Di bawah pohon rindang di samping perpustakaan, Najma menyandarkan kepalanya di atas tas yang dia letakkan di atas meja. Baru setengah hari, Najma sudah merasa lelah karena Ibrahim yang benar-benar menyebalkan. Ibrahim seakan sudah sadar akan powernya sebagai dosen yang bisa melakukan apa saja. “Curut!” Suara nyaring dan tepukan di bahunya membuat Najma terlonjak kaget. “Viooo… lo bener-bener minta dibunuh ya? Gue udah dikagetin sama Endru, sekarang malah sama lo juga!” katanya tak terima. Hari ini jantung Najma benar-benar tengah diuji. Bagaimana jika dia serangan jantung karena dikageti terus-menerus? “Ya maaf, guekan enggak tau.” Viona nyengir. Najma memutar bola matanya bosan. Dia sudah sangat kesal hari ini dan jangan sampai dia melampiaskan emosinya pada Viona. “

