Kesorean harinya, Alka dan Surya kembali ke rumah sakit. Wanita cantik itu ingin menggantikan kakak iparnya yang saat ini sedang menjaga Mentari. Dirinya berharap agar Bunga dan Abi dapat beristirahat dengan baik di rumah.
“Mas sama Mbak istirahat di rumah aja, biar Alka sama Surya yang jaga Tari malam ini,” ucap Alka.
“Mana bisa tenang kalau di rumah, Mbak akan di sini sampai Tari bangun,” kekeh Bunga pada adik iparnya.
Wanita itu tidak ingin beranjak dari sisi sang putri meskipun hanya sekejap. Dia harus selalu berada di sisi putri bungsunya, karena dia ingin jika putrinya membuka matanya, dia berada di sampingnya. Sebagai seorang ibu pasti dirinya juga tidak akan bisa meninggalkan putrinya yang sedang terbaring lemah.
“Tolong ijinkan Mama di sini sampai Tari bangun ya, Pa!” pinta Bunga pada suaminya, Abi.
“Baiklah, tapi Mama harus istirahat yang cukup agar nggak kelelahan. Papa nggak mau Mama jatuh sakit!” ucap Abi memberikan ijin disertai dengan peringatan.
Beberapa menit kemudian, saat Abi ingin meninggalkan kamar Tari, terdengar suara ketukan pintu dari luar. Lalu Surya segera beranjak untuk membukakannya. Setelah pintu terbuka, tampak seorang dokter tampan yang terlihat tidak asing sudah berdiri bersama dengan dua orang perawat. Kedatangan dokter yang sudah sangat familiar bagi keluarga Handoko, membuat pria paruh baya itu mengurungkan niatnya.
Tampak dokter tersebut terlihat terkejut ketika matanya menangkap sosok perempuan yang sudah lama tidak dijumpainya. Terlihat dengan jelas seorang wanita dengan rambut hitam berkilau yang terlihat terawat sedang duduk membelakangi pintu, tepatnya duduk di samping ranjang pasien.
“Selamat petang, Dokter ingin memeriksa kondisi pasien!” ucap salah seorang perawat memberitahu kedatangan mereka.
Tanpa menjawab, Surya langsung menggeser tubuhnya ke samping mempersilahkan mereka untuk masuk. Pria tampan itu tampak terlihat tidak menyukai sosok dokter tampan berkacamata itu.
Alka yang mendengar pembicaraan mereka langsung memutar duduknya untuk menghadap ke arah pintu. Detik kemudian, jatungnya mendadak berdetak dengan kencang. Tubuhnya juga tampak menegang untuk sesaat ketika matanya tak sengaja menatap mata dokter yang baru saja datang. Keduanya tampak saling bertatapan dalam diam, tapi dalam pemikirannya masing-masing.
‘Dia …!’ batin Alka.
Dengan segera Alka memalingkan wajahnya ke arah lain. Ia harus bisa menguasai hatinya dan harus bisa mengendalikan perasaannya.
Ya … Dokter itu adalah Arsa Dewananda Ibrahim, lelaki dingin, arogan, dan kejam. Pria itu juga yang telah melukai gadis cantik itu dengan begitu dalam.
Bunga yang berada di sana melihat bagaimana adik iparnya berusaha menjaga jarak dan merubah sikapnya pada Arsa. Sebenarnya, Bunga sudah mengetahui apa yang terjadi antara Arsa dan Alka dulu dari Risma, mami Arsa.
“Selamat petang, Om, Tante,” sapa Arsa ramah dan dijawab Bunga dengan senyuman.
Suara bariton itu mengingatkan Alka akan kejadian lebih dari empat tahun yang lalu. Saat di mana suara itu bukan hanya membentaknya, tetapi juga menghinanya dengan habis-habisan. Layaknya dia seorang wanita yang tidak memiliki harga diri sedikit pun.
‘Kamu pasti bisa, Alka!’ ucap Alka dalam hati.
Gadis itu terus memberikan semangat kepada dirinya sendiri. Dia tidak ingin terlihat lemah seperti dulu. Dirinya harus bisa menunjukkan jika dia bukanlah Alka yang dulu.
