Semakin Dekat

1015 Kata
“Untuk semua Jeja sebelum lari kita streching dulu,” titah Laura. “Baik sabeum Laura.” Kali ini Laura memimpin pemanasan sebelum lari dan latihan inti di mulai. Dengan aba-abanya semua jeja mengikutinya. Pemanasan dimulai dari leher sampai dengan kaki untuk mencegah cedera saat latihan selanjutnya. Setelah itu semua jeja melakukan lari dengan rute melewati gang-gang di daerah sekitar tempat latihan club Sedayu. Lari kali ini jarak tempuhnya diperluas dan jika diukur kurang lebih 2 km. Setiap kegiatan lari ini diberikan penilaian sesuai dengan waktu tempuh tercepat. Lari ini merupakan latihan fisik daya tahan kardiovaskuler, latihan ini diberikan agar daya tahan aerobik atlet terbentuk sehingga tidak mudah kelelahan dalam menjalani pertandingan yang berlangsung lama. Daya tahan anaerobik juga sangat penting untuk dilatihkan karena memang dalam taekwondo sistem energi anaerobik yang paling dominan. Latihan inti hari ini berlatih kecepatan yaitu drill peta chagi, dollyo chagi atau idan dollyo. Kecepatan merupakan komponen yang sangat penting dalam pertarungan taekwondo. Pertandingan taekwondo sangat dipengaruhi oleh kecepatan tendangan, sebab jika kalah sedikit saja maka akan sulit untuk mendapatkan poin. Teknik-teknik tendangan dalam taekwondo bisa dipakai untuk membuat model latihan kecepatan. Semua jeja sangat antusias berlatih hari ini begitu juga dengan sabeum Laura yang sebentar lagi ikut beberapa pertandingan. Tak terasa latihan hari ini pun selesai. Hari sudah gelap. Laura melaksanakan sholat magrib di mushola dojang. Banyak jeja-jeja yang sudah dijemput orang tuanya dan ada juga yang membawa kendaraan sendiri. Laura segera mematikan lampu dan mengunci pintu. Saat Laura mau mengambil hp di tas nya untuk memesan gojek, seseorang menghampirinya. “Kebetulan Aku lewat, yuk pulang bareng?” suara yang sudah mulai dikenalnya masuk ke gendang telinga Laura, suara siapa lagi kalau bukan Arga. Arga berpenampilan santai tidak seperti tadi siang yang memakai seragam sekolah. Arga terlihat lebih menawan dengan pakaiannya ini. “Dari mana Ga?” “Tadi aku beli obat di apotek deket sini. Kebetulan liat anak-anak taekwondo pada pulang. Pas aku lewat sini gak sengaja lihat kamu.” “Oooh.” Laura memakai helm yang diberikan Arga dan segera membonceng. Motor sport Arga mulai meluncur di jalanan. “Mampir makan malam dulu ya.” Arga menghentikan motornya di warung tenda penyet ala Lamongan. “Ga, kamu gak dicari orang rumah. Tadi kan beli obat?” “Sante saja, obat di rumah masih ada. Ini buat jaga-jaga kalau habis saja.” Arga menunjukkan beberapa bungkus obat dari apotek. “Baiklah kalau itu mau kamu.” Laura hanya bisa mengendikkan bahu dan segera duduk lesehan berhadapan dengan Arga. “Sudah pernah makan di sini sebelumnya?” tanya Arga. “Belum sih.” Arga segera memesan 2 menu ayam penyet plus lalapan sambal dan 2 menu es teh manis. Penjual segera membuatkan pesanan-pesanan. “Aku sudah sering ke sini. Enak banget penyetannya bikin nagih.” Pesanan datang dan mereka berdua mulai menyantapnya. “Hmmm enak banget Ga. Bener apa katamu tadi.” “Nah, bener kan? Mau bungkus sekalian buat orang rumah?” “Boleh Ga.” Arga memesan penyetan lagi yang untuk di bawa ke rumah. Penjual pun segera