Damian menggeliat pagi-pagi sekali ketika istrinya membuka gorden dan cahaya matahari masuk ke dalam kamar mereka. “Pagi sayang.” Dengan raut wajah yang sangat malas, ditambah lagi dengan hari ini dia harus bekerja lagi. Pernikahan Julia sudah digelar kemarin, Damian sudah cukup untuk libur. “Sayang. Sebenarnya aku malas kerja.” “Kerja sana! katanya mau nambah anak. Kok malas? Nambah anak semangat banget.” “Iyalah, kan bikin anak tuh enak banget.” Fiona mendorong kepala suaminya pagi-pagi sekali ketika Damian ingin menciumnya. “Nggak boleh dorong kepala tahu. Nanti aku lupa ingatan.” Damian menyeringai lalu menarik istrinya. “Sayang, ih jorok. Aku nggak mau ciuman pagi-pagi sekali. Mandi dulu kek.” “Bentar. Pengen pelukan doang. Eh ngomong-ngomong Aaric masih di sini?” “Masih tuh. K

