4. Pertemuan Pertama

1008 Kata
Waktu demi waktu telah berlalu, hari demi hari telah berganti. Aku merasa semuanya berjalan begitu cepat. Tak terasa malam nanti aku akan menemui calon istriku. Ah calon istri… aku masih belum percaya aku akan segera menikah dengan wanita yang tak kukenal sama sekali. Perasaan campur aduk saat ini. Aku sedang duduk di depan layar TV sore ini. Sedangkan ibuku dan adikku sedang sibuk membuat makanan untuk dibawa ke rumah calon istriku malam nanti. Setelah selesai menyiapkan segalanya ibu menghampiriku. “Bagaimana perasaanmu nak?” Tanya Ibu. “Eshan deg-degan bu. Hehehe.” “Tidak papa. Itu hal yang wajar bagi seseorang yang akan menemui calon istrinya untuk pertama kali.” “Begitukah bu?” “Iya sayang. Ah iya maaf nak, ibu sampai lupa memberi tahu sesuatu padamu. Tapi menurut ibu ini bukanlah hal yang terlalu penting.” “Memangnya tentang apa bu?” “Ibu ingin memberitahumu kalau usia nak Aqila 2 tahun lebih tua darimu.” Deg…. “Lebih tua dariku? Tapi kenapa ibu tidak memberitahuku sebelumnya, baru memberitahu saat semuanya sudah terlambat dan sudah tak bisa untuk mengelak lagi?” Ucapku dalam hati, mengetahui itu membuatku semakin merasa ragu kembali. “Eshan….” Panggil Ibu saat aku hanya diam dan melamun. “Kau tidak papa kan?” “Tapi mengapa ibu baru memberi tahu sekarang?” “Ibu lupa untuk memberitahumu sebelumnya nak. Apakah ada masalah? Ibu kira kau tak mempermasalahhkan soal usia. Yang terpenting bukankah akhlaknya, pendidikannya, dan jelas garis keturunannya?” “Iya mas. Lagipula kan Cuma beda 2 tahun aja. Malahan sekarang juga lagi tren kok nikah pasangan yang perempuan lebih tua.” Sahut adikku yang ikut duduk bersama aku dan ibu. “Halah, kamu anak kecil, nggak usah sok tahu.” “Tapi mbak Aqila nggak kelihatan tua kok mas. Dia itu baby face menurut Bella. Selalu tampak lebih muda dari aslinya. Banyak yang mengira juga kalau dia itu masih sweet seventeen. Malahan lebih terlihat tua mas Eshan.” Adikku yang terus mengompori dan mendukung ibuku agar aku menerima Aqila. “Kurang ajar kamu. Mas juga baby face dan terlihat lebih muda dari umur aslinya.” “Iya bener mas. Tapi lebih muda satu detik aja. Hahaha.” “Dasar kamu adik kurang ajar.” ***** Malam hari pun tiba. “Ibu, Bella sudah cantik belum?” “Belum. Mau didandanin bagaimanapun kamu nggak akan bisa cantik.” “Haish, aku nggak tanya sama mas. Aku tanya sama ibu.” “Sudah sayang. Bella selalu cantik kok di mata ibu.” “Wah terima kasih ibu. Makin sayang sama ibu.” Lain halnya dengan ibuku dan adikku yang terlhat sangat antusias dan gembira. Sedangkan aku, banyak sesuatu yang memenuhi isi otakku ini. Selain itu perasaan cemas, khawatir, was-was, selalu menghantuiku. Saat ini kami telah perjalanan menuju rumah calon istriku. Kami bersama paman dan tanteku, juga beberpa sanak saudaraku dengan menggunakan mobil pamanku. Selama perjalanan hatiku terasa gelisah, gundah gurana. Hingga akhirnya kam telah sampai di halaman rumah Aqila. Telihat beberapa orang menyambut kami di depan pintu. Kami pun turun dari mobil dengan membawa barang-barang yang telah ibu persiapkan. Kami disambut dengan sangat baik. Kami dipersilahkan masuk dan duduk. Aku