membuatkannya. Sambil menikmati menunya mereka berdua mengobrol dan menjadi semakin akrab. “Kapan pertandingannya, Laura?” “Hmmm, Desember semuanya. Huft, Aku harus berlatih lebih keras lagi.” “Ingat kondisi badanmu, jangan sampai drop. Sabeum Laura, benarkan?” Arga memanggil Laura dengan sebutan Sabeum yang artinya pelatih pemegang sabuk hitam dengan tingkat DAN 1-3. “Arga, terimakasih.” Tak terasa makanan yang mereka santap habis tak bersisa. Saking enaknya penyetan di warung tenda ini. Setelah membayar semuanya, mereka gegas meninggalkan warung itu dan pulang ke rumah. Arga mengantarkan Laura sampai depan rumahnya dan Arga segera melanjutkan perjalanan menuju ke rumahnya yang jaraknya tidak terlampau jauh dari rumah Laura. *** Beberapa minggu kemudian para pelajar mulai mengikuti UAS di semester 1 ini tak terkecuali Arga dan Laura. Semua pelajar di SMA ini semangat belajar untuk menghadapinya demi nilai rapor yang memuaskan dan berguna sekali untuk bisa masuk dalam siswa yang eligible. Mereka berlomba-lomba untuk itu. Beban Laura menjadi semakin banyak karena ini, dia harus belajar lebih keras lagi karena seringnya tidak masuk sekolah sebab ikut banyak pertandingan di semester ini. Untuk mengejar ketertinggalan kadang dia tidur sampai larut malam padahal dia juga harus tetap berlatih fisik untuk menghadapi kejuaraan. Sungguh dia capek sekali. Kadang dia berfikir untuk menyerah tapi diurungkan kembali, dia merasa sudah berjalan lebih jauh. Sia-sia jika harus berhenti di tengah jalan. Orang tuanya mendidik sangat keras dari dia masih kecil. Mereka menuntut semua berjalan seimbang, akademik harus bagus dan non akademik juga harus luar biasa. “Des, gimana? Bisa?” Laura merasa jawabannya atas soal hari ini tidak memuaskan. “Lumayanlah. Ada beberapa yang aku jawab asal. Kamu gimana?” “Ya gitu deh. Berserah saja lah, aku sudah berusaha,” jawab Laura agak lesu. “Ayo, kita ke kantin. Penting UAS udah selesai tinggal ikut remidi beres. Gak usah terlalu difikirkan bikin stres.” Desi dan Laura segera beranjak ke kantin untuk menikmati makanan kesukaan mereka. Mie dicampur dengan bumbu kacang, menu favorit mereka berdua dan bahkan siswa-siswi yang lain. Gorengan yang dipotong-potong dicampur bumbu kacang juga tak kalah enaknya. Meja pojok adalah tempat yang pas dan favorit bagi keduanya dan beruntungnya saat mereka ke sana masih kosong belum ditempati orang lain. “Arga gimana Laura?” “Gimana-gimana? Maksudmu Des?” “Ah itu aku sampai lupa, yang dia pernah ajak kamu sepulang sekolah itu. Kamu masih hutang penjelasan sama aku.” “Oooh itu to, biasa saja. Pas itu ingat gak? Nenek yang kutolong yang hampir ke tabrak Arga pingin ketemu. Jadinya Aku ke sana sama Arga.” “Ooh ya ya ya. Nenek itu sehat kan?” “Alhamdulillah sehat Des. Pulang dari sana dibawain banyak macam buah-buahan. Beruntung juga pas itu.” “Wah, enak banget dong.” Mereka mengobrol sambil menikmati makanan favorit mereka. “Laura, lihat di angka jarum jam 2. Itu si Arga sama siapa? Gebetan baru?” Laura melirik sekilas dan melanjutkan makannya lagi. Arga dan seorang siswi cantik makan bareng di kantin sebelah, terlihat akrab dan mesra. “Bukan urusanku. Kita tidak sedekat itu kali Des.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN