"Papa!" Sora berteriak, lantas menghampiri raga ayahnya yang masih terbaring. Ia menangis memeluk pria tua itu, membuat Sakti turut menitihkan air mata. "Sora ... putri Papa," lirihnya. Setelah beberapa hari koma, akhirnya Sakti sadarkan diri. Keadaannya masih sangat lemah. Ersya pun segera memisahkan Sora dengan ayahnya - membuat pelukan mereka terlepas. "Papa masih lemah, sayang," ucap Ersya mengingatkan. "Sora, ini benar-benar kamu? Kamu ada di sini, Nak?" tanya Sakti. Ia masih tak menyangka jika putrinya akan datang, bahkan sampai menangis untuknya. Sora mengangguk cepat. Ia meraih tangan Sakti, kemudian menggenggamnya. "Iya. Sora di sini, Pa. Sora ada di depan Papa sekarang. Maafin Sora atas kejadian yang dulu-dulu." "Nggak. Kamu nggak salah, sayang. Papa yang salah. Maafin Pap

