Bab 3

1184 Kata
Adrian seketika terdiam saat merasa termakan oleh ucapannya sendiri. Adrian kini lebih memilih untuk berpura-pura tidur karena pesawat sudah akan segera mendarat. "Apa kamu tahu, kira-kira Ratna sekarang tinggal di mana?" tanya Rendi saat mereka sedang berjalan di bandara. "Berisik! Aku jadi semakin pusing mendengar kamu yang terus saja berbicara." Mereka berdua kini mengedarkan pandangannya untuk mencari seseorang yang akan menjemput mereka berdua di bandara. Rendi seketika mengukir senyum sambil melambaikan tangan saat melihat pria berbadan kekar yang juga tengah melambaikan tangan ke arah mereka. Namun, senyuman seketika sirna saat melihat seorang perempuan yang juga ikut berdiri di samping si pria. "Kamu yang menyuruh Sisil datang ke sini juga?" tanya Rendi dengan tatapan tak suka. "Enggak. Aku bahkan gak ngasih tau dia kalau kita pulang hari ini." "Ternyata dia masih belum menyerah rupanya, dia tetap ngejar kamu, padahal kamu sudah nolak dia mentah-mentah." Ucap Rendi seraya menatap seorang perempuan yang kini mulai melangkah menghampiri mereka. "Apa dia gak sadar, kalau dulu kamu dekat sama dia cuma karena kamu suka sama adiknya. Kamu bahkan sampai mabuk berat malam itu hanya karena kamu gak suka lihat Ratna dekat dengan pria lain." "Berhenti bicara omong kosong! Aku sama sekali gak pernah suka sama Ratna." "Karena setelah kamu kenal sama Sisil, kamu jadi gak suka sama Ratna. Padahal aku tahu kalau kamu suka sama dia." Ucap Rendi dalam hati. *** Di kediaman Adrian, Sebuah rumah mewah tiga lantai dengan gaya minimalis, namun desain interiornya sangat berkelas dan juga mewah. Jika orang-orang yang hanya melihat seorang Adrian dari luarnya saja, pasti akan berfikir jika Adrian adalah seseorang yang memiliki segalanya. Namun, bagi seseorang yang sudah mengenal seorang Adrian dengan sangat baik, Adrian hanyalah seorang pemuda pendiam yang bahkan tidak terlalu menikmati kekayaan yang dimilikinya saat ini. Saat ini, Adrian sedang membahas rencana pembukaan sebuah kedai es krim di kota Bandung bersama dengan Rendi. Rencananya kedai es krim itu akan di buka sekitar tiga hari lagi. Dan Rendi sudah mempersiapkan semuanya dengan sempurna. Adrian juga akan menjabat sebagai salah satu pimpinan perusahaan di kantor pusat milik keluarga Baskara. "Apa kamu sendiri yang akan memantau perkembangan kedai es krim yang ada di Bandung selama beberapa bulan kedepan?" tanya Rendi. "Iya. Aku ingin merasakan hal yang baru." Adrian meminum segelas kopi rendah gula yang menjadi minuman favoritnya. "Baguslah. Mungkin, kamu bisa merasa sedikit lebih tenang di sana dan mengenal orang-orang baru. Aku dengar Bandung sangat terkenal dengan keindahannya. Semoga kamu bisa betah di sana." Jawab Rendi yang setuju dengan keputusan Adrian. la tahu betul seperti apa sifat seorang Adrian karena mereka sudah berteman sejak masih kanak-kanak sampai keduanya mendapat sebutan 'Dou Tampan'. Adrian sebenarnya adalah seseorang yang sedikit gila kerja, kesehariannya banyak di sibukan dengan pekerjaan dan sangat jarang sekali berfoya-foya atau hanya untuk sekedar menghadiri pesta. *** Hari ini warga kota Bandung sedang ramai membicarakan pembukaan cabang kedai es krim yang sudah terkenal hampir di seluruh pelosok negeri dan bahkan sudah viral di beberapa sosial media apalagi di kalangan anak-anak. Hari ini adalah hari pembukaan kedai es krim milik Adrian yang berada di kota Bandung. Dan di hari pertama kedai es krim itu dibuka, Adrian menggratiskan semua menu es krim di kedai tersebut. Hal itu juga membuat beberapa warga yang kurang mampu memanfaatkan hal tersebut untuk mencoba merasakan makanan yang jarang sekali mampu mereka beli. Berbanding terbalik dengan Ratna yang kini tengah menguci diri di rumah dengan anak-anaknya setelah tahu kalau Adrian membuka kedai es krim di kota yang saat ini ia tinggali. Ia sama sekali tidak pernah berfikir kalau Adrian akan membuka cabang di kota ini dari