Rumah kaca selalu menjadi tempat pelarian Vinelia. Satu-satunya tempat yang membuatnya bisa bernapas lega ada tempat ini. Vinelia berdiri di depan pohon peninggalan ibu Lagaskar. Sejak tadi Vinelia menatap pohon itu. Tangannya menyentuh salah satu daun pohon itu dengan lembut. "Nyonya Laksita, kenapa kehilangan selalu dekat denganku dan Lagaskar?" tanya Vinelia. Dia sudah lama diam disini. Semenjak pembicaraannya dengan Prawira Vinelia merasa tidak tenang. Kehilangan itu berubah menjadi sebuah ketakutan yang seolah menghantui Vinelia di setiap langkahnya. "Hari ini kakek menitipkan banyak hal padaku. Vila di pegunungan. Nyonya Laksita, apakah kau sudah menduga hal ini sebelumnya? Keluarga yang ingin memakan keluarganya sendiri. Nyonya Laksita, kenapa pergi terlampau cepat? Lagaskar selal