Arsa pun melangkah mendekati ranjang pasien, dan dokter tampan itu langsung memeriksa kondisi Mentari. Sesekali mata elang pria itu mencuri pandang ke arah wanita yang dulu selalu mengganggu ketenangan hidupnya.
'Dia telah menjadi wanita dewasa yang sangat cantik!' batin Arsa dengan kagum.
Arsa juga tahu jika wanita cantik yang berada di seberang ranjang pasien itu sekarang telah menjadi salah satu perancang busana yang sangat sukses. Nama Alka masuk ke dalam jajaran perancang muda yang patut untuk diperhitungkan.
“Jika nanti dalam waktu lima jam Tari belum bangun, tolong hubungi saya ya, Tan!” pintanya pada Bunga.
“Tapi tidak ada yang perlu dikhawatirkan, kan?” tanya Bunga kembali.
Tampak raut wajah seorang ibu yang penuh dengan kekhawatiran. Bagaimana tidak merasa khawatir jika putri kesayangannya masih belum juga siuman hingga sekarang.
“Alhamdulillah nggak ada, saya permisi dulu, Tan,” jawab Arsa sambil berpamitan.
Wanita paruh baya yang terlihat lelah itu hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban untuk Arsa. Kemudian dokter tampan itu menyempatkan diri mendekati Alka.
“Apa kabar?” tanya Arsa dengan suara khasnya pada Alka.
Alka yang melihat Arsa mendekatinya, seketika membuat tubuh gadis itu kembali menegang. Detak jantungnya juga berdegup semakin cepat. Ia berusaha menahan semua gejolak yang ada di dalam hatinya. Dirinya harus bisa terlihat tenang.
‘Jangan terpengaruh, Alka.’ pintanya dalam hati,
Perempuan dengan segala kesempurnaannya itu dengan sekuat tenaga mencoba meredam gemuruh di dalam hatinya. Dia tidak boleh terlihat gugup di hadapan Arsa.
“Alhamdulillah baik,” jawab Alka dengan wajah datar.
Gadis itu hanya sekilas menatap laki-laki yang sudah menorehkan luka di hatinya. Dirinya harus bisa menunjukkan pada pria itu jika dirinya sudah tidak memiliki rasa apa pun terhadapnya.
Mendengar jawaban yang tidak seperti biasanya dari gadis yang ada di hadapannya, seketika membuat lelaki bermata tajam itu pun terkejut. Namun, dengan segera dirinya bisa menguasai rasa terkejutnya.
“Kapan datang?” tanya Arsa kembali dengan tenang.
Beruntungnya lelaki tampan itu, karena pembawaannya yang selalu tenang akhirnya bisa membuat dirinya dengan cepat untuk menguasai dirinya sendiri.
“Tadi pagi,” jawab Alka singkat.
Pria itu cukup terkejut dengan perubahan sikap Alka terhadap dirinya yang berubah menjadi dingin. Dia seperti sedang berhadapan dengan sosok lain. Setelah berbasa-basi sebentar dengan Abi, Arsa kemudian melangkah keluar dari kamar inap Mentari.
Setelah kepergian Arsa, Alka terlihat sedang meraba dadanya. Kali ini dirinya ingin memastikan apakah nama ‘Arsa’ masih ada di dalam hatinya. Wanita itu tampak diam terpaku, ternyata dirinya masih merasakan getaran yang sama. Getaran yang ia rasakan dulu saat dirinya masih mengagumi seorang Arsa Dewananda Ibrahim. Namun, sekarang dirinya tidak ingin terluka lagi. Ia hanya ingin bahagia dengan caranya.
‘Ada apa lagi dengan kamu? Kenapa kamu tidak bisa tenang?’ lirih Alka pada dirinya sendiri.
Surya yang melihat tantenya melamun, langsung timbul keinginan jahilnya. Sudah lama keinginan ini tidak muncul sejak kepergian Alka empat tahun yang lalu. Di saat dirinya jahil pada adik perempuannya, urusannya malah menjadi panjang. Si Nenek Sihir akan beraksi dengan menghalalkan segala cara agar playing victim-nya bisa berjalan dengan sempurna. Karena itu, akhirnya dirinya yang menjadi sasaran kemarahan mamanya.