sekian banyaknya kota. Sebenarnya dari semalam Jio dan Jia yang juga mendengar kabar itu ingin sekali pergi kesana, namun tak mendapat izin dari Ratna. Apalagi es krim adalah salah satu makanan favorit mereka berdua. Mereka bahkan sangat jarang makan es krim karena harus menunggu sang Ibu mendapat gaji. "Ma ... kenapa kita tidak pergi ke sana seperti orang-orang? Mama kan tahu kalau aku dan Jia sangat menyukai es krim," tanya Jio yang kini duduk di samping sang Ibu. Ratna segera memeluk Jio lalu mencium puncak kepalanya beberapa kali. Ratna selalu berusaha terlihat tegar di hadapan anak-anaknya dan sama sekali tidak menunjukkan air mata. "Jio ... Kita jangan terlalu bergantung pada pemberian orang lain. Kita belajar mandiri dengan tidak bergantung pada belas kasihan orang. Ngerti, Nak?" "Iya Ma." Jio juga ikut memeluk tubuh Ibunya dengan sangat erat. "Nanti kalau Mama udah gajian, kita beli es krim yang banyak di mini market. Jio boleh memilih semua rasa yang Jio mau. Jadi, kita di rumah aja ya, Nak." Bujuk Ratna memberi pengertian pada sang anak. Jio hanya mengangguk lirih sebagai jawaban. Sampai akhirnya Ratna mengurai pelukannya karena mendengar suara ketukan pintu. "Siapa yang mengetuk pintu?" Ratna bergumam seraya bangkit dari duduknya. Ratna segera melangkah menuju pintu dan saat pintu terbuka Ratna melihat seorang perempuan yang berusia sekitar 40 tahun. "Ratna, kemarin kamu berjanji akan membayar uang sewa rumah ini. Jadi, aku datang lagi ke sini hari ini." "Emh, Maaf Bu Sinta, kemarin penyakit Jia tiba-tiba kambuh. Jadi, uangnya aku gunakan dulu untuk biaya rumah sakit." Jawab Ratna sambil mengusap tengkuknya karena merasa malu. Jia memiliki penyakit kelainan jantung bawaan yang membuatnya terkadang mengalami kesulitan untuk bernapas. Raut wajah wanita itu seketika berubah masam setelah mendengar jawaban Ratna. Wanita yang selalu terlihat ramah itu kini berubah menjadi ketus. "Selalu saja itu yang menjadi alasan kamu. Aku sudah tidak percaya lagi dengan alasan itu. Lagian anak kamu itu merepotkan sekali, bisanya cuma sakit-sakitan saja!" Ratna yang tadinya menunduk malu seketika mendongak lalu menatap tajam ke arah Bu Sinta setelah mendengar kalimat yang menyinggung anaknya. Ratna akan berubah menjadi seorang Ibu Singa jika ada yang menyinggung soal anak-anaknya. Cukup dirinya saja yang menjadi gunjingan banyak orang, tapi tidak untuk anak-anaknya. "Ibu bilang apa tadi? Anakku merepotkan?" Ratna membusungkan d**a sambil melangkah ke depan dan membuat nyali Bu Sinta ciut. "Hei .. Ratna ... Kenapa jadi kamu yang nyolot?" Ucap Bu Sinta dengan sedikit gugup. "Seharusnya aku yang emosi karena kamu tinggal di sini dan gak mampu bayar." "Aku hanya belum memiliki uang untuk membayarnya, dan aku berjanji akan membayarnya setelah mendapatkan uang." "Ka .. kalau kamu gak mampu bayar, lebih kamu angkat kaki dari rumah ini." Mendengar ucapan Bu Sinta sama sekali tidak membuat Ratna takut. Ia justru kini semakin mendekatkan dirinya dengan Bu Sinta lalu membisikkan sesuatu. "Kalau Bu Sinta berani mengusirku dari sini, aku akan memberi tahu semua warga kalau Ibu adalah dalang masuknya para lintah darat ke kota ini dan membuat banyak warga terlilit hutang." "Berani sekali kamu mengancamku?" Jawab Bu Sinta yang sedikit terkejut karena ternyata Ratna mengetahui rahasianya. "Aku hanya meminta waktu untuk membayar sewa rumah ini. Aku pasti akan membayarnya kalau nanti sudah mendapat uang gaji. Jadi, silahkan pergi baik-baik." Setelah berkata seperti itu Ratna segera menutup pintu rumah dan kembali menghampiri Jio. "Siapa yang datang, Ma?" tanya Jio saat sang Ibu sudah kembali duduk di sampingnya. "Oh, tadi itu Bu Sinta, katanya kalau ada apa-apa sama rumah ini, suruh panggil dia saja." Sesaat kemudian tatapan Ratna menatap seisi rumah karena tidak menemukan kehadiran Jia di sana. "Jio, ke mana Jia?" *********** ***********
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN