Beberapa hari setelah halaman itu jatuh, dunia mulai terasa lebih sunyi—bukan karena kehilangan, melainkan karena mendengarkan.
Di dalam Archivum, suara langkah anak-anak Pendengar Baru menjadi ritme harian. Tak ada lagi bunyi pena yang menggores kertas, tapi gema suara-suara kecil yang muncul sebelum kata. Di ruang tengah, di antara rak-rak naskah lama yang kini terbuka tanpa kunci, Enji duduk bersila. Di sekelilingnya, lingkaran kata tumbuh seperti lumut di atas batu. Setiap kali ia menghela napas, muncul satu suku kata yang belum pernah dikenal siapa pun.
“Ini bukan bahasa manusia,” ujar Kaia pelan, berdiri di dekat ambang pintu. Kaca kenangannya memantulkan gambaran samar: sebuah kota berwarna merah tanah, berdiri di atas halaman-halaman yang compang-camping.
Enji tak menjawab. Tapi ia menepuk tanah perlahan, lalu membisikkan sesuatu yang tidak terdengar. Dan dari tanah itu, muncul satu patah kalimat, menggantung di udara.
> “Kami tidak ingin menyerang. Kami ingin diingat.”
Yvana, yang ikut berjaga di luar, mendengar kalimat itu dan segera masuk. Ia melihat Enji, lalu menatap Kaia. “Apakah mereka mencoba bicara?”
Kaia mengangguk. “Dan yang paling aneh... mereka tahu nama kita.”
Aurel tiba tak lama kemudian, wajahnya penuh keraguan. “Kisah-kisah itu tidak bisa diabaikan lagi. Kita harus memutuskan sesuatu sebelum batas antara ruang cerita dan kenyataan menjadi kabur sepenuhnya.”
Luvielle masuk bersama Rayzen. “Aku melihat jembatan tulisan terbentuk sendiri di langit. Kali ini bukan dari siapa pun di antara kita.”
“Lalu dari siapa?” tanya Yvana tajam.
Luvielle memandang ke arah Enji. “Dari mereka yang menunggu terlalu lama untuk diberi suara.”
Noveren, yang kini lebih sering diam dan hanya mencatat di benaknya, memutuskan untuk membuka kembali tempat paling tua di Archivum—Ruang Prakata. Ruangan ini dulunya digunakan untuk menentukan kalimat pertama dari setiap dunia. Tidak sembarang orang boleh masuk. Tapi sekarang, pintunya terbuka dengan sendirinya. Dan di dalam, lembaran awal dari berbagai dunia mulai bergetar.
Kalem menyusul ke sana. Di tangan kirinya, masih membawa halaman kosong yang mulai berubah warna. Di tangan kanannya, satu pena kecil dari tulang gagak yang pernah ia gunakan untuk menyelamatkan kota lamanya.
“Kalau dunia menulis ulang dirinya sendiri,” katanya pelan, “mungkin kita perlu belajar membaca ulang dari awal.”
Noveren berdiri di tengah ruangan. Ia membuka salah satu lembar pradunia—naskah pertama yang gagal dan sengaja disimpan. Tulisan di sana bergelombang, seakan hidup. Tapi bukan mengancam. Justru seperti menunggu.
Kalem mendekat. Ia menyentuh huruf pertama.
Dan saat itu juga, langit Archivum retak seperti kaca disentuh bunyi yang terlalu jujur.
Di balik retakan langit itu, terlihat satu dunia lain. Tidak hancur, tidak utuh. Hanya... belum selesai. Seperti naskah yang ditinggal karena ragu.
Muncul satu bayangan dari sana—sosok anak perempuan dengan rambut hitam panjang dan mata transparan seperti air yang menyimpan ribuan kalimat. Ia melangkah ke ruang Prakata, tapi tidak meninggalkan jejak.
“Apa namamu?” tanya Rayzen.
Anak itu menjawab dengan senyum, lalu menunjuk ke langit.
Di sana, tertulis satu kalimat yang hanya bisa dibaca jika kau pernah kehilangan sesuatu yang tidak sempat kau beri nama:
> “Aku adalah cerita yang kau bisikkan saat hampir tertidur.”
Kaia terdiam. Tangannya meremas kaca kenangan. Enji bangkit dan menghampiri anak itu. Lalu tanpa bicara, mereka menyentuh tangan satu sama lain.
Dan seketika, semua lembaran pradunia terangkat. Bukan terbang. Tapi menari.
Di langit, halaman-halaman dari kisah yang dilupakan saling menyambut. Mereka tidak ingin menggantikan. Mereka ingin berdampingan.
Hari itu, Archivum mengubah bentuknya.
Bukan menjadi benteng.
Tapi taman.
Jalan-jalan di dalamnya tidak lagi lurus atau melingkar, tapi bercabang-cabang seperti pilihan kalimat. Pohon-pohon halaman bertambah banyak. Suara-suara tidak lagi disembunyikan, tapi diberi ruang untuk bergaung.
Dan di tengah taman itu, dibangun satu tempat baru.
Bukan perpustakaan.
Bukan ruang tulis.
Melainkan Tempat Mendengar.
Siapa pun bisa datang ke sana, duduk diam, dan membiarkan kata-kata yang belum sempat hidup mulai mengisi udara. Bukan untuk dikuasai. Tapi untuk dikenali.
Noveren dan Kalem duduk di sana suatu sore. Tidak berkata apa-apa. Hanya mendengar.
Di kejauhan, anak-anak baru mulai menyusun kalimat.
Kalimat-kalimat yang tidak butuh panggung.
Kalimat yang tidak butuh akhir.
Hanya butuh telinga.
Dan dari pohon halaman yang paling tua, jatuh satu daun perlahan, berputar sebelum menyentuh tanah.
Di atasnya tertulis:
> “Dunia ini tidak selesai. Tapi tidak harus lengkap untuk bisa indah.”
Beberapa bulan kemudian...
Di ujung paling tenang dari Archivum—di balik deretan taman suara dan halaman-halaman yang berbisik—sebuah bangunan baru mulai terbentuk. Tapi tak seorang pun mengaku membangunnya. Dindingnya terbuat dari naskah yang tidak dikenal, atapnya dari frasa yang berulang-ulang seolah sedang mencari makna. Bangunan itu tumbuh, bukan dibangun. Dan di pintunya, tertulis satu kalimat:
> “Aku lahir dari ketakutan kalian.”
Aurel mendengarnya lebih dulu. Suara yang tidak berasal dari mulut, tapi dari ujung pena yang tak lagi digenggam. Ia berdiri di depan bangunan itu bersama Rayzen dan Kaia.
“Ini bukan tempat yang kita buat,” gumam Rayzen. “Ini tempat yang terbentuk karena apa yang tidak pernah kita selesaikan.”
Kaia menyentuh kaca kenangannya. Gambar-gambarnya tidak muncul. Kacanya kosong.
“Tempat ini tidak memantul,” katanya. “Berarti ini... tidak berasal dari kenangan. Tapi dari penolakan.”
**
Keesokan paginya, suara aneh mulai menyebar di seluruh Archivum. Bukan suara langkah, bukan suara halaman yang ditiup angin. Tapi suara pena yang menulis sendiri—cepat, gugup, dan penuh coretan. Saat ditelusuri, suara itu berasal dari dalam bangunan baru itu.
Dan di dalamnya, mereka menemukannya.
Seseorang.
Duduk sendiri di tengah ruangan, menghadap ke arah dinding yang terus menulis tanpa henti. Ia masih muda—atau terlihat muda. Rambutnya hitam kelam, matanya menyala redup seperti tinta tua yang hampir mengering.
Namanya Imar.
Bukan nama yang mereka kenal.
Bukan nama yang pernah ditulis.
“Aku adalah Penulis Terbalik,” katanya tanpa menoleh. “Aku tidak datang untuk mengubah dunia kalian. Aku datang untuk menghapus bekasnya.”
Kalem mendekat pelan, mengenali aura yang serupa tapi berlawanan. “Kau menulis untuk... menghilangkan?”
Imar tersenyum tanpa kehangatan. “Aku menulis agar tidak ada yang harus bertahan dari kisah buruk. Aku menulis agar kesedihan tidak perlu diingat.”
Enji melangkah maju. “Tapi justru karena diingat, mereka jadi tidak hilang.”
“Dan karena tidak hilang, mereka jadi beban,” sahut Imar. “Aku hanya ingin mengembalikan dunia pada sebelum kalimat pertama.”
Rayzen bergumam lirih. “Ia bukan hanya penghapus. Ia... pengulang.”
Luvielle tiba tak lama kemudian, membawa salah satu naskah tertua. Ia membuka halaman itu dan menunjukkannya pada Imar. “Kisah yang kau coba hapus ini... pernah menyelamatkan satu kota. Pernah menyelamatkan satu anak.”
Imar memandangnya, mata tajam seperti ujung pena. “Tapi berapa yang terluka karenanya?”
Suasana menegang. Kata-kata di dinding mulai berubah arah. Mereka tak lagi menulis narasi. Tapi mengikis. Kalimat yang tadinya tertulis di jendela-jendela Archivum mulai pudar. Beberapa pohon halaman kehilangan satu dua daun. Beberapa kalimat yang tergantung di langit tak lagi terbaca.
Kaia berlari ke taman tempat semua kalimat pertama ditanam. Ia menjerit pelan.
“Ada yang menghilang. Nama-nama anak pertama… mereka tidak bisa diingat lagi.”
Noveren akhirnya memutuskan.
“Kalau ia menulis untuk menghapus,” katanya pelan, “maka kita harus menulis untuk mengingat kembali.”
**
Hari itu, seluruh Archivum berkumpul di tempat tertua: Batu Awal, sebuah altar kecil yang pernah digunakan untuk menyimpan kata pertama dari semua dunia.
Mereka menulis ulang.
Tapi bukan untuk melawan Imar.
Mereka menulis agar kisah-kisah yang pernah ada tahu bahwa mereka diizinkan untuk tetap tinggal.
Rayzen menulis nama anak yang pernah ia lupakan di mimpi.
Yvana menulis satu kalimat dari ayahnya yang dulu tak sempat ia tuliskan.
Kaia menggambar bukan gambar baru, tapi bentuk tangan kecil yang dulu pernah menarik bajunya dan bertanya, “Apakah aku nyata?”
Enji diam. Tapi dari diamnya, kata-kata tumbuh.
Kalem menatap pena lamanya. “Dunia tidak perlu sempurna untuk dikenang. Ia hanya perlu diberi ruang.”
Dan dari kata-kata mereka, bangkitlah satu bentuk baru. Bukan bangunan. Tapi Jembatan Penafsir—sebuah jalan berbentuk melingkar, terbuat dari kisah yang disusun dengan niat memeluk, bukan membendung.
Imar melihatnya. Perlahan, coretan di dindingnya berhenti.
Ia tidak marah.
Ia tidak menangis.
Ia hanya duduk, dan untuk pertama kalinya, berkata lirih:
> “Kalau aku berhenti menulis, akankah aku tetap diingat?”
Kalem menjawab, “Ya. Tapi bukan karena kau sempurna. Tapi karena kau pun... bagian dari kisah yang kami izinkan hidup.”
**
Hari itu, untuk pertama kalinya, langit menulis sesuatu tanpa bantuan siapa pun. Tanpa suara, tanpa pena.
Kalimat itu tergantung lama di atas Archivum, tertulis dari bayangan awan dan sinar lembut:
> “Bahkan penghapus pun, suatu hari ingin dikenang.”
Dan dunia melanjutkan tulisannya.
Tanpa takut hilang.
Tanpa takut salah.
Karena kini, bahkan kesalahan pun diberi tempat untuk tumbuh—bukan untuk diulang, tapi untuk dipahami.