mengamati orang demi orang satu persatu. Aku mencari tahu yang manakah Aqila itu? Aku yakin dia pasti berada diantara mereka yang menyambut kami saat ini. Ada dua orang tua sebaya ibuku, itu pasti orang tua Aqila. Lalu ada dua orang wanita yang masih muda, dan satu orang laki-laki yang aku rasa sepantaran denganku. Aku melihat kearah dua wanita tersebut, yang satu memiliki postur tubuh kecil dan putih, dan aku merasa bukan dia. Sedangkan yang satunya, agak tinggi, namun kulitnya juga agak hitam. Tidak salah lagi, ini pasti yang namanya Aqila, mengingat ciri-cirinya hampir sama seperti yang ibu ceritakan padaku. Tapi… Tunggu dulu, Bella bilang kalau Aqila itu baby face, tapi aku rasa tidak. Bahkan dia terlihat lebih tua dariku. Ahh… apa yang harus kulakukan? “Bagaimana kabar kalian?” Tanya bapak Aqila. “Alhamdulillah kami semua baik.” “Syukurlah.” “Oh ya perkenalkan ini anak saya yang bernama Eshan.” “Salam kenal om, tante.” Ucapku tersenyum menyapa mereka. “Jangan panggil om, tante dong. Panggil bapak dan ibu saja.” “Hehehe.” “Wah ternyata memang benar-benar tampan anakmu. Lebih tampan daripada di foto.” “Alhamdulillah. Lalu dimana Aqila?” “Sebentar, biar dipanggilkan Nafis dulu. Nafis tolong kamu panggil mbakmu ya? Bilang tamu kita sudah datang.” “Iya paman.” “Hah? Jadi wanita dua ini bukan Aqila semua.” Kagetku dalam hati. Ada perasaan lega dan juga khawatir perasaanku saat ini. Tak lama kemudian datang dua orang wanita menghampiri kami yang duduk di ruang tamu. Aku menatap lekat wanita itu. Wanita yang sedari tadi tak ada diantara kami. Aku yakin itu pasti Aqila, calon istriku. Dan benar saja kata Bella, saat aku tatap wajah Aqila, ia memang terlihat aby face, tidak terlihat tua seperti umurnya. Dia berjalan dengan menundukkan kepala, dia benar-benar terlihat sangat anggun. Sampai akhirnya Aqila duduk tepat disebrangku. Semua sanak saudaraku, ibu, dan adikku mengakui bahwa Aqila sangat cantik. Namun, garis-garis kecantikan yang kuimpikan tak kutemukan sama sekali. Entah mengapa seleraku lain, seorang wanita yang tinggi semampai, berwajah putih jelita, dengan hidung melengkung indah, mata bulat, bibir merah muda menawan, dan memiliki lesung pipi. Jika tersenyum, lesung pipinya akan menyihir semua yang melihatnya. Senyum Aqila memang cantik, tapi entah mengapa tak bisa menggetarkan hatiku. Setelah saling menyapa dan berbincang-bincang, akhirnya pamanku yang mewakili ibuku menyampaikan maksud dan tujuan kami telah datang kesini, yaitu untuk khitbah atau lamaran. Setelah pamanku selesai berbicara, aku menatap dan menunggu jawaban Aqila. Kulihat ia menganggukan kepalanya dengan diiringi senyum malu-malu, yang menandakan ia menerima lamaranku. Semua keluarga terlihat sangat senang dan mengucapkan syukur. Sesuai kesepakatan bersama, bahwa kami akan melakukan ijab qobul 2 minggu lagi. sebenarnya itu bukan kesepakatan bersama, tapi kesepakatan mereka semua, kecuali aku. Karena aku memang masih belum yakin, tapi mau bagaimana lagi, aku pun juga tak bisa mengelak dan mengecewakan ibuku. Setelah semuanya selesai. Kami pun berpamitan untuk pulang. Bersambung… *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN