Pesta

1365 Kata
Kaki Nia melangkah ragu-ragu mengikuti langkah Evan memasuki sebuah butik. Tahu bahwa Evan akan mengganti gaun miliknya yang sudah dicoret-coret begitu mengenaskan oleh Aliya saja sudah membuatnya terkejut dan merasa tidak percaya, sekarang ditambah Evan membawanya ke sebuah butik yang sangat mewah dengan menenteng gaun Nia tadi. Evan tampak berbicara dengan seseorang sesampainya di butik. Sembari mengedarkan padangannya melihat gaun-gaun indah yang dipajang, yang dapat Nia tangkap adalah Evan meminta pada seseorang yang melayaninya di butik itu untuk mencarikan gaun yang sama persis dengan gaun milik Nia. Sejujurnya Nia sudah tahu, tidak mungkin ada, sebab Ovi mengatakan ia sengaja memesan gaun itu khusus untuk sahabat-sahabatnya. "Ini warnanya yang sama persis Pak." Tidak lama pegawai butik itu datang membawakan sebuah gaun yang menang berwarna sangat mirip dengan yang diberikan Ovi meskipun modenya berbeda. Tapi bisa Nia katakan bahwa gaun ini berkali-kali lipat lebih mewah dari yang Ovi berikan sebab pada bagian dadanya saja ornamen swarovskinya terlihat begitu menyala. "Gak papakan gak mirip banget?" Tanya Evan pada Nia merasa tidak enak. Ia pikir akan mudah menemukan gaun yang sama, tapi ternyata setelah membawanya ke salah satu butik terbaik langganannya tetap saja tidak ada. "Gak papa kok Pak. Tapi... pakai gaun yang lain juga gak papa sebenarnya." "Saya pesan yang ini ya," kata Evan seolah tidak mendengar apapun yang dikatakan Nia barusan. "Buruan ganti baju sana, kamu udah telatkan?" Nia melirik jam di ponselnya, ya, dia benar-benar sudah terlambat. Sedari tadi Lala dan Dita tidak henti-hentinya untuk menghubunginya dan menanyakan keberadaan Nia. "Nanti saya antar," kata Evan lagi. Setelah itu Nia langsung bergegas menuju ruang ganti untuk mengganti pakaiannya. Mungkin ia juga bisa sekalian memoles wajahnya sebentar. Ia tidak ingin Ovi kecewa karena tidak melihat kehadirannya disana. Ovi memang sudah mengizinkannya untuk datang terlambat, namun tentu saja bukan mengizinkannya untuk tidak datang. Nia mematut dirinya di depan cermin besar yang berada di ruang ganti. Gaun berwarna coklat muda itu terlihat begitu pas melilit tubuh langsing Nia. Potongan bagian belakang yang rendah memperlihatkan punggung Nia yang ia tutup dengan geraian rambug hitamnya. Dengan kemampuan make up yang seadanya namun terlihat membuat wajah Nia malah memancarkan kecantikan yang natural. Wajahnya yang oval, hidung mancung kecil serta bibir tipis yang berwarna merah muda, mata hazel yang memancarkan kecantikan, Nia cantik, sangat cantik. Itu kata-kata orang di sekitar Nia, namun Nia tidak pernah menyadarinya. Baginya ia biasa saja. Setelah dirasa siap, Nia keluar dari kamar ganti itu, mencari keberadaan Evan untuk memberi tahu bahwa ia sudah siap. Sebenarnya ia tidak ingin kembali merepotkan Evan, namun ia tidak bisa menolak tawaran Evan untuk mengantarkannya ke tempat pernikahan Ovi sebab ia sudah benar-benar terlambat saat ini. Nia mengedip-ngedipkan matanya beberapa kali saat melihat Evan yang tadinya hanya menggunakan kemeja hitam ketika pergi bersamanya kini sudah bertuxedo rapi berwarna biru tua. Dimana ia mendapatkan itu? Apakah juga membelinya disini? "Saya sebenarnya mau menghadiri acara pernikahan juga, tapi karna gak sempat pulang lagi untuk ganti baju, jadi saya beli disini aja. Gimana?" Menyadari kebingungan Nia membuat Evan dengan sendirinya menjelaskan tanpa diminta. Ia terlihat memperbaiki tuxedonya yang sebenarnya sudah rapi itu. "Bagus Pak," jawab Nia. Ini bukan sekedar jawaban basa basi saja, tapi memang tuxedo itu begitu pas di tubuh Evan. Tapi sebenarnya bagi Nia, Evan selalu bagus menggunakan apapun. Bahkan kadang saat Nia baru datang ke rumahnya dan dia hanya memakai piyama satin hitamnya saja, sudah terlihat bagus seolah ia adalah model yang sedang mempromosikan piyama itu. "Ya udah yuk." Nia mengangguk. Tampaknya Evan sudah menyelesaikan semua pembayarannya hingga mereka bisa langsung pergi saja. Nia sempat melihat tadi berapa harga yang tertera di gaun ini, untuk beberapa detik kepalanya terasa pusing. Gajinya sudah besar bukan? Harga gaun ini berkali-kali lipat dari gajinya. *** Tidak disangka dan tidak diduga ternyata tujuan Nia dan Evan sama. Tadinya keduanya sama-sama terkejut ketika Nia mengatakan dimana tempat pesta itu berlangsung. Ternyata Evan pun malam ini berniat untuk menghadiri pernikahan Ovi atas undangan ayah Ovi yang memang rekan bisnis baik Evan. Jadinya keduanya sama-sama pergi ke gedung dimana pesta pernikahan Ovi digelar. Sungguh sebuah kebetulan yang mencengangkan. "Makasih banyak ya Pak," kata Nia sebelum turun dari mobil Evan setelah mereka