Pergi Saja

1014 Kata
Aku memutuskan untuk pergi dari pesantren ketika aku telah memutuskan semuanya. telah memantapkan hatiku untuk senantiasa berusaha ikhlas dan rela. Kesakit hatian karena cinta mungkin aku bisa terima dengan lapang d**a. namun, tidak untuk sakit hati oleh karena kebencian dari semua orang. semua orang yang akan dalam satu lingkup denganku. sungguh, aku tak bisa untuk membayangkan jika aku harus menimba ilmu dengan semua kebencian itu. aku selalu yakin dengan semuanya. Dengan waktu yang akan kembali menguak takdir. Akan waktu yang senantiasa tidak akan luput dari kebohongan, kedustaan. Namun aku tidak pernah bisa menyangkal segala sesuatunya. Ini adalah hal yang berat. Untuk pertama kalinya dalam hidupku dibenci oleh semua orang yang berada di dekatku. “NIng, semuanya akan baik-baik saja. percayalah. Tinggallah lebih lama di sini Ning,” aku tak mengindahkan ucapan Ning Zahra yan mencoba untuk melerai apa yang bergejolak di hatiku. Tidak, aku tidak bisa. Tanganku yang terlalu cepat untuk mengeluarkan segalanya dari rak lemari tempatku menyimpan segala sesuatunya. Aku kemasi dengan cepat. sehingga tidak ada waktu untuk Ning Zahra mencegah. Semuanya telah masuk ke dalam tas. SEmuanya telah berada di dalm. “Ning, saya minta maaf. Saya minta maaf sekali. Kalau ada salah, kalau ada perbuatan yang menyakiti hati semua orang. Sayafa minta maaf. Kesalahan yang pernah Syafalaukan, yang membuat pondok ini tercemar namanya. Syafa minta maaf,” ujarku pelan dengan memegang kedua bahu bergetar itu. Perempuan bermata bening itu masih mencegahku. mencoba untuk meletakkan kembali koper yang kubawa. “Ndak. Kamu Ndak boleh pergi. Aku tahu Ning Syafa orangnya baik. Fitnah-fitnah yang mengatasnamakan Ning Syafa adalah hanya omongan mulut yang tidak benar adanya. Saya yakin akan sebuah kebenaran yang begitu nyat. Besabarlah sebentar. SEmuanya akan terlihat nanti.” aku menatapnya dengan sendu. “NIng, aku tahu segalanya. Aku tahu jika waktu akan membuat semuanya menjadi hal yang lebih indah. Namun, tidak untuk sekarang, Tidak untuk saat ini. Hatiku terlalu sakit untuk menerimanya. Hatiku masih begitu perih untuk bisa membuat semuanya lebih indah.” ujarku kemudian. Perempuan itu malah menangis dengan sejadi-jadinya. “Saya pamit Ning. Assalamu’alaikum,” salamku, yang langsung berlalu pegi untuk meninggalkan rungan kecil berpetak yang dihuni oleh puluhan santri itu. aku berpamitan dengan Abah Kyai dan Umi. Mereka melepaskanku dengan ikhlas dan rela. Dirinya meberikanku sebuah doa yang terbaik. Permasalahan yang ada di pondok, diamanahkan untuk diikhlaskan dan tidak dibawa ke luar pondok. Aku mengerti dengan segala sesuatunya. SEmua permasalahan memiliki tempat. Namun yang menempatkan permasalahan semuanya adalah manusia. Gus Azizi menjemputku kemudian. Aku menaiki mobil dengan perasaan yang sungguh putus asanya. Kabar soal pernikahan yang gagal ini menyebar ke semua orang. Alhamdulillah aku tidak memiliki media sosial yang begitu berarti. Aku tidak tahu akan segala hal yang ada. HIngga Gus Azizi memberitahukan semuanya yang beredar di media masa selama ini. “Mereka yang mempunyai cinta begitu besar kepada idolanya akan mencintai sepenuh hati, sedangkan yang menjadi korban akan dihajar habis-habisan. Semuanya adalah soal sudut pandang. Kalimat, gambar, jika diartikan oleh orang berbeda, yang diolah sedemikian rupa, maka akan berbeda hasilnya. Kau yang sabar ya Dik. Semuanya baik-baik saja setelah kau akan pergi jauh dari tanah ini untuk berhijrah dan mencari pengetahuan yang lebih luas lagi.” Aku mendengar petuah itu dengan baik. Setelah aku menerima semuanya. Aku melihat layar yang berbentuk persegi pipih. Dalam layar itu, ada jelas gambarku yang akan diperkosa oleh Kang Asyfi. Namun, yang ada di sana berbeda dengan kenyataan yang terjadi sebenarnya. Aku tahu apa yang mereka inginkan dariku. Aku tahu aku dibenci oleh mereka. OPini privat tersebut sesaat seperti memberikan gambaran kisah serupa saat nabi Yusuf akan dijebak oleh Zulaikha dalam hal yang begitu keji. Aku tidak akan melakukan hal itu, sampai kapa pun. Naudzubillah. "Sepertinya memang samean harus ikhlas, harus rela dengan apa yang terjadi Dek, ndak usah dipikirkan terlalu jauh. Meski GUs tidak memungkiri, kalau video itu sudah tersebar di mana-mana, di seluruh media sosial, di i********:, di f*******:, di w******p. Semua seolah sudah tahu dengan apa yang terjadi dengan digiring oleh opini privat mereka. Jangan bersedih akan masalah hal ini. Kamu yakin saja, Gusti Allah tidak tidurr. Dialah yang maha mengetahui segalanya," ujar Gus Azizi yang berusaha untuk menguatkanku agar tidak terlalu rapuh. Aku mengusap air mataku yang berlinang. Lalu, ketika semua barang sudah dimasukkan olehnya di dalam bagasi. Dirinya kemudian menyalakan mobilnya, berangkat untuk langsung ke bandara. Menjemput sekaligus langsung berangkat ke Kairo. "Sudah dipersiapkan kan Gus, paspor dan visanya?" tanyaku kemudian kepada Gus Azizi, agar semua yang ada tidak tampak canggung. Aku malu terus-terusan dilihat olehnya selalu dalam keadaan sedih, seolah aku tidak bisa melupakan laki-laki biadab itu. "Semuanya lengkap. Sudah Gus siapkan di dalam tas dan kopermu. Gusti Allah seolah berkehendak yang terbaik. Memberikan dirimu sebuah hal yang tidak terduga. Kau yang dulu menolak beasiswa itu, dan sekarang, seolah beasiswa itu datang kepadamu dengan tanpda diduga lagi, setelah kamu mempersipakan semua dokumen dengan baik. Sehingga tidak perlu lagi memperiapkannya kembali. "Nggeh Gus, Gusti Allah maha baik." Kuingat saat-saat diriku menolak beasiswa yang diberikan oleh salah satu lembaga yang bekerjasama dengan pondokku dahulu, yang kebetulan memang Yek Ali menjadi salah satu ketua umum di sana. Semuanya begitu mudah ketika aku ingin mencari ilmu di negeri orang. Sayangnya, Umi tak mengizinkan diriku. Pernikan yang ada, membuat aku harus mengubur dalam-dalam impianku untuk ke sana. Aku tahu apa yang ada di pikiran Umi saat itu, adalah yakni menghargai calon suamiku, agar diriku bisa menjaga diri dengan baik di tanah kelahiran saja. Tidak perlu ke mana-mana. Apalagi, lamaran itu, terjadi satu tahun sebelum kejadian ini. Aku seolah seperti mendapatkan dua hal rezeki dalam hidupku dan aku harus memilihnya salah satu. Kang Asyfi yang kupilih. Meski pada akhirnya pilihanku itu zonk, namu setidaknya Allah masih sayang kepadaku, DiriNyalah yang memberikan semuanya kepadaku. Termasuk sebuah hal yang tidak terduga. Beasisa kembali ke Kairo. Ke tanah Mesir yang sangat aku rindukan. "Yek Ali telepon, kamu yang ngangkat gih, nanti kalau saya yang ngangkat kurang baik. Takutnya ganggu nyetir," Gus Azizi memberikan ponselnya yang berdering. Aku menggeser panel hijau yang bergetar di dalam layar hp tersebut. "Aku wes tekan bandara iki. mobilmu warna opo?" Dan, perkenalkanlah dirinya adalah seorang laki-lai yang bernama Yek Ali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN