Hukuman dan teman sekamar

614 Kata
Hukuman dan teman baru Oliver tiba terlambat di lapangan Kekaisaran. Matahari sudah tinggi, para prajurit muda berbaris rapi, sementara suara pelatih bergema keras. Nafas Wiliam terengah-engah, keringat menetes di pelipisnya. “Dari mana kamu, Oliver?” suara lantang sang pelatih membuat seluruh barisan menoleh. Oliver menunduk, mencoba menyusun alasan, tapi kata-kata tercekat di tenggorokannya. Ia tahu, di Kekaisaran, keterlambatan adalah pelanggaran besar. Hukuman pasti menanti. Pelatih menunjuk ke tengah lapangan. “Lima puluh push-up, sekarang. Dan setelah itu, kamu akan membersihkan gudang senjata sendirian.” Wiliam menggertakkan gigi, lalu menjatuhkan tubuhnya ke tanah. Setiap dorongan terasa berat, bukan hanya karena fisiknya, tapi juga rasa malu yang menekan dadanya. Namun di sela-sela hukuman itu, seorang prajurit lain mendekat, berbisik sambil tersenyum tipis, “Santai saja, aku juga pernah kena hukuman yang sama. Namaku Adrian.” # Wiliam, seorang ksatria Kekaisaran berpangkat tinggi, melangkah ke lapangan dengan langkah tergesa. Para Ksatria lain sudah berbaris rapi, mata mereka penuh heran melihat Wiliam datang terlambat. “Dari mana kamu, Wiliam?” suara lantang sang Kaisar menggema. Nada itu bukan sekadar teguran, melainkan ujian: apakah seorang ksatria akan memberi teladan atau justru melanggar disiplin. Wiliam menunduk sejenak, lalu menjawab dengan tenang, “Maafkan keterlambatan saya Paduka.” Kaisar menatapnya tajam. “Secara resmi kau adalah pengawal pribadi ku tapi kau tetap lah seorang Ksatria, dan aturan tetap aturan. Temui aku di ruang pribadi ku nanti aku akan menghukummu.” Wiliam menerima dengan anggukan. Di antara barisan, seorang prajurit muda bernama Alex yang juga pengawal pribadi Kaisar berbisik "Kemarin malam beliau mencari mu" # Oliver menahan rasa sakit di setiap dorongan, sementara suara pelatih terus mengawasi ketat. Namun bisikan Adrian tadi seperti secercah cahaya di tengah rasa malu. Ada solidaritas yang tak terucapkan di antara para prajurit muda—bahwa setiap hukuman adalah bagian dari perjalanan mereka. Setelah push-up selesai, Oliver bangkit dengan napas terengah, lalu berjalan ke gudang senjata. Bau besi dan minyak memenuhi ruangan gelap itu. Tangannya mulai sibuk membersihkan pedang, tombak, dan perisai yang berdebu. Di luar, suara barisan prajurit masih terdengar, seakan mengingatkan bahwa ia terpisah dari mereka. Oliver kembali menghadap pelatih "Lapor, hukuman telah selesai" "Ikut aku ke gudang " Kata pelatih Sesampainya di gudang "Lepaskan baju mu" Perintah pelatih Oliver segera melepaskan bajunya dan ia pun telanjang d**a "Naiklah ke kursi itu" Perintah pelatih sambil menunjuk kursi di tengah ruangan gudang. Oliver menurutinya, sementara pelatih menumpuk 2 kotak kayu besar di belakang kursi. "Angkat kedua tangan mu" Perintah pelatih Oliver mengangkat kedua tangan nya kemudian keduanya diikat dan diikat juga ke langit-langit gudang. Pelatih turun dari kotak kayu menjauhkannya berserta kursi yang menjadi pijakan Oliver. Kini tergantung dengan tangan terikat. Pelatih mengeluarkan cambuk dan mulai menyiksa Oliver. Hari sudah sore, pelatih menghentikan hukumannya "Lepaskan dirimu sendiri, dan segeralah istirahat di asrama" Setelah mengatakan itu pelatih kemudian meninggalkan Oliver sendirian dalam keadaan masih tergantung sambil terikat. Malam tiba Oliver akhirnya berhasil melepaskan ikatan dengan sisa tenaga yang hampir habis. Tubuhnya jatuh menghantam lantai gudang, napasnya tersengal, keringat bercampur dengan rasa sakit yang menusuk. Ia berusaha bangkit, meski setiap gerakan terasa seperti beban yang tak tertanggungkan. Langkahnya gontai menuju barak prajurit. Di sana, Adrian—teman sekamarnya—menyambut dengan wajah cemas. “Oliver! Apa yang terjadi padamu?” seru Adrian, segera meraih bahunya dan membantunya duduk di ranjang. Oliver hanya menggeleng, tak sanggup menjawab. Adrian lalu mengambil kain bersih dan semangkuk air, mulai merawat luka-luka Oliver dengan hati-hati. “Tenang saja. Kau tidak sendirian. Aku pernah merasakan kerasnya pelatihan ini. Tapi kita akan bertahan bersama.” Oliver menatap Adrian, matanya penuh rasa terima kasih. Di tengah kerasnya disiplin Kekaisaran, ia menemukan secercah solidaritas yang bisa menjadi obat paling ampuh untuk rasa sakit dan rasa malu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN