28

4714 Kata

Bahkan setelah aku selesai mandi, hujan sama sekali tidak kunjung berhenti. Namun hal pertama yang aku lihat begitu keluar dari kamar mandi adalah wajah Alec“Boo!” serunya membuatku terlonjak terkejut. Ia tertawa-tawa ketika aku memaki-maki karenanya. “Oke. Maafkan aku.” Alec berdeham-deham. “Jadi kutebak kau sudah mendapatkan cincin dari Dad?” “Apa semua orang membicarakan kami di belakang?” Aku masih menatapnya dengan sengit. “Tentu saja, kawan. Apalagi jika ia memutuskan menikah dengan orang yang baru saja ia temui beberapa hari lalu dan di tengah-tengah kiamat seperti ini. Semua orang akan mengira kalau ia hanya putus asa atau mungkin – kesepian.” Aku tidak ingin menanggapi komentarnya itu. Jadi aku mencoba untuk mendorongnya minggir, namun Alec tetap bergeming. “Jangan ce

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN