Tepat pukul 12 malam, Yusuf kembali ke dalam kamar inap Auris. Ia menatap Auris yang sudah terlelap dengan posisi menghadapnya. Ayah dan Ibunya menginap untuk menjaga Auris, mereka tidur di ujung ruangan, dengan kasur tipis sebagai alas tidur. Sejak tadi Yusuf tidak pergi jauh, ia hanya duduk di taman rumah sakit, merenungkan semua yang sudah terjadi. Tidak tahu kenapa, ia yang memulai membuat Auris nangis, tapi dia sendiri yang merasa seharusnya ia tidak membuat Auris menangis. Mendengar Auris yang ingin pergi dan ingin berhenti mencintainya membuat Yusuf jadi uring-uringan. Yusuf jadi takut sendiri saat membayangkan Auris pergi dari hidupnya. Akibat renungan di taman pemikiran Yusuf jadi berubah, awalnya Yusuf berpikir semua bukan kesalahannya sendiri, tapi sekarang Yusuf sudah sepen