sampai. "Sama-sama, maafin Aliya ya udah kelewatan," kata Evan masih merasa tidak enak atas kelakuan putri satu-satunya itu. "Gak papa kok Pak, namanya juga anak-anak. Ya udah saya duluan ya Pak, teman-teman saya udah pada nungguin." Evan mengangguk kecil membiarkan Nia yang terlihat begitu buru-buru ingin keluar dari mobilnya. Padahal tadinya ia ingin menawarkan untuk masuk bersama. Sejujurnya Evan tidak begitu minat awalnya untuk datang, namun berpikir bahwa ayah Ovi cukup baik padanya dan saat itu mengundangnya secara langsung dengan datang ke hotelnya membuat Evan tidak enak untuk menolak. Selang beberapa saat, Evan pun keluar dari mobil. Rasanya cukup mengenaskan sebenarnya datang sendiri ke pesta seperti ini disaat kebanyakan orang memiliki seseorang untuk digandeng. Namun seperti inilah nasib seorang duda tampan sepertinya. Evan berusaha untuk tidak ambil pusing, lagi pula ia hanya akan berada sebentar disini untuk sekedar memenuhi undangan kemudian pulang. Acara pernikahan ini terlihat begitu mewah dan meriah. Sang mempelai wanita dan pria terlihat begitu bahagia. Alih-alih memperhatikan fokus pada pada sepasang pengantin itu, perhatian Evan malah teralihkan pada seorang gadis di dekat sang pengantin wanita yang terlihat begitu bahagia. Evan bahkan tidak berkedip untuk beberapa saat, entah baru ia sadari atau tidak, ternyata gadis yang hampir setiap hari ia temui itu begitu cantik. Hanya saja biasanya ia tidak terlihat sebahagia itu. Ketika sedang sibuk memperhatikan gadis yang tidak lain adalah Nia itu, tiba-tiba ayah Ovi datang menghampirinya. Mereka tampak berbincang sejenak sebelum akhirnya mengantarkan Evan berkenalan kepada anak dan menantunya. Nia yang saat itu sedang berbincang dengan Ovi dan suaminya terlihat cukup kaget melihat kedatangan Evan. "Ovi, Rendra, kenalin ini Evan, pemilik hotel yang biasa papa pakai buat acara apapun," katanya memperkenalkan diri. Ovi yang tahu siapa pria ini menyikut-nyikut kecil Nia yang hanya dibalas Nia dengan pelototan mata. Tidak seharunya ia merespon seperti itu. "Selamat atas pernikahannya," kata Evan ramah yang langsung disambut senyuman oleh Ovi dan Rendra, suaminya. "Ini sahabat-sahabatnya Ovi," kata ayah Ovi pula melirik Nia, Lala dan Dita. "Saya udah kenal sama Nia," kata Evan. Lala dan Dita ikut-ikutan menyikut Nia sembari mengulum senyumnya membuat Nia benar-benar jengah pada reaksi berlebihan sahabat-sahabatnya itu. Ia tahu apa yang mereka pikirkan. "Oh iya? Wah kebetulan sekali. Nia ini anak baik loh, semuanya ini udah kayak anak saya sendiri," kata ayah Ovi. Memang, ayah Ovi sangat baik pada sahabat-sahabat Ovi, terutama Nia. Ia mengetahui kehidupan Nia merasa begitu simpati. "Mulai deh Papi mau promosiin Nia," kata Ovi sudah hafal dengan kebiasaan ayahnya yang kerap mempromosikan kebaik-kebaikan Nia pada siapapun rekan kerjanya. Padahal Ovi sudah mengatakan kalau Nia belum mau mencari pasangan, dan kalaupun akan mencari pasangan katanya ia ingin mencari sendiri. "Nia emang baik kok," kata Evan pula sembari tersenyum. Entah dari mana datangnya, tapi pipi Nia terasa memanas hingga ia pikir pasti sedang memerah saat ini. Ia sering dipuji, namun jika itu datangnya dari Evan, rasanya agak lain. Mereka kembali berbincang-bincang sejenak sebelum akhirnya Evan berpamitan. Lagi pula ia harus pulang dan berbicara dengan Aliya sebab tadi mereka pergi begitu saja meninggalkan Aliya yang mengunci dirinya di dalam kamar. "Pak..." panggilan Nia yang menyusul Evan menghentikan langkah Evan seketika. "Soal Aliya, biar besok saya aja yang ngomong," kata Nia. Entah mengapa ia tiba-tiba kepikiran anak itu. Entahlah ia sekarang semakin marah atau malah sudah melupakannya begitu saja. "Gak papa, nanti saya coba ngomong juga sama dia. Asih sebenarnya udah cerita kalau beberapa kali Aliya suka isengin kamu. Saya padahal nunggu kamu cerita langsung loh sama saya." "Hmmm, saya bukannya gak mau cerita Pak. Tapi menurut saya selama ini masih batas wajar. Yang tadi agak keterlaluan sedikit." Evan terkekeh mendengar jawaban ragu-ragu Nia. "Kamu masih mau disini atau saya antar pulang?" Tanya Evan menawarkan. "Saya nanti pulang sama teman-teman saya aja Pak." Evan mengangguk-anggukkan kepalanya paham. "Ya udah, saya pulang dulu kalau gitu." "Baik Pak, hati-hati ya Pak." Evan mengangguk sembari tersenyum. "Oh iya Nia," Evan menahan langkahnya sejenak membuat Nia menunggu kalimatnya yang menggantung. "Kamu cantik banget malam ini," setelah mengatakan kalimat itu dengan senyum hangatnya, Evan berlalu pergi meninggalkan Nia yang mematung dengan kalimat Evan yang berputar-putar di kepalanya. Apa tadi Evan bilang? Cantik?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN