Perhatian

1988 Kata
Hana menggulung handuknya asal ke atas kepala agar air dari rambutnya tak menetes ke lantai. Ia lalu berjalan jinjit keluar dari kamar mandi dengan handuk yang masih melilit di tubuhnya karena ponselnya berbunyi entah sudah yang keberapa kalinya. " Iya halo... Sabar dikit kenapa sih?" " Cepetan. Gue udah mau on the way nih. " " Iya bawel. Ini gue udah mau...." BUKKKK Betapa terkejutnya Hana ketika tubuh setengah telanjangnya yang hendak berbalik menuju walking closet terbentur oleh sebuah tubuh kokoh dan keras milik seorang pria. " Kka...Kamu..." ucap Hana terbata menatap pria yang kini hanya berjarak beberapa centimeter di hadapannya. Jangan tanyakan bagaimana detak jantungnya saat ini. Bagaimana bergetar kakinya saat ini. Bercampur malu karena Erkan mungkin melihat bagian tubuhnya yang selama ini tertutup. Ya meskipun secara hukum dan agama Erkan adalah suaminya, tapi mereka berdua tetaplah dua orang asing yang bahkan tidak pernah berbicara lebih dari 10 kalimat. Tanpa sadar, handuk yang ada dikepala Hana saat ini ikut terjatuh dan menguraikan rambut panjangnya yang masih basah. Menambah kesan seksi pada Hana saat ini. Namun mereka berdua hanya saling menatap iris mata masing-masing. Erkan yang sejak tadi masih merangkul pinggang Hana untuk menahan tubuh gadis itu agar tidak terjatuh, juga merasakan kegugupan yang sama. Dari jarak sedekat ini, ia bisa mencium aroma segar dari tubuh Hana yang selama ini hanya tercium sekilas dari sisa kehadiran wanita itu. " Kamu ngapain di sini?" tanya Hana melepaskan perlahan tubuhnya. " Ini masih kamar saya kan?" tanya Erkan kembali sambil menggaruk keningnya dengan telunjuk yang tentu saja tidak sedang gatal saat ini. Hana lalu berjalan cepat menuju walking closet dengan handuk kepala yang menutupi bagian pundaknya. Ia kemudian menutupnya untuk memakai pakaian di dalam ruangan itu dengan cepat. " Ya ampun, ngapain dia pake pulang sih? Bentar..Bentar, tadi dia natap mata gue? Ya ampun Hana, jangan baper. Dia tuh punya banyak cewek. Jangan baper deh!" misuhnya pada diri sendiri sambil memakai satu persatu penutup tubuhnya. Setelah rapih, ia lalu keluar dengan percaya diri menutupi kegugupan dalam hatinya sambil mencari ponsel dan tas miliknya yang tadi entah sudah ia letakkan dimana. " Maaf, saya nggak tahu kamu mau pulang kesini. Jadi ya saya... Ya gitulah.. " jelas Hana ketika berdiri di depan sebuah meja dengan sebuah cermin besar di atasnya sambil menyisir rambutnya yang masih agak lembab. "Ada hair dryer di laci. Yang di kamar mandi sepertinya rusak." Hana menatap pantulan Erkan yang nampak sedang membaca sebuah berkas di sofa yang biasa Hana pakai untuk tidur. " Owh, iya. Nanti aja" " Kamu mau pergi?" tanya Erkan ketika melihat Hana nampak bersiap dan kelihatan cantik. Hana sedikit heran dengan pertanyaan Erkan saat ini yang tidak seperti biasanya. " Iya, oh ya kemarin eyang juga ngasih tahu kalau kamu pindah ke apartement kamu, jadi saya pikir saya bisa tidur di tempat tidur kamu. Saya akan minta mbak buat ganti seprei kamu" Erkan berjalan mendekat ke arah dimana Hana berdiri saat ini lalu sedikit membungkuk tepat di hadapan gadis itu untuk menyimpan berkas yang tadi dipegangnya ke dalam laci yang berada tepat di belakang Hana berdiri. Jarak yang begitu