"Benarkah ini kamu, Nduk?" Matanya sayu menatap Linza. Linza menggeleng, cucuran air mata ada di pipinya, kemudian mengemis kepada mertuanya itu.
"Wallahi, Demi Allah bukan Linza, Mi," ibanya sembari menyeka air matanya yang jatuh tak beraturan.
Haris yang berada di samping uminya menatapnya nanar. Hatinya teriris, menatap wanita yang sedang mengiba kepada uminya itu ditemani tetesan air mata. Tetapi sisi lain hatinya telah beku, keras seperti batu. Bagaimana pun juga, tingkah laku Linza, tak akan ia percayai lagi. Walaupun mengiba seperti itu tak akan ia maafkan, toh tidak ada gunanya.
"Mengapa melakukan ini, Nduk?" tanyanya sembari berlirih, hati uminya seperti sesak, menatap Linza yang masih bersimpuh di hadapannya dengan linangan air mata.
Linza kembali menggeleng, dadanya sesak menghadapi kenyataan pelik ini, kenyataan di mana ia dituding sebagai pelakunya.
Rontaan demi rontaan hadir di kedua bibir mungilnya, kemudian menghampiri Haris yang masih berdiri kaku di depannya, tepat di samping umi.
Matanya meredup, menatap Haris yang tak kunjung membelanya. Dadanya kembali sesak, linangan air mata semakin membanjiri pipinya.
"Kamu memercayaiku, kan?" tanyanya sembari mengelus d**a bidang Haris. Haris masih menatap ke depan, tak ingin melihat mata istrinya itu.
Sesak, saat yang ditanya hanya diam mematung tanpa berkata sepatah kata pun. Menangis terisak menatap kilatan mata yang duli teduh yang kini berubah menjadi hitam penuh dengan kebencian.
Ia menggelengkan kepalanya, menggoyang-goyangkan tubuh Haris sembari masih terisak. Berkali-kali hatinya seperti jatuh ke dasar jurang nestapa, berharap lelaki di depannya itu menjawab pertanyaannya, atau paling tidak sekadar membelanya. " Kamu memercayaiku, kan?" lirihnya lagi.
Diam.
Sama seperti sebelumnya, hanya ada suara isakan dari umi yang terdengar. Ia menangis dalam hati, nyatanya lelaki yang sekarang berada di depannya tak membela sedikit pun.
Di mana mata teduhnya dulu? Di mana senyum hangatnya dulu? Di mana? Teriaknya dalam hati.
Hatinya rapuh, menatap kembali mata hitam legam itu yang tak ingin beralih kepadanya.
Ia memukul-mukul d**a Haris pelan, hatinya tersayat ketika menatap Haris yang tak kunjung membelanya malah sekarang mendiamkannya.
"Ris... "lirihnya lagi, ketiga sudah ia memanggil dan bertanya kepada Haris.
Masih tidak ada jawaban.
Hatinya hancur berkeping, napasnya tersengal akibat terlalu banyak menangis. Ia kembali menggeleng.
Tidak mungkin. Tidak mungkin. Haris pasti akan membelaku, kuatnya dalam hati.
"Ris---"
"Kamu yang melakukannya."
Deg!
Dadanya sesak, ia terguncang. Pernyataan dari Haris cukup mampu menohok ulu hatinya. Sayatan demi sayatan jelas timbul dan berbekas di sana.
Ya Allah....
Mengapa seperti ini? Aku tidak sanggup, Ya Allah... tak sanggup menerima semua ini. Ya Allah mengapa harus aku? Bolehkah aku berkeluh kesah kepadamu jika aku tak sanggup lagi menahannya?
Haris, bukankah kamu dulu mengatakan jika akan selalu melindungiku? Jika aku dan kamu adalah kita?
Matanya mulai meredup, napasnya mulai tersengal, matanya semakin memerah. Susah untuk digerakkan.
Ya Allah, aku tak sanggup lagi, tangisnya dalam hati.
Dada Haris berdesir, mendengar isakan tangis yang tiada ujungnya dari Linza. Seperti teriris saat melihat matanya yang semakin memerah.
Mengapa aku iba? Bukankah pantas aku melakukan ini? Menghukumnya agar tidak mengulangi lagi, lirihnya dalam hati sebelum benar-benar meninggalkan Linza bersama umi.
***
Seorang gadis berjilbab ungu tersenyum, menatap Haris yang juga menatapnya. Beberapa detik kemudian, ia berterima kasih kepada Haris.
"Terima kasih," katanya sembari masih menatap Haris yang tersenyum kepadanya.
