“Bu, Zian kenapa masih enggakk masuk sekolah ya?”Tanya Renata pada Bu Imas wali kelasnya ketika mengumpulkan PR teman-teman sekelasnya di ruang guru.
“Zian ada acara keluarga, kemarin Ibunya kontak Ibu katanya besok baru masuk.”Jelas Bu Imas agak jengkel karena hampir setiap hari Renata menanyakan Zian padanya yang tentu saja setiap harinya akan di jawab alasan yang sama oleh bu Imas.
“Hmmm gitu ya Bu, kira-kira acara apa ya? Kok kayaknya lama banget ya Bu?”Tanya Renata masih penasaran.
Bu Imas menatap Renata dengan pandangan menyipit curiga. “Ren, kamu naksir Zian ya?”
Renata menatap bu Imas gugup. “E-enggakk Bu, disuruh anak-anak buat nanyain ke Ibu soalnya.”
“Masa suruh nanyain tapi setiap hari? Kenapa kalian enggakk kontak langsung ke Ziannya? Kayak WA, BBM atau Line?”
“Enggakk dibalas Bu,”Jawab Renata cepat.
“Kamu ada salah kali sama Zian, makanya enggakk dibalas.”
“Enggakk deh Bu, mungkin Ziannya enggak punya kuota.”Jawab Renata polos.
Bu Imas tertawa kecil mendengarkan jawaban Renata, mungkin pikirnya gimana bisa anak dari orangtua yang donaturnya paling besar di sekolah enggakk punya kuota internet. “Sabar aja, besok juga dating,”Jawab bu Imas akhirnya.
Renata mengangguk cepat. “Kalau gitu saya permisi ya Bu.”Pamit Renata dan berjalan cepat menuju pintu ruang guru.
“Renata ya?”Tanya seorang wanita cantik berjilbab yang Renata tahu sebagai saingannya. Bagaimana tidak, hanya kepada gadis bernama Asri inilah Zian tersenyum.
“Kenapa? Nyari Zian?”Tanya Renata ketus.
Asri tersenyum lembut. “Zian kan lagi enggakk sekolah, dia baru masuk besok.”
“Kok tahu?”
“Zian ngabarin aku lewat WA,”Jawab Asri.
Renata mendengus dalam hati, benar-benar Zian ini minta di takol kayaknya, masa balas chat Asri bisa tapi balas chat dirinya enggakk bisa. Benar-benar enggak adil! Renata mau protes besok kalau Zian datang.
“Oh bagus deh kalau tahu, terus ada urusan apa ya?”
“Kamu mau ikut berpartisipasi perlombaan puisi antar sekolah yang diadakan salah satu media local? Arka minta aku untuk nawarin kamu ini sebagai perwakilan sekolah kita..”
“Arka? Anak kelas XI itu? Ngapain dia ngajakin gue buat gabung? Dia naksir sama gue?”
“Aku kurang tahu ya Ren, aku cuma di suruh Arka buat nawarin ini ke kamu.”
“Enggakk deh makasih, gue sama sekali enggakk ada niatan buat ikut atau bantu klub manapun.”
“Kenapa? Setahu aku kamu waktu SMP selalu ikut perlombaan karya tulis, kamu juga unggul di pelajaran bahasa Indonesia.”
“Gue rasa itu bukan urusan lo. Kok lo bisa tahu soal SMP gue? Jangan-jangan lo nge fans ya sama gue?”
“Aku tahu dari Adit kok.”
Mendengar nama Adit disebut, Renata mendadak gugup. “Adit? Adit siapa ya?”
“Aditya Pratama, kamu kenal kan? Dia itu sepupu aku.”
Renata melotot mendengar jawaban Asri. “Sepupu? Gue..”belum selesai Renata berucap terdengar suara bel selesai istirahat. Renata masih ingin menanyakan sesuatu kepada Asri, namun mengingat jika setelah istirahat pelajaran Agama dimana guru tersebut sangat disiplin dan jika murid yang datang terlambat setelah Pak Tatang maka murid tersebut tidak diijinkan masuk dan diwajibkan menghapal satu surat Al-qur’an. “Eh gue kekelas dulu ya, bilangin sama si Arka gue enggakk niat ikutan perlombaan atau apapun, dan lo jangan terlalu sering chat an sama Zian, kasian dia kalau abis kuota gara-gara lo ngeganggu terus.”
-ṀḦṂḈ-
“Ren, bisa ngobrol dulu?”Tanya Mama begitu Renata pulang sekolah.
Renata mengangguk dan duduk di sebelah Mama. Mama mengusap rambut Renata dengan pandangan sendu.
“Kenapa Ma? Mau kasih uang jajan ya?”
Ketika Mama akan menjawab, Papa datang dan duduk disebelah Renata. Papa mengecup kening Renata, namun matanya melirik Mama.
“Kenapa Ma, Pa?”Tanya Renata penasaran.
Untuk kedua kalinya Mama dan Papa saling bertatapan, hingga akhirnya Mama menghela napas dan menatap Renata serius. “Ada yang mau Mama dan Papa sampaikan sama kamu.”Mama berdeham pelan dan melanjutkan. “Lusa kamu akan Mama dan Papa nikahkan.”
Renata mengerjapkan mata berulang kali, ia terdiam sebentar hingga akhirnya ia menampar dirinya dengan keras. “Auww!”rintih Renata.
“Kamu ngapain Ren? Jangan aneh-aneh ah.”Ucap Papa mengelus pipi Renata yang memerah.
“Dikira mimpi,”Gerutu Renata. “Ma, Mama mau jahilin Rena ya bilang Rena mau dinikahin? Mama tahu Rena kemarin bolos kelas tambahan kan makanya Mama nakut-nakutin Rena?”
“Ngapain Mama nakut-nakutin kamu. Setiap kamu bolos Mama tahu kok.”
“Tahu dari mana?”
“Bu Imas. Bu Imas selalu laporan kalau kamu bikin ulah.”
“Terus? Kok Mama enggakk marah?”
“Marah juga percuma, Mama yang cape ngomong, kamu cuma dengerin, mending langsung nikahin aja biar ada yang bisa ngedidik kamu.”
“Mama serem ih kalau ngomong! Masa dinikahin? Ini Rena masih sekolah lho!”
“Sekolah juga cuma formalitas aja buat kamu.”Timpal Mama jengkel.
“Rena enggakk mau nikah. Masih pengen sekolah, lulus, kuliah, kerja baru deh nikah.”
“Enggakk bisa, lusa kamu udah Mama Papa nikahin.”
“Emang siapa calonnya? Om-om ya?”
“Bukan Rena, nanti kamu tahu sendiri kok.”Giliran Papa yang menjawab.
Renata menatap takut Papanya. “Emang beneran Rena mau dinikahin? Kok bisa? Perasaan Rena enggakk lagi hamil, jadi enggakk ada alasan buat minta orang lain nikahin Rena, apalagi… Rena udah punya pilihan sendiri.”
“Ini yang terbaik Rena.”Ujar Mama nyaris berbisik namun masih bisa didengar.
“Yang terbaik dalam hal bagaimana, Ma? Ini Rena masih sekolah lho, kalau Rena dinikahin Rena bilang apa sama teman-teman? Apalagi Rena enggak tahu calonnya siapa, kalau dia masokis kayak di film grey atau suka nyiksa perempuan macam film hidayah gimana Ma?”
“Kamu tuh korban film Ren. Enggakk mungkin lah Mama Papa nikahin kamu sama laki-laki kayak gitu. Calon kamu itu udah Mama kenal dari dia masih bayi. Tipe dia itu yang paling cocok sama kamu.”
“Enggakk ada yang cocok sama Rena kecuali Zian!”tegas Renata.
“Memangnya Zian siap nikahin kamu sekarang?”Tanya Mama dengan suara lebih tinggi.
“Ya enggakklah butuh proses, mungkin sepuluh tahun lagi baru siap.”
“Zian cinta kamu?”
“Dia cinta…. Ta-tapi mungkin belum sadar.”Cicit Renata.
Mama menggenggakm tangan Renata dengan erat, sorot matanya memohon. Jika sudah seperti ini, Renata menjadi bingung sendiri untuk menolaknya.
“Mama enggakk bisa kasih tahu alasannya kenapa kamu harus menikah sekarang, tapi nanti Rena.. nanti kamu akan mengerti kenapa Mama ngelakuin ini.”
“Ma.. Rena janji bakalan rajin belajar, enggakk akan bolos kelas tambahan, bakalan nurut sama Mama Papa, enggakk akan bikin Audri susah lagi. Tapi, tolong jangan suruh Rena menikah. Rena masih sangat muda, Rena masih ingin menjalani kehidupan remaja Rena.”Mohon Renata yang mulai menangis.
Mama menghela napas.
“Begini saja, hari ini kita bertemu sama calon kamu sambil makan malam. Kamu ketemu dulu sama calon kamu ini. Keputusannya baru setelah itu. Bagaimana?”saran Papa dengan nada menenangkan.
Renata mengangguk semangat. Dirinya sangat yakin, jika pernikahan itu tidak akan terjadi dan malam ini ia akan menolak pria itu mentah-mentah.