dekat antara wajah Hana dan bagian pundak dan tengkuk pria itu membuat Hana dapat mencium aroma parfum maskulin khas pria itu. Parfum yang pernah iseng di ciumnya kemarin malam sewaktu memikirkan pria itu. " Nggak perlu. Nanti aku yang nyuruh mbak" Hana membelalakkan matanya mendengar apa yang baru saja Erkan ucapkan saat ini. " Aku??? Nggak salah denger gue barusan? Aku???" batin Hana. Erkan lalu berjalan keluar dari ruangan tersebut tanpa menghiraukan Hana yang nampak senyum-senyum sendiri. " Iihh, apaan sih gue!" ucap Hana pada dirinya ketika sadar ia sedang senyum sendirian di dalam kamar tersebut. Detik berikutnya Hana berlari menuruni tangga dan menemukan seluruh anggota keluarga sedang berada di ruang makan. " Malam Hana. Mau keluar ya?" tanya Farrel pada Hana yang hanya ia balas dengan anggukan. " Mau kemana sayang?" tanya Miranti. " Aku janjian sama teman. Udah lama nggak ketemu. Yang kemarin aku gantiin di butik" jelas Hana dan membuat Erkan kembali mengingat suasana canggung hari itu. Suasana yang membuatnya tidak berkonsentrasi dengan baik memikirkan Hana saat itu. Yang akhirnya membuat ia pulang sehari lebih cepat dari yang telah ia rencanakan, dan bahkan kini ia tidak kembali ke apartemennya hanya agar ia bisa melihat reaksi gadis tersebut. " Saya anterin mau nggak Han?" tanya Farrel yang langsung mendapat tatapan sinis dari Velly. " Nggak usah. Makasih. Saya permisi dulu." ucap Hana lalu berjalan meninggalkan mereka semua. " Permisi" pamit Erkan pada semua orang secara tiba-tiba dan kembali menaiki tangga menuju kamar tidurnya. *** Hana memasuki kamar yang nampak remang-remang itu sambil sedikit berjingkak setelah perlahan melepaskan sneaker yang dipakainya tadi di depan pintu. Ia menoleh ke arah tempat tidur dan tidak menemukan Erkan tidur disana. " Kirain lagi tidur, ngapain juga gue kayak maling gini" Ucapnya kesal lalu melemparkan tasnya ke atas tempat tidur dan baru saja ia akan menyalakan lampu, ia menyadari ada seseorang di dalam kamarnya yang sedang berbaring di sofa yang biasa ditidurinya. Hana lalu berjalan mendekatinya dan tahu jika yang sedang tertidur itu adalah Erkan. " Erkan, Erkan...kamu kenapa tidur disitu?" Hana mencoba membangunkan pria itu dengan ujung telunjuknya. Namun Erkan masih belum juga bergerak. " Erkan..." Hana mencoba menggerakkan tubuh Erkan sedikit lebih keras dan berhasil membuat pria itu sedikit bereaksi dan membuka matanya perlahan. " Hana..." DEGH !!! Jantung Hana tiba-tiba berdetak tak karuan. Ini adalah pertama kalinya pria itu memanggil namanya. " I...iiya...Kamu kenapa tidur disitu? Kamu di ranjang aja. Sofanya nggak muat buat kamu." ucap Hana sedikit salah tingkah. " Nggak apa-apa. Udah terlanjur juga. Kamu tidur aja di sana" tunjuk Erkan dengan dagunya. " Nggak mau. Kamu aja" " Kamu aja" Entah mengapa Hana merasa kini perdebatan mereka malah terdengar seperti pasangan yang sedang berdebat mesra. Hana dengan segera menepis pikiran aneh dikepalanya yang akhir-akhir ini muncul. Dan entah keberanian dari mana, ia menarik tangan Erkan untuk membangunkan pria yang kini duduk dengan kedua tangan di sisi tubuhnya dan kepala yang menunduk. Dan betapa terkejutnya Hana ketika merasa tangan pria itu terasa sangat dingin di kulitnya. Ia lalu duduk berlutut di hadapan pria yang