najma melirik jam dinding, dan ternyata kali ini dia kembali bangun terlalu pagi.
Najma mencoba untuk kembali memejamkan matanya. Di saat Najma berusaha untuk terlelap lagi dia mendengar suara batuk neneknya. Suara batuk itu terdengar beberapa menitan hingga hening kembali menyapa.
Apa neneknya masih sakit? Najma mendadak menjadi bersalah karena sudah mendoakan neneknya untuk sakit lebih lama agar tidak pergi ke masjid. Jika neneknya sakit terus-terusan, dia juga pasti yang susah. Kemungkinan terburuknya, bibinya juga pasti akan ikut campur.
Niat untuk kembali tidur Najma urungkan. Dia malah penasaran dengan keadaan neneknya sekarang. Hingga tiba waktu di mana neneknya datang untuk membangunkannya, Najma memilih untuk pura-pura tidur. Panggilan dan goyangan pelan di bahunya membuat Najma perlahan membuka matanya.
“Ayo bangun, salat subuh.”
Najma mengangguk. Dia memperhatikan neneknya dengan lebih intens sekarang. Tidak ada yang salah dari neneknya, bahkan neneknya terlihat sama seperti kemarin. Sesaat Najma merasa bersyukur jika neneknya masih terlihat baik-baik saja.
Mandi sebelum subuh adalah kewajiban bagi Najma. Najma merasa jika dia sudah mulai terbiasa untuk bangun sebelum subuh seperti ini. Tapi sampai sekarang, Najma tidak bisa untuk terbiasa mandi dengan air yang kelewat dingin. Jika saja neneknya mau membiarkannya mandi dengan air hangat, hubungan mereka pasti tidak akan seburuk ini.
Perasaan setiap Najma selesai mandi pagi selalu sama, buruk. Saat mandi Najma merasa sangat kedinginan, setelah mandi pun Najma akan merasa kedinginan juga karena angin pagi yang kencang akan menerpanya saat berangkat ke masjid.
“Yuk Nek, berangkat.” Najma sudah siap untuk pergi ke masjid, dengan terpaksa tentu saja.
“Hari ini Nenek tidak pergi ke masjid, kita salat di rumah saja.”
Mendengar itu, Najma senang bukan main. Dia tidak harus kedinginan lagi dan bisa langsung tidur jika sudah selesai salat.
Sepertinya ini adalah hari keberuntungannya, batin Najma.
Hari ini neneknya tidak mengomel, tidak pergi salat ke masjid, bahkan hari ini dia akan tahu di mana rumah Ibrahim. Sungguh hari yang indah bukan? Najma benar-benar sudah tidak sabar untuk pergi ke rumah Ibrahim, membayangkannya saja sudah membuat d**a Najma berdetak dengan lebih kencangnya.
Ketidak sabaran Najma untuk ke rumah Ibrahim membuat Najma tidak bisa tidur lagi setelah salat subuh. Menunggu dan menunggu, Najma mencoba bersabar hingga pada akhirnya dia tidak bisa bersabar lagi. Dia sudah tahu rumah Ibrahim membuka tempat fotokopian dan dekat dengan sekolah Liana, pergi sendiri tentu tidak akan membuatnya tersesat, apalagi di desa kecil seperti ini.
Ketika melihat jam dinding, Najma juga merasa jika ini terlalu kepagian untuk dia pergi. Pukul 9 pagi adalah waktu yang pas, tidak kepagian dan tidak kesiangan. Dan saat hampir jam 9, dengan semangat yang membara Najma mulai bersiap-siap. Dia harus membuat kesan yang baik pada Ibrahim dan pada keluarga Ibrahim yang mungkin saja berjaga di tempat fotokopi.
Masalahnya sekarang Najma harus mencari sesuatu sebagai alasannya, sesuatu yang bisa di fotokopi. Di lemari Najma menemukan lembaran-lembaran buku. Najma tersenyum puas ketika sudah memasukkan satu lembar ke dalam sling bagnya. Langkah terakhir, Najma memakai topi. Sekarang dia sudah siap untuk pergi menuju rumah Ibrahim.
Sebelum berangkat Najma mencari neneknya, dia harus bertanya di mana letak sekolahan Liana. Najma yakin betul jika neneknya pasti tahu di mana letak sekolah Liana. Akan sangat tidak mungkin neneknya yang ingatannya sehat, sampai tidak tahu di mana letak sekolahan cucunya.
“Tidak tahu, Nenek tidak tahu di mana letak sekolahan Liana.”
Senyum Najma sontak saja pudar. Apa neneknya sedang mempermainkannya?
“Enggak mungkin banget Nenek enggak tahu tempat sekolah Liana.” Najma berdecak kesal. Ya Tuhan, ini sangat-sangat tidak mungkin dan tidak masuk akal. Neneknya pasti berbohong.
“Memangnya mau apa kamu ke sana?” tanya Rida.
“Ya mau liat-liat aja, emang enggak boleh?”
Rida yang tengah melipat menghentikan kegiatannya itu. Dia menoleh ke arah Najma. Ini jelas bukan seperti Najma yang kemarin. Bukan Rida tidak senang melihat Najma yang ingin berjalan-jalan sendirian, tapi dia takut Najma akan kesusahan nantinya.
“Liana pulangnya masih lama, kamu perginya pas jam dia pulang saja.”
Najma memicingkan matanya, dari jawaban neneknya ini Najma jadi yakin jika tadi nenek membohonginya jika dia tidak tahu di mana letak sekolahan Liana.
“Kamu yakin mau pergi ke sana?” tanya Rida memastikan.
“Ya yakinlah, kenapa gitu aku enggak yakin.” Apa maksud dari neneknya coba bertanya seperti ini, apa dia tidak boleh ke sekolahan Liana? Ya tujuan Najma juga bukan benar-benar sekolah Liana, tujuannya adalah rumah Ibrahim. Jadi, apapun bentuk sekolahan Liana, Najma tidak peduli itu.
“Ya sudah.” Rida menghela napas pasrah. Mau tidak mau dia akan memberitahu Najma di mana letak sekolahan Liana. Najma juga pasti bosan juga jika hanya di rumah saja.
Najma ingin tersenyum lebar saat neneknya berkata dengan pasrah seperti itu, tapi dia mencoba untuk menahannya agar neneknya tidak merasa curiga dan malah jadi mengurungnya di rumah.
“Dari rumah kamu ke kiri terus lurus sampai di perempatan depan. Di sana kamu belok kiri abis itu enggak jauh dari sana di sebelah kanan itu sekolahnya.”
Najma mengangguk mengerti. Ternyata segampang itu menghapal jalan di mana tempat Liana sekolah. Dari tempatnya menunggu angdes dia hanya perlu ke kiri. Najma tidak perlu takut tersesat kalau begini.
“Ini uang jajan.”
Selembar uang lima ribu rupiah tersodor. Najma menatap uang itu dengan pandangan tak percaya. Padahal baru saja berniat untuk minta pada neneknya, tapi siapa yang menyangka jika neneknya malah memberikannya tanpa di minta.
Najma mengambil uang pemberian neneknya itu. “Makasi Nek.” Sekali-kali Najma merasa perlu mengatakan hal ini.
“Di lorong samping rumah ada sepeda, kalau kamu mau pakai, pakai saja.”
“Sepedanya bagus?”
“Bagus.”
“Ya udah Nek aku berangkat.”
Najma berlari keluar rumah begitu saja. Di depan terasa rumah Najma terdiam. Dia menoleh ke arah lorong samping rumah di mana ada sepeda yang di maksud neneknya berada. Apa dia perlu menggunakan sepeda? Ya, dia memang harus menggunakan sepada agar sampai lebih cepat.
Di depan lorong Najma diam. Dia bisa melihat sepeda yang di maksud neneknya. Dia hanya perlu mengeluarkannya dari sana. Najma harap sepeda itu baik-baik saja karena bagus bagi neneknya belum tentu benar-benar bagus.
Lorong yang gelap itu Najma coba abaikan. Dia memberanikan dirinya untuk mengeluarkan sepeda yang dimaksud neneknya itu. Ketika sepedanya keluar sepenuhnya, Najma melihat jika sepeda yang dikatakan neneknya memang cukup bagus. Beberapa bagian sepedanya memang lecet tapi itu bukanlah sebuah masalah di sini.
“Ayo kita pergi.”
Dengan sepeda neneknya, Najma mulai menyusuri jalan yang sudah neneknya itu sebutkan. Senyum Najma mengembang dengan lebarnya. Jantungnya sekarang berdebar tak menentu membayangkan bagaimana jika dia sudah ada di rumah Ibrahim. Bagaimana dia akan bersikap? Mampukah dia mengontrol semua emosinya?
Sepanjang perjalanannya beberapa warga desa memandangi Najma dengan penasaran. Mereka penasaran karena setelah sekian lama cucu dari Rida akhirnya kembali datang ke desa ini. Dia bahkan tampak lebih tenang dibandingkan rumor yang beredar jika Najma sulit diatur.
Tidak butuh waktu lama bagi Najma untuk sampai di depan gerbang sekolah dasar tempat Liana bersekolah. Sepanjang jalan ke sekolah Liana, Najma tidak melihat tempat fotokopi. Sekarang dia hanya perlu meneruskan perjalanannya hingga bertemu dengan tempat fotokopian itu. Liana bilang tidak jauh, jadi Najma yakin jika tempat itu pasti ada di depan sana.
Kali ini Najma mengayuh sepeda dengan lebih pelan. Mata Najma dengan liarnya melihat ke kiri dan kanannya. Dia tidak mungkin akan melewatkan rumah Ibrahim. Setiap tempat fotokopian pasti memiliki papan nama yang bisa dibaca dengan mudah oleh orang-orang seperti….
Ya, seperti rumah di depan sana.
Seketika Najma mengerem mendadak. Apa penglihatannya tidak salah? Najma memicingkan matanya, dia berharap apa yang dilihatnya tidak salah. Yakin dengan apa yang dilihatnya, Najma pun tidak bisa menahan pekikan bahagianya.
“Aahh…ya ampun, akhirnya….”
Pekikan Najma itu membuat beberapa orang yang melewatinya memandangi Najma dengan aneh. Kenapa dia sampai memekik kesenangan seperti itu? Sedangkan Najma yang ditatap tentu saja dia tidak memperdulikan itu. Yang ada dalam fokusnya sekarang hanyalah rumah Ibrahim, Ibrahim dan Ibrahim.
Kembali Najma mengayuh sepedanya, kali ini dia mengayuhnya dengan cepat. Sampai-sampai Najma tiba begitu cepat di depan rumah Ibrahim. Najma memarkirkan sepedanya tepat di depan pintu fotokopian. Najma melirik ke bagian atas rumah Ibrahim. Rumah Ibrahim ternyata sebuah ruko dua lantai. Di samping tempat fotokopian terdapat toko kelontong. Tembok yang menyatu membuat Najma sadar jika itu pasti milik Ibrahim juga.
“Ternyata dia anak orang kaya desa ini,” gumam Najma. Nilai plus untuk Ibrahim bertambah. Dia ternyata tidak salah sudah menyukai seseorang.
Ketika Najma mendekat agar lebih dekat, Najma sadar jika tempat Ibrahim ini bukan hanya sebuah fotokopian, tapi sebuah warnet. Suatu yang Najma tidak pernah sangka-sangka sebelumnya. Sebuah warnet di tempat yang seperti ini, ini jelas seperti oasis. Pantas saja neneknya takut dia pergi ke sekolah Liana, dia pasti takut jika dia menemukan tempat ini.
Seorang wanita dewasa yang kerudung panjangnya datang menghampiri Najma. Najma terpukau menatap wanita itu. Dia merasa nyaman saat melihat senyum wanita dewasa itu.
“Ada yang bisa dibantu?”
Najma tersadar dari keterpukauannya. Di saat seperti ini Najma harus tersenyum. Najma tidak tahu siapa wanita dewasa ini, tapi yang jelas wanita di depannya ini pasti memiliki hubungan dengan Ibrahim. Ketidak siapannya membuat Najma hanya bisa tersenyum kaku.
“Bi…Bisa sewa komputernya?” Najma akhirnya berhasil mengucapkan itu. Dibandingkan hanya sekedar meminta difotokopikan, lebih baik Najma menyewa komputernya saja.
“Pakai saja mau yang mana. Mumpung semuanya kosong.”
Di dalam warnet ini hanya ada empat komputer. Najma memilih tempat yang bisa membuatnya melihat ke arah pintu penghubung dan dekat dengan tempat kasir. Mata Najma tak sengaja bertatapan dengan wanita itu lagi yang membuat Najma tersenyum malu. Dia malu di tatap oleh wanita secantik itu.
“Mohon maaf Dek, Ibu tumben liat Adek di sini, Adek baru pindah?”
Najma mengangguk dengan semangatnya. “Saya cucu Nek Rida.”
“Ah, anak Winda? Sudah besar ya kamu. Dulu Ibu pernah lihat kamu waktu kamu masih kecil.”
“Hehehe, iya Tante.” Najma tidak tahu harus bereaksi seperti apa sekarang. Dia jarang bersosialisasi dengan seorang yang memiliki usia jauh di atasnya.
“Gimana kabar Ibu sama Bapak kamu?”
“Mereka berdua baik Tante. Oh ya, Tante namanya siapa?”
“Ibu namanya Sari, teman main Ibumu dulu.”
“Oh temen Mama. Kalau aku nama namanya Najma Aila Caneza, Biasa dipanggil Najma, Tante.” Entah datang dari mana keberanian untuk Najma inisiatif mengatakan namanya itu. Dia bukanlah anak yang bisa melakukan hal ini pada seseorang yang baru dikenalnya, apalagi usianya jauh di atas dirinya.
“Masyaallah, namanya sama orangnya sama-sama cantik.”
“Makasi Tanten.” Dipuji oleh calon ibu mertua tentu saja Najma senangnya bukan main. Dia bahkan sampai tersipu malu.
“Aduh, maaf ya Tante malah ngajak kamu bicara, padahal kamu mau main komputer.”
“Enggak apa-apa kok Tante.”
“Bu, biar Ibrahim aja yang jaga.”
Pandangan Najma langsung terarah ke pintu penghubung itu. Di sana dia melihat sosok yang dicari-carinya. Pandangan mereka bertemu sesaat namun Najma seketika memutuskan kontak mata mereka dan diam-diam terpaku memandangi layar monitor.
Tak tahukah kalian jika saat ini jantung Najma berdebar dengan kencangnya?