Tangan gadis itu mencoba meraih tangan kekar Haris. Haris mendekat. Bagaimana pun juga, gadis di depannya ini sudah mulai menguasai setitik hatinya. Sekarang ia baru tahu ampuhnya pepatah Jawa witing tresna jalaran saka kulina, bermakna bahwa jatuh cinta bisa bermuara dari saling bersama dan saling bertemu.
"Kamu tidak apa-apa?" tanyanya kepada gadis yang sedang bermanja-manja di bahu kekarnya. Sesekali gadis itu mengatupkan mulut, mengedipkan mata kepada Haris, hingga memainkan hidung mancung milik Haris.
"Jangan mengkhawatirkanku, aku baik-baik saja." Ia tersenyum lembut kepada Haris, kemudian mengusap pipinya lembut.
"Di mana Linza?" tanyanya setelah celingak-celinguk ke seluruh penjuru ruangan dan tidak menemukan batang hidung Linza. Wajah Haris mendadak berubah.
"Jangan tanyakan dia." Wajahnya berubah menjadi dingin.
Gadis itu mengernyitkan dahinya. "Kenapa?"
Diam.
Mulutnya bungkam, sepertinya Haris tak tega untuk benjabarkan kejadiannya. Hatinya kembali berontak untuk mengatakan jika Linza pelakunya. Dalam hati kecil berbicara jika itu semua salah.
Mengapa aku membelanya bukankah jelas-jelas dia salah? Apa yang harus kukasihani dari dia? Bukankah ini adalah balasan yang setimpal darinya?
Dalam hati ia menangis, Ya Allah benarkah apa yang aku lakukan ini? Pilu menyelimuti jiwanya.
Apakah dengan begini bisa membuatnya jera, Ya Allah? Ataukah aku terlalu keras kepadanya?
Di tengah pergulatan jiwanya itu, gadis di depannya, Aisyah mencium pipinya penuh mesra.
"Jika nanti aku sudah diperbolehkan pulang, ajaklah aku untuk berjalan-jalan sebentar denganmu. Lama sepertinya aku tak berjalan-jalan denganmu. Terakhir kali saat kita semester satu, bukan?" tanyanya kepada Haris. Yang ditanya masih kalut, hatinya dirasa dilema, apa benar yang dilakukannya ini?
"Haris?" Lamunannya terpecah setelah mendengar panggilan dari Aisyah.
"Iya?" tanyanya setelah bangun dari rasa kalutnya. Gadis di depannya tersenyum, kemudian menggeleng.
"Aku hanya ingin nanti kita jalan-jalan," ujarnya sembari menepuk lembut pipi Haris. Haris tersenyum kaku. Mengiyakan permintaan gadis di depannya.
Bunyi pintu berderit, seorang lelaki paruh baya menyembul dari baliknya.
"Racun-racunnya telah dikeluarkan selama beberapa hari ini. Ananda Aisyah sudah dapat pulang. Selamat," katanya setelah memeriksa, lalu pergi lagi. Mungkin ada urusan dengan pasien lain. Begitu pun dengan para suster yang mengawalnya, mereka ikut keluar menyisakan sepasang suami istri itu.
Senyum Haris mengembang, menatap gadis yang sekarang ini di depannya.
Gadis itu mendekatkan dirinya pada Haris. Wajahnya perlahan bergerak mendekat.
Dekat.
Semakin dekat.
Degupan jantung Haris meningkat. Dari jarak sedekat ini embusan napas Aisyah sudah cukup mampu dirasakannya.
Deg!
Linza yang berdiri di balik pintu itu hatinya robek, terseok-seok hingga menohok ulu hatinya yang terdalam. Kembali, jiwanya seperti terjatuh ke dasar jurang duka nestapa yang dalam, amat sangat dalam.
Matanya berkaca, dadanya bergemuruh, menyaksikan sesuatu yang diakuinya cukup mampu membuat hatinya terjatuh.
Perlahan, pelupuknya basah oleh cairan bening yang bermuara dari mata. Mengalir hingga ke pipi. Rasa-rasanya, air matanyalah yang mampu menjabarkan keadaannya sekarang ini, yang mampu mendeskripsikan hatinya saat ini.
Ia menyeka air matanya, lalu pergi dari sana. Kenyataan bahwa ia akan menjenguk sekaligus menjelaskan semuanya kepada Aisyah tentang kebenaran yang terjadi sekarang malah membuatnya dirundung rasa kepiluan.
Ya Allah.... Aku tak sanggup lagi... lirihnya sembari berlari kecil menjauh menuju jalanan utama.