Aku mengambil ponselkui dan mulai menghubungi Rafa. “Halo, ada apa, Sayang ....” Rafa menjawab dari seberang sana. “Mengapa kamu pergi begitu saja dan meninggalkan aku? Apa kamu sudah makan? Kenapa tidak menunggu untuk makan bersama aku dan Manda?” Aku ingin sekali memanggil Rafa dengan sebutan sayang, tapi bibirku masih kelu untuk mengatakan hal itu. “Makanlah lebih dulu. Aku nanti bisa cari makan di area kantor. Tadi aku buru-buru karena ada urusan penting. Nanti sore siap-siap ya. Bilang sama mbak Rena nggak usah masak banyak karena nanti malam kita akan makan di luar.” “Baiklah, kamu hati-hati ya.” “Hanya itu saja?” “Maksudnya?” “Tidak adakah ucapan sayang atau ciuman dan sejenisnya?” “Aku menyayangimu Rafa.” Deg, dadaku berdebar mengatakan hal itu. “Aku juga menyayangimu say