nampak lesu itu dan menyentuh wajah dan juga keningnya dengan telapak tangannya. " Erkan, kamu sakit?" Erkan menggeleng dan menepis tangan Hana dari wajahnya. " Nggak apa-apa. Hanya kecapean" Hana lalu menarik tangan Erkan dan menuntunnya ke tempat tidur. Ia kemudian membantu pria itu untuk berbaring namun Erkan menolak dan akhirnya hanya menyandarkan tubuhnya di sandaran tempat tidur besar itu. " Mau di panggilin dokter?" tanya Hana nampak khawatir dan Erkan langsung menggeleng dengan cepat. " Kamu udah makan?" Erkan kembali menggeleng. " Udah minum obat?" Erkan tiba-tiba menatap tajam padanya. " Bisa diem?" " Nggak bisa. Kamu tunggu sini. Jangan tidur dulu" Lalu dengan cepat ia berjalan dengan setengah berlari keluar dari kamar itu dan menuju dapur yang kini telah sepi dan gelap.. " Ya ampun, kenapa di matiin semua sih lampunya? Ternyata orang kaya juga masih hemat listrik ya!" ujar Hana sambil mencoba meraba dan menerka dimana kira-kira sakelar listrik dapur tersebut. Dan betapa bahagianya Hana ketika ia berhasil menemukan apa yang sejak tadi di carinya. " Hana, kamu ngapain?" tanya Farrel tiba-tiba. Hana bingung harus menjawab apa. Tidak mungkin jika ia mengatakan ingin memasak atau mencarikan makanan untuk Erkan. Itu akan terkesan janggal mengingat semua anggota keluarga tahu jika mereka bukanlah sepasang suami istri yang sebenar-benarnya. " Ng...itu, saya lapar. Saya mau makan yang ringan dan cepet aja." " Makan mie instan aja Han. Biar aku bantu" " Nggak perlu. Saya tahu tempatnya. Makasih" Hana lalu mulai mempersiapkan mie instant yang akan dimasaknya dengan tambahan beberapa bahan lain tanpa menghiraukan Farrel yang sejak tadi hanya mengamatinya sambil duduk di kursi makan. Hana sebenarnya merasa sedikit risih dengan kehadiran dan tatapan Farrel saat ini,terlebih saat ini sudah larut malam dan mereka hanya berdua. Karena itu setelah masakannya selesai, Hana langsung meninggalkan Farrel tanpa mengatakan satu katapun. Ia lalu berjalan cepat menuju kamarnya dan mendapati Erkan yang tertidur masih dengan posisinya seperti saat Hana meninggalkannya tadi. " Erkan...Bangun...Ayo makan dulu" ucap Hana lembut sambil menggoyangkan tubuh Erkan perlahan. Pria itu kemudian membuka matanya perlahan dan merasa agak sedikit silau karena Hana menyalakan sebuah lampu tidur yang berada di sampingnya. " Ayo, makan dulu. Habis itu kamu minum obatnya." " Ini apa? Mie instant?" tanya Erkan dengan nada yang agak lemah. " Iya. Mie instant.Saya tambahin suwiran ayam rebus sama telur ceplok. Emang kenapa? " tanya Hana heran ketika melihat Erkan hendak menaruh mangkuk yang ia berikan di atas nakas disisinya. " Aku nggak makan mie instant" " Hah?! Nggak makan mie instant? Seriusan? Ini enak loh. Udah saya kasih sedikit bubuk perasan jeruk nipis biar lebih seger di leher kamu" Erkan mendengus sedikit kesal " Aku nggak makan mie instant Hana! Aku nggak pernah makan mie instant. Itu nggak sehat" " Ya ampun Erkan, serius kamu itu orang paling aneh di dunia. Satu-satunya yang nggak makan mie instant. Ini beneran enak. Kalau lagi nggak enak badan, saya akan makan ini dan besoknya udah baikan. Percaya sama saya. Makan sebelum dingin. Ini..." Hana bersikeras dan kembali menyerahkaan mangkuk itu di pangkuan Erkan. " Ini panas Hana! Dan aku nggak mau makin sakit karena makan ini" Erkan masih menolak. " Nggak. Kamu harus makan. Kamu nggak akan mati hanya dengan makan ini. Kecuali ya kamu makannya di tengah jalan tol" canda Hana. " Hana... Aku..." Hana kemudian mengambil mangkuk dari tangan Erkan dan kemudian menyuapkan mie instant tersebut ke depan mulut Erkan. " Aaaaaa....Ayo buka mulutnya. Kamu kayak anak kecil aja. Di suruh makan aja susah banget." Erkan menatap tajam kepada Hana yang nampak tidak gentar dan tidak akan mengalah pada penolakannya hingga mau tak mau ia membuka mulutnya secara perlahan. Tepat di saat Erkan membuka mulutnya, Hana langsung menyuapkan makanan ke dalam mulutnya secara penuh. Awalnya Erkan nampak enggan mengunyahnya namun ketika lidahnya mulai merasakan rasa mie instant racikan Hana, ia mulai mengunyahnya perlahan. " Ya udah, kamu makan sendiri aja. Enak kan?" Hana menyerahkan mangkuk yang ia pegang kepada Erkan karena sedikit lagi, mungkin jantungnya akan melompat keluar karena jarak antara mereka berdua sangat dekat saat ini. Hana mencoba menahan senyumnya ketika berpindah duduk di sofa sambil berpura-pura memainkan ponselnya ketika Erkan secara tidak sadar menyendokkan sendiri makanan tersebut ke mulutnya. Dan ketika menyadari jika sejak tadi Hana menatapnya dengan pandangan usil dan mengejek, ia langsung meletakkan mangkuk tersebut di atas nakas. " Kenapa nggak dihabisin?" " Sudah kenyang" jawab Erkan lalu mengambil segelas air putih yang juga tadi dibawa oleh Hana. Hana lalu kembali berjalan mendekati Erkan dan mengambil obat yang ada di atas nampan. " Ini, minum dulu obatnya." Hana mengulurkan dua butir kapsul kepada Erkan yang nampak curiga. " Tenang aja, ini bukan racun. Hanya penurun demam dan vitamin. Takut amat" " Kamu yakin?" " Astaga Erkan, saya nggak minat jadi janda kaya dulu. Pelan-pelan aja" " Maksud kamu?" " Bercanda Erkan...Bercanda. Itu salah satu penyebab kamu sakit. Kurang rileks. Kurang istirahat. Kurang makan. Dan kurang perhatian" " Mungkin" " Maaf, maksud saya bukan gitu. Mmm, kamu tentu aja nggak kekurangan apapun. Maksud saya kamu mungkin hanya kecapean." " Sini obatnya" pinta Erkan dan kemudian ia meminum 2 butir kapsul itu dengan sekali tegukan. " Pinter banget. Coba sini" Ucap Hana lalu meletakkan tangannya di leher dan kening Erkan dengan santai. Namun lain halnya dengan Erkan, entah mengapa setiap sentuhan dari gadis itu selalu membuat jantungnya berdebar hebat. Setiap gerakan yang Hana lakukan saat ini nampak seperti sesuatu yang menarik untuknya, dan ya, Hana makin cantik dimatanya. " Masih demam sih. Tapi kamu udah berkeringat. Tangan kamu juga nggak dingin lagi. Bentar saya ambilin kamu baju ganti" Tak lama kemudian Hana datang dengan sebuah baju kaos milik Erkan di tangannya " Ini bajunya. Mmmm....,kamu bisa kan ganti pakaian kamu sendiri? Oke tentu aja kamu bisa" tanya Hana yang langsung ia jawab sendiri dan langsung berjalan menuju kamar mandi dengan alasan akan mencuci muka. " Ya ampun. Gue udah kayak istri beneran. Hana begooo! Kenapa sih mesti kayak tadi. Ntar dia mikir gue perhatian lagi! Ntar dia ngira gue suka lagi sama dia! Aduh, gimana nih..." ucap Hana memukul sendiri kepalanya dengan pelan sambil mondar-mandir di dalam kamar mandi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN