Akhirnya hari itu pun tiba. Hari dimana aku akan meminang dan menjadikan seorang wanita yang tak aku cintai menjadi istriku, menjadi pendaming hidupku, menjadi ibu dari anak-anakku.
Saat ini aku sudah duduk berhadapan dengan seorang penghulu, dan tentu saja di sampingku sudah ada seorang wanita bak bidadari yang tinggal menghitung menit saja akan resmi menjadi istriku. Yah tidak aku pungkiri, Aqila begitu terlihat sangat cantik, anggun, seperti cinderala dalam negeri dongeng.
Selain itu juga ada kedua orang tuaku dan kedua orang tua Aqila, tak lupa dua orang saksi, beberapa keluarga, serta beberapa tamu undangan. Saat ini kedua telapak tanganku terasa sangat dingin. Aku merasa gugup sekali. Kutarik nafas panjang, untuk menghilangkan sedikit kegugupan yang aku rasakan. Kemudian aku mengarahkan pandanganku ke arah seorang wanita yang duduk di sebelahku yang benar-benar akan menjadi istriku. Tanpa sengaja tatapan mata kami bertmu. Ia melemparkan sebuah senyum yang begitu indah, namun sayangnya tak dapat menggetarkan hatiku sedikit pun.
Acara akad nikah pun dimulai. Akad nikah adalah acara inti dari seluruh rangkaian proses pernikahan. Acara akan dimulai dengan pembukaan yang dipandu oleh pembawa acara. Diawali dengan membaca 'bismillah', berlanjut dengan doa agar acara berjalan dengan lancar, dan pembacaan ayat suci al-Quran.
Seorang penghulu membacakan khotbah nikah. Fungsi dari khotbah nikah ini sendiri adalah sebagai pembekalan bagi kedua mempelai, sekaligus pengingat tentang pentingnya menjaga keutuhan dalam rumah tangga.
Kemudian dilanjutkan dengan acara inti dari rangkaian prosesi akad nikah alias pembacaan ijab Kabul. Eshan berjabat tangan dengan Bapak Muhsin, yaitu ayah dari Aqila. Lalu beliau mengucapkan lafal ijab qobul:
"Saya nikahkan engkau Eshan Rayyan Altair bin almahum bapak Imron dengan putri saya Aqila Fairuz Syifa binti Muhsin dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai."
"Saya terima nikahnya Aqila Fairuz Syifa binti Muhsin dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai." Dengan lantang dan lugas aku segera menjawab lafal ijab qobul tersebut tanpa harus mengulang.
“Bagaimana para saksi?” Pak penghulu menanyakan keabsahan ijab Kabul kepada para saksi dan wali yang telah hadir.
“SAAAHHHH!!!” Teriak para saksi bersamaan.
“Alhamdulillah.”
Suasana menjadi sangat haru. Aku melihat Aqila, ibuku, dan orang tua Aqila menitikkan air mata, menangis terharu. Namun bagaimana dengan diriku? Ada apa denganku? Ada apa dengan hatiku?
Pak penghulu pun membacakan doa. Dilanjutkan dengan penandatanganan buku nikah. Kemudian pertukaran cincin. Aku menyematkan sebuah cincin yang indah ke jari manis Aqila yang sudah dihiasi dengan lukisan henna yang cantik pada tangannya. Begitu juga sebaliknya. Akhirnya aku dan Aqila sudah benar-benar sah menjadi pasangan suami istri.
“Alhamdulillah, sekarang kalian telah resmi menjadi pasangan suami istri. Hidup kalian baru akan dimulai. Kalian akan menghadapi lika liku kehidupan. Apapun yang terjadi hadapilah semua dengan syariat-syariat agama. Agar kalian tak terjerumus pada hal yang dibenci oleh Allah.” Ucap pak penghulu memberikan beberapa nasehat.
“Sekarang kamu kecup kening istrimu, namun sebelum itu kamu doakan dulu untuk memohon keberkahan, memohon kebaikan pasangan, memohon perlindungan syaitan, dan agar diberikan rumah tangga yang bahagia dan penuh kasih sayang.” Lanjut pak penghulu.
Pak penghulu pun membimbing Eshan untuk membacakan doa, dan Eshan pun mengikuti yang diarahkan pak penghulu. Setelah doa selesai, Eshan mengecup kening Aqila. Suasana kembali haru. Aku melihat Aqila kembali meneteskan airmata.
Setelah selesai proses akad nikah, acara pun berlanjut dengan pesta pernikahan. Aku dan Aqila berjalan menuju ke sebuah pelaminan yang sudah dihiasi dengan begitu indah. Tapi mengapa aku merasa seumpama tawanan yang sedang digiring ke tiang gantungan. Sesampainya di pelaminan, aku duduk bagai mayat hidup. Hati hampa tanpa cinta. Apa mau dikata cinta adalah anugrah Tuhan yang tak bisa dipaksakan.
Acara dimeriahkan dengan lantunan sholawat nabi yang diiringi oleh sebuah group rebana, namun terasa menusuk-nusuk hatiku. Sepertinya perasaanku dan nuraniku benar-benar sudah mati. Aku menatap ibuku yang terlihat aura kebahagian. Lalu aku mengalihkan pandanganku ke Aqila, kulihat ia tersenyum manis. Tetapi hatiku terasa teriris-iris dan jiwaku meronta-ronta. Kini satu-satunya harapanku adalah mendapatkan berkah dari Allah SWT atas baktiku pada ibuku yang kucintai.
Semua acara demi acara belangsung dengan lancar hingga selesai. Kini para tamu undangan berpamitan satu persatu. Banyak yang memberikan selamat dan mendoakan kami berdua. Ibu, adik, dan keluargaku pun juga ikut berpamitan.
“Ibu pulang dulu ya nak. Kamu jaga diri baik-baik dan ingat pesan ibu.” Ibu memelukku erat dengan tetesan airmata membasahi pipinya.
“Iya bu. Eshan aku selalu ingat pesan ibu.”
***
Sore hari.
Aku dan Aqila belum sempat beristirahat karena tamu-tamu masih datang silih berganti. Entah itu teman-teman Aqila atau pun temanku. Aqila juga belum sempat untuk membersihkan make upnya.
“Mas, kalau Aqila pergi membersihkan make up dan mandi dulu gimana? Soalnya Aqila sudah nggak tahan. Aqila juga belum sholat dzuhur dan ashar.”
“Oh iya nggak papa. Kamu bersihin badan kamu dulu dan sholat. Nanti jika ada tamu, biar mas aja yang menemuinya.”
“Baiklah. Terima kasih mas.”
Aqila pun melangkah pergi meninggalkanku yang berada di ruang tamu dan berjalan menuju kamar. Aku ditemani dan mengobrol bersama saudara-saudara Aqila.
“Kamu sangat beruntung mendapatkan istri seperti Aqila.” Ucap saudara Aqila yang bernama Dani saat sisa kami berdua.
“Iya Alhamdulillah. Hehehe.”
“Kamu tahu nggak jika kamu terlambat beberapa hari saja untuk melamar Aqila, maka Aqila tidak akan pernah kamu dapatkan. Karena dari yang aku dengar ada seorang anak kyai pesantren yang ada di daerah sini sudah hendak melamar Aqila.”
“Benarkah?”
“Iya. Namanya gus Fuad. Dia juga sangat tampan sepertimu. Baik, sopan, soleh, kamu tahu sendirikan bagaimana didikan seorang kyai.”
“Lalu bagaimana dengan Aqila? Apakah dia juga tahu soal ini sebelumnya?”
“Aku rasa dia juga sudah mengetahuinya. Karena kabar ini sudah menjadi rahasia umum, kalau gus Fuad sudah lama menyukai Aqila.”
“Tapi apakah Aqila juga menyukai gus Fuad itu?”
“Kalau soal itu, hanya Aqila saja yang tahu. Tapi kalau menurutku ia hanya kagum dengan gus Fuad, tidak sampai menyukainya dalam arti mempunyai perasaan cinta pada gus Fuad.”
“Memangnya kenapa? Bukankah gus Fuad itu sangat sempurna dan pastinya jauh lebih baik dariku.”
“Kalau menurut pandanganku, sebenarnya selama ini sudah ada seseorang yang mengisi hatinya dan dia dengan sabar menunggu seseorang itu untuk meminangnya.”
“Hah? Benarkah? Kalau boleh tahu siapa orang itu? Tapi kenapa sekarang dia malah menerima lamaranku? Apakah Aqila sudah menyerah pada orang itu karena orang itu tak kunjung melamarnya?”
“Hahahaha.”
“Lah kok malah ketawa sih?”
“Sepertinya kamu salah paham, atau kamu memang laki-laki yang kurang peka?”
“Maksudnya?”
“Maksudnya ya seseorang yang Aqila tunggu selama ini tuh kamu.”
“Aku???”
“Ya iya kamu. Emangnya siapa lagi?”
“Kok bisa aku? Padahal kan kami belum saling mengenal. Jangankan mengenal, bertemu saja juga belum pernah.”
“Aku juga urang tahu. Coba kau tanyakan sendiri sama orangnya. Hahaha.”
“Tapi…”
Tiba-tiba Aqila datang.
“Kalian lagi ngomongin apa? Kok kayaknya seru banget.” Tanya Aqila berjalan menedekati aku dan mas Dani.
“Ngomongin kamu. Hahaha.” Jawab mas Dani.
“Ngomongin aku? Emang kenapa?”
“Tuh tanya sendiri aja sama suamimu. Ya udah, aku mau gantian mandi dulu. Kalian nikmatilah waktu berdua.”
Mas Dani pun meninggalkan kami berdua. Sedangkan yang lain, mungkin mereka sedang istirahat atau sibuk dengan urusan mereka masing-masing.
Suasana kembali canggung saat hanya ada aku dan Aqila.
“Kamu udah selesai sholatnya?” Tanyaku basa-basi.
“Udah mas. Mas Eshan nggak mandi dulu?”
“Iya sebentar lagi.”
“Oh ya, tadi mas Eshan sama mas Dani ngomongin apa?”
“Emmm… cuman ngomongin hal nggak penting kok.” Aku masih enggan untuk menanyakan hal yang dibicarakan mas Dani tadi pada Aqila.
“Oh ya mas Eshan buruan mandi gih, sebentar lagi adzan magrib. Biar nanti kita bisa sholat maghrib berjama’ah.”
“Ahh iya baiklah. Kalau begitu aku pergi mandi dulu ya?”
“Iya mas. Aqila juga mau bantu-bantu yang lain dulu.”
TBC
***