"Tapi aku tidak mempercayainya. Aku tidak mempercayai Vinelia." Vinelia menghentikan langkahnya di depan ruangan Lagaskar ketika mendengar ucapan itu. Senyum yang terukir di wajah wanita itu langsung lenyap saat itu juga. Vinelia mundur beberapa langkah. Bibirnya berubah menjadi sangat pucat. Tatapannya sendu. Seharusnya Vinelia tidak perlu bersikap seperti ini. Lagaskar memang sudah tidak mempercayainya. Vinelia sudah tahu itu namun mendengar Lagaskar mengatakannya secara langsung entah kenapa terasa begitu menyakitkan. Benar-benar menyakitkan. "Nyonya Vinelia, anda tidak masuk?" tanya seorang karyawan yang ingin masuk ke dalam ruangan Lagaskar. Vinelia menggelengkan kepalanya. "Aku mendadak memiliki sesuatu yang harus aku lakukan. Tolong berikan ini untuk Lagaskar," ucap Vinelia. Dia