“Ehm … udah, Tan, yang lalu biarlah berlalu. Biarkan terkubur dan jangan digali lagi, bisa bahaya. Buktinya tuh … jantung Tante sekarang lagi nggak baik-baik aja. Apa sekalian kita periksakan, mumpung lagi di rumah sa … aaww ...,” ucap Surya yang terpotong akibat cubitan Alka yang mendarat tepat di pinggangnya.
“Itu mulut kenapa tambah lama tambah lemes aja sih?” tanya Alka sambil memberikan tatapan tidak bersahabat.
“Gila! Kepiting Alaska nyasar ke sini. Tante mau kalau mulutku kaku kayak Es Balok, kayak sapa ya, Ma?” ucap Surya.
Bunga yang ikut diseret oleh anak sulungnya, seketika langsung ikutan menjewer telinga sang putra.
“Ampun, Ma …!”
“Makanya jangan kurang ajar sama orang tua!” ucap Bunga memperingatkan.
Alka yang sedari tadi memperhatikan Mentari, tampak terlihat mengerutkan dahinya. Ia terus menatap mata keponakannya yang terlihat sedang bergerak-gerak. Beberapa saat kemudian gadis itu tampak mulai membuka matanya.
“Mbak … Tari bangun!” teriak Alka sangking senangnya.
Mereka berempat segera mendekat ke ranjang. Tak lupa mereka mengucapkan syukur, karena Mentari sudah mulai membuka matanya.
Setelah Surya memberitahu kondisi Mentari, tak lama kemudian datang perawat bersama seorang dokter lain. Selesai memeriksa kondisi Mentari, dokter itu memberitahu jika kondisi gadis itu sudah stabil, tetapi masih diperlukan observasi selama 24 jam ke depan. Setelah Bunga dan Alka mengucapkan terima kasih, dokter dan perawat itu pun pergi meninggalkan kamar perawatan.
"Terima kasih sudah mau bertahan, Sayang. Apa ada yang sakit?" tanya Alka sambil mencium kening keponakannya dengan sayang.
“Apa yang Tari rasakan, Nak?” tanya Bunga dengan khawatir.
Sebagai seorang ibu pasti dirinya sangat senang melihat anak perempuannya sudah siuman. Bahkan, wanita paruh baya itu juga terlihat menitikkan air matanya.
“Badan Tari pegal-pegal semua, Ma,” jawab Tari dengan lemas.
Bunga lalu berusaha membantu Tari untuk memiringkan badan gadis itu. Setelah posisinya agak miring, lalu Alka menaruh bantal di balik punggung keponakannya yang digunakan sebagai penopang.
“Tante kapan datang?” tanya Tari dengan tersenyum.
“Sudah tiga hari yang lalu, Tari cepet sembuh ya, udah lama kita nggak jalan berdua.” ucap wanita bersurai hitam.
“Iya, Tan, Tari juga pengen cepet sembuh, Tari nggak mau lama-lama di rumah sakit.” jawab sang keponakan dengan suara yang masih terdengar lemah.
“Terima kasih sudah bangun, Sayang.” ucap Abi dengan mata yang tampak berkaca-kaca.
“Maafkan Tari ya, Pa, nggak hati-hati bawa mobilnya.” ucap Tari dengan mata yang sudah tampak berkaca-kaca.
Gadis cantik itu terharu ketika melihat mata lelah sang papa sudah terlihat mengembun. Dia juga merasa bersalah karena sudah membuat keluarganya cemas dengan keadaannya.
“Ini musibah, Sayang. Yang penting Tari selamat, Papa sudah bersyukur sekali,” jawab Abi dengan bijak.
Sebenarnya Surya sudah menyelidiki kasus kecelakaan adiknya. Dari CCTV yang di berikan oleh orang suruhannya, dirinya merasa ada yang janggal dengan pengendara motor yang menyebabkan adiknya celaka. Pria pemilik mata setajam mata elang itu juga berdiskusi dengan ahli hukumnya, dan semuanya bilang kalau kecelakaan Tari memang di sengaja.
“Kalian urus kasus ini dengan baik, jangan ada celah sama sekali!” pinta Surya dengan suara tegasnya.
Setelah mengumpulkan semua bukti dan saksi, lantas lelaki tampan itu memberikan kuasa pada pengacaranya untuk mengusut tuntas kasus ini. Bagi seorang pengusaha, saingan bisnis adalah hal yang biasa. Namun, jika sudah melampaui batas, Surya bisa bertindak dengan lebih kejam, apalagi ini menyangkut keluarganya.
“Hey … Nenek Sihir, udah berapa orang yang mengkhawatirkan kamu, ayo cepet sembuh nggak usah cengeng!” ucap Surya dengan sarkas.
Alka yang mendengar ucapan Surya langsung mencubit pinggang keponakan laki-lakinya itu. Lama-lama perempuan itu merasa gemas dengan ulah keponakan laki-lakinya.
“Kapan mulut ini bisa berfungsi dengan semestinya, sih?” geram Alka.
Tari pun langsung menatap kakak laki-lakinya dengan air mata yang sudah siap mengalir.
“Mulai … mulai!” ucap Surya.
Lelaki itu sudah hafal dengan sifat adik perempuannya. Kalau sudah memberikan tatapan seperti itu, tak lama lagi pasti akan turun teguran dari mamanya.
“Ini adikmu loh, Mas, harusnya kamu itu melindunginya, apalagi dia baru aja sadar,” ucap Bunga memberikan teguran.
Setelah itu, bisa dipastikan wajah iblis perempuan akan muncul. Nahh … benarkan, Tari memasang senyum iblisnya. Surya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Namun, ia bersyukur ternyata adiknya sudah sembuh dengan cepat, nenek sihirnya sudah kembali.
“Dasar Nenek Sihir!” ujar Surya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Malam hari, Mentari hanya ditemani oleh Alka dan Surya. Tampak Tari sudah tertidur nyenyak karena pengaruh obat. Untuk mengusir rasa bosan mereka berdua memutuskan untuk main catur. Setelah dua kali Alka kalah, permainan pun terpaksa berhenti, karena keduanya tampak mulai ribut.
“Kamu jangan curang dong!” sewot Alka.
“Mana ada Surya curang, Tantenya aja yang kurang mahir.” bantah pria jangkung itu.
“Udah, ah… males main sama kamu, curang!” ucap Alka dengan bibir yang terlihat sudah mengerucut.
“Yee … dianya yang kalah, malah ngatain curang!” ucap Surya.
Dirinya yang merasa tertuduh, lantas segera beranjak dan berjalan keluar kamar. Sebenarnya laki-laki itu ingin pergi untuk membeli camilan. Suasana seperti inilah yang dia rindukan. Kebersamaan yang sudah lama tidak ia rasakan, akhirnya datang kembali.
Tampak Surya berjalan menyusuri koridor rumah sakit sambil menelpon seseorang. Dirinya harus memastikan sesuatu pada orang kepercayaannya.
“Bagaimana perkembangan kasusnya?”
“(……)”
“Kalau dia masih mengelak, langsung habisi Perusahaannya, kamu mengerti maksud saya, kan?”
“(…….)”
“Ok, saya tunggu beritanya paling lambat besok pagi, jangan kecewakan saya!”
Tanpa menunggu jawaban dari seberang, ia pun langsung mengakhiri panggilannya. Kemudian pria itu pun memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya kembali.
Surya memegang kepemimpinan perusahaan menggantikan ayahnya. Saat ini semua keputusan berada di tangannya. Selama di pegang oleh Surya, Handoko Grup berkembang dengan pesat. Pria berparas rupawan dan bertubuh ideal itu masuk ke dalam daftar pengusaha muda yang sukses. Wajahnya juga sering menghiasi sampul majalah bisnis. Saat ini Handoko Grup sudah memiliki tiga cabang di kota besar, dan akan segera membuka cabang yang ke empatnya di kota lain.