Part 3 - Melt

1320 Kata
"Pacarku memang dekat, Lima langkah dari rumah, Tak perlu kirim surat SMS juga nggak usah, Kalau ingin bertemu, tinggal nongol depan pintu, Tangan tinggal melambai, sambil bilang halo 'sayang' Duh aduh memang asik, punya pacar tetangga. Biaya apel pun irit...." "Asik benar lagunya, untuk Kak Orlando, ya, Dis?" Celutuk Arlyna yang sedang berdiri di tengah pembatas antara rumahnya dengan rumah Disya. Disya yang sedang bermain tanah hitam hanya tertawa kecil. "Iya, tahu aja deh, Kak Lyna." Ujarnya, lalu ia menyalakan keran air. Setelah itu, Disya membersihkan tangannya melalui keran air tersebut. "Oh, iya, Dis. Nih, tolong berikan pada adikmu ya." Disya mengernyit bingung, tetapi, ia tetap mengambil benda tersebut dari Arlyna. Disya mengamati benda itu. "Ini apaan?" Tanya Disya bingung. Arlyna tersenyum, "hadiah ulang tahun dari Orlando untuk adikmu. Kalau aku, kan sudah, nah, tinggal Bang Orlando yang belum mengasih kado pada Kenzo." Jelasnya. Disya mengerucutkan bibirnya, Arlyna mengernyit bingung melihat perubahan wajah Disya yang berubah menjadi cemberut. "Kenapa, Dis? Kok, wajahnya di tekuk gitu? Aku ada salah ngomong ya?" Disya menggeleng lemah, matanya menatap kado dari Bang Olannya untuk si Kenzo dengan sedih. "Kalau nggak ada apa-apa, kenapa wajahmu jadi murung?" Tanya Arlyna, gadis itu penasaran mengapa raut wajah Disya berubah cepat. "Bang Olan...." Disya memberi jeda, membuat Arlyna menunggu lanjutannya dengan gemas. "Ada apa dengan Bang Olanmu tercinta?" Tanya Arlyna seraya tersenyum geli. "Huee..., masa pas Kenzo ulang tahun dianya kasih kado, tiba Disya ulang tahun, Bang Olannya gak kasih Disya kado. Boro-boro kasih kado, ucapin aja gak pernah. Kan jahat banget, Bang Olan-nya." Rengeknya. Arlyna tertawa mendengar aduan dari Disya, jujur, Arlyna senang mengenal Disya walaupun gadis itu suka sekali menjahili kembarannya. Namun, sang Mama juga menyukai Disya. Bahkan, Mamanya pernah bilang dia ingin punya menantu seperti Disya. Mendengar hal itu, Orlando langsung tersedak minumannya saat Mamanya berkata seperti itu. Bukan Mamanya saja yang ingin menjadikan Disya menantunya, namun, Papanya pun menyetujui hal itu. Karena, keduanya bisa melihat ketulusan dari gadis itu. Lihat saja, Disya dari kecil sudah menyukai Orlando. Tapi, dasar Orlandonya saja yang terlalu bodoh, yang tidak bisa melihat ketulusannya Disya. "Sudah jangan sedih, lebih baik hancurin kencannya suami masa depanmu." Dan kesedihan Disya langsung menguap seketika, kencan?! Bang Olan kencan?! "Bang Olan kencan?" Tanyanya berupa bisikkan. Arlyna mengangguk, "iya, dia kencan jam tujuh nanti, cepat siapin strategi, aku cuma bantu do'a sama temani kamu menguntit Bang Orlando saja, semoga kencan Bang Orlando gagal entah untuk ke berapa kalinya gara-gara kamu seorang." Lihat, calon adik iparnya saja tidak mau memiliki calon kakak ipar yang lain selain dirinya. Disya nyengir, saat di kamarnya, ia masih memikirkan langkah-langkah untuk menghancurkan kencan Bang Olan. Pernah, Arlyna bertanya padanya bagaimana jika Orlando menikah dengan gadis lain? Maka jawabannya adalah: siapkan minyak tanah dan korek api. Sebelum acara pernikahannya, ia akan membakar baju akad nikah mempelai pria dan wanitanya. Kejam? Masa bodoh. Toh, dia gak rela bila pujaan hatinya menikah dengan wanita lain. Mungkin di luar sana pasti banyak yang bilang, kita harus ikhlas melihat orang yang kita cintai bahagia bersama pilihannya. Itu hanya omong kosong. Jika itu yang mereka pilih, memangnya mereka sanggup melihat pujaan hatinya menikah dengan yang lain tanpa air mata? Pasti tidak. Setegarnya seseorang, ia pasti menangis bila melihat orang yang kita cintai berbahagia dengan yang lain. Maka, sebelum Bang Olan bersama teman kencannya melangkah ke jenjang yang serius, ia memutuskan untuk mengganggu acara kencannya. Pusing karena memikirkan step by step kencannya Bang Olan, ia memutuskan untuk duduk di balkon. "Iya, jadi. Apa? Oh, oke, baik. Jam berapa nontonnya? Oh, kamu udah pesanin tiketnya? Ya sudah, nanti aku ganti uangnya. Bye." Dari balkon kamarnya, Disya memandang Bang Olan yang serius menelpon seseorang. Terasa dipandangi, Orlando menoleh, matanya menatap ke dalam bola mata Disya yang berwarna cokelat. "Hai, Bang Olan." Sapa Disya, seraya memasang senyum termanisnya. Orlando mendengus, tanpa menjawab sapaan Disya, pria itu langsung masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan Disya yang sedang jengkel karena Bang Olan-nya tidak membalas sapaannya. ♡♡♡ Tepat pukul tujuh malam, Disya telah bersiap-siap. Tinggal menunggu Arlyna menjemputnya. Karena, rencana merusak kencan Bang Olan-nya bersama Arlyna. Karena, Arlyna senang sekali bila melihat acara kencan Orlando gagal total karena Disya. Sembari menunggu Arlyna, Disya duduk di ayunan sambil bersenandung kecil. "Hei, sudah siap daritadi, ya?" Suara Arlyna menginstrupsi Disya, Disya langsung berdiri mendekati Arlyna yang telah siap dengan pakaian kasualnya. "Barusan, yuk, Disya udah gak sabar, nih, mau menggagalkan acara kencannya Bang Olan." Ujarnya semangat sambil terkekeh geli. Arlyna tertawa, "kamu ini, senang banget melihat Bang Ando gagal kencan." "Ya, senanglah, emangnya Kak Lyna mau punya calon kakak ipar selain Disya? Pasti nggak, kan?" Ujarnya terlalu percaya diri. "Tentu saja tidak, bagaimana pun juga, Kak Lyna maunya kamulah sebagai Kakak iparku." Setelah itu, Disya dan Arlyna pergi ke mall di mana tempat Orlando berkencan. Mereka menaiki mobil Arlyna, sepanjang perjalanan, Disya dan Arlyna tak henti-hentinya tertawa, menertawai hal-hal yang menurut mereka itu lucu. Arlyna memarkirkan mobilnya di pelantaran parkir mall, lalu Disya dan Arlyna mencari Orlando di dalam mall tersebut. Setelah tiga belas menit mencari Orlando, akhirnya mereka berdua menemukan Orlando sedang makan malam bersama teman kencannya. Teman kencannya sangat cantik, memakai dress selutut berwarna merah, dan wedges yang warnanya juga senada dengan dress-nya. Orlando dan teman kencannya akhirnya keluar dari restauran tersebut. Sedangkan Disya dan Arlyna, mereka tetap menguntit Orlando bersama teman kencannya diam-diam sampai akhirnya, Orlando dan teman kencannya itu masuk ke dalam bilik studio. Ternyata mereka mau menonton film. Arlyna menarik tangan Disya agar mereka masuk ke dalam bilik studio, namun, Disya menggeleng karena ia belum membeli tiket filmnya. "Kak Lyna, kita gak bisa masuk kalau gak ada tiket." Arlyna tersenyum iblis, lalu ia mengeluarkan dua lembar tiket di dalam tasnya. "Siapa bilang kita gak bisa masuk, nih, tiket sudah ada di tangan. Ayo, kita masuk." Saat Disya hendak bertanya sejak kapan Arlyna membeli tiket pertunjukkan, namun, tangannya langsung ditarik oleh Arlyna. Sehingga ia tidak bisa bertanya karena Arlyna tidak ingin membuka sesi pertanyaan. Disya dan Arlyna duduk di seat bagian A sedangkan Orlando bersama wanitanya duduk di bagian seat B. Selama pertunjukkan film, Disya tak henti-hentinya menggeram tatkala tangan wanita itu menggelayut mesra di lengan Orlando. Hey, seharusnya dialah yang melakukan hal tersebut kepada Bang Olan, bukan wanita itu. Kalau begini, dia tidak bisa fokus menonton, tapi, ini bukan saatnya untuk fokus menonton. Tetapi fokus mengintai Bang Olan bersama teman kencannya. Setelah perrunjukkan film telah selesai, Disya dan Arlyna terus membuntuti kedua pasangan tersebut. Orlando dan teman kencannya berhenti di depan toko baju, dikira Disya dan Arlyna mereka mau masuk ke dalam toko baju, malah, Orlando sedang bersiap mencium kening wanita tersebut dengan langkah slow motion. Karena tidak rela Bang Olan-nya mencium kening wanita lain, Disya berlari dan menyingkirkan tubuh wanita itu sebelum bibir Orlando berhenti di kening wanita itu, akhirnya sesuai harapan, bibir Orlando meleset ke kening Disya. Disya menikmati momen tersebut sampai ia memejamkan kedua bola matanya, meresapi bibir Orlando yang berada di keningnya. Tanpa mereka sadari, Arlyna memotret kejadian tersebut dengan ponselnya. Jantung Disya berpacu dengan cepat, rasanya ia ingin menghentikan waktu sekarang juga. "Oh Tuhan, kenapa jadi lo yang gue cium?" Tanya Orlando terheran, lalu mata pria itu menatap teman kencannya yang jatuh terduduk karena efek dorongan Disya yang kuat. Orlando membantu wanita itu berdiri, setelah itu ia meminta maaf kepada wanita tersebut. Lantas, Orlando meninggalkan Disya yang menatap punggungnya dengan sedih. Tadinya, pria itu sempat ingin bertanya bagaimana bisa ia mencium Disya, tapi ia urungkan, toh, dia bisa bertanya nanti pas tiba di rumahnya. Kan tetangga. Line.... Suara Line masuk ke dalam ponsel Disya, Disya membuka Line-nya, ternyata pesan dari Arlyna yang berisi foto saat Orlando tidak sengaja mencium keningnya. "Tuh, aku sudah foto'in, bagus gak?" Tiba-tiba Arlyna berada di sampingnya. Disya tersenyum seraya mengacungkan jempolnya. "Bagus banget, aku share ke i********: ya." "Oke, share aja, tapi jangan lupa tag si Ando." Disya mengangguk, lalu ia mengirim foto tersebut ke akun i********:-nya. Disyaariana: langsung meleleh karena efek ciumannya @orlandoedwardo Semoga di like, amin....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN