"Mimpi aja lo sana, ngapain cemburu sama makhluk yang bernama Leon itu. Lagian lo itu gak ada apa-apanya di mata gue." Disya mempautkan bibirnya. "Itu mulut ya kejam amat sih, untung cinta coba kalo nggak? Itu bibir udah habis dilumat eh dicabik maksudnya." "Lo ngomong ngeri-ngeri sedap gitu ya Dis, lo gak sadar apa di sini masih ada gue yang masih bisa denger apa yang lo ucapkan." Suara Leon menyentakkan Disya dari rasa kesalnya. "Ah, bodo' ah!" "Lo kenapa lagi sih? Jadi makan siang gak?" Disya menggelengkan kepalanya, "Biasa, itu suami kok gak cair-cair sih hatinya. Ya sudah ayo makan! Dengerin suara Bang Olan bikin perut makin lapar." Leon terkekeh geli, "Bisa aja lo! Oh, iya, gini aja karena gue ada ide, lebih baik kita makan siang di meja lo." Disya menaikkan alis sebelahnya, "

