Akhirnya Arryan dijatuhi hukuman selama 15 tahun penjara. Ia harus mendekam di dalam sel tahanan selama itu meski ia tidak memiliki kesalahan apa pun. Demi Alice, Arryan rela melakukan semua itu. Ia sangat berharap setelah Arryan keluar dari penjara Alice akan datang menyambutnya lalu menikah seperti yang diimpikan oleh mereka berdua selama ini. Namun, sudah hampir berminggu-minggu Arryan mendekam di dalam sel tahanan, Alice tidak pernah datang untuk menjenguknya sekali pun. Padahal, Arryan yakin jika Alice tahu karena semua orang membicarakan dirinya. Sekarang, Arryan sudah dikenal sebagai pria jahat karena sudah membunuh orang lain demi harta. Arryan dipandang rendah oleh semua orang membuat mentalnya down. Namun, Arryan tetap tegar menjalani masa hukumannya dengan sabar menunggu waktu dirinya bebas.
“Apa kau benar-benar membunuh?” tanya salah satu orang yang sudah mendekam di sana cukup lama. Ada sekitar 5 orang tahanan yang sudah lebih dulu berada di sana ketika Arryan masuk ke dalam.
Arryan menggelengkan kepalanya. “Tidak, aku tidak melakukannya.”
Mereka mengerutkan keningnya setelah mendengar pengakuan Arryan. “Apa kau menyesal sudah mengakui kesalahanmu setelah kau masuk ke dalam penjara?”
Arryan kembali menggelengkan kepalanya lalu melihat mereka satu persatu. “Aku hanya terpaksa melakukannya demi kekasihku.”
“Hah, rupanya soal cinta, ya.”
“Percayalah, rasa cinta itu akan hilang setelah kau mengetahui kebenarannya. Setelah kau mengerti akan arti cinta itu, kau akan menyesali apa yang sudah kau lakukan ini demi seorang wanita,” timpal pria lainnya sambil menertawakan kebodohan Arryan.
“Kekasihku tidak seperti itu, dan aku tidak menyesali perbuatanku demi dirinya. Jaga ucapanmu, jika tidak satu pukulan akan mendarat di wajahmu.” Arryan menatap nanar pria itu seraya mengepalkan tangannya menahan emosi.
“Tenanglah, anak muda. Kau masih muda dan belum lama hidup di dunia. Kau tidak tahu apa pun bagaimana kejamnya dunia jika mengandalkan cinta saja,” balas pria itu yang menatap tajam Arryan membuat Arryan mengalihkan pandangannya dan tak ingin menatapnya kembali. Ia tidak mau membuat kericuhan diawal pertemuan dengan teman satu selnya.
Saat ini, Arryan sangat merindukan Alice. Sudah cukup lama Arryan tidak bertemu dengan kekasihnya membuat Arryan sangat merindukannya. Ia ingin tahu kabar Alice selama dirinya pergi meninggalkan wanita yang dicintainya itu. Apakah baik-baik saja atau tidak, karena Alice tidak pernah datang untuknya. Arryan berpikir mungkin saja Alice tidak tahu bahwa dirinya masuk ke dalam penjara demi uang untuk melunasi hutang Alice. Arryan tetap berpikir positif tanpa ingin berburuk sangka terlebih dahulu. Karena bagaimanapun Arryan sangat mempercayai Alice bahwa kekasihnya itu tidak akan pernah mengkhianati dirinya.
Karena rasa rindu yang mendera Arryan, ia memikirkan sebuah cara agar bisa bertemu dengan Alice meski hanya untuk sesaat. Tanpa sengaja Arryan menemukan benda tajam di pojok sel tahanan, dengan gerakan cepat ia menancapkan benda itu ke tubuhnya membuat darah segar langsung bercucuran. Teman-teman satu selnya langsung panik melihat Arryan yang berlumuran darah. Mereka langsung memanggil petugas yang berjaga untuk menolong Arryan.
“Ada apa ini?” tanya salah satu petugas saat masuk ke dalam sel tahanan.
“Lihatlah, Arryan. Ia menancapkan sebuah benda tajam ke tubuhnya! Tolong dia, Pak!” ucap salah satu orang di sana yang merasa kasihan kepada Arryan.
“Bagaimana bisa ada benda tajam di dalam sini?”
“Saya tidak tahu, Pak!”
Petugas itu memanggil petugas yang lain untuk membantunya membawa Arryan keluar dari sel tahanan dan membawanya ke sebuah rumah sakit yang terletak tidak jauh dari sana.
Arryan tersadar dan mendapati dirinya berbaring di ranjang rumah sakit dengan alat-alat yang terpasang ditubuhnya. Meski rasa sakit yang diperutnya akibat ulah dirinya sendiri masih terasa, Arryan mencoba untuk tidak menahan rasa sakitnya. Ia mencoba terbangun seraya melepaskan semua alat-alat itu. Kemudian, ia turun dari ranjang dan berjalan menuju pintu sambil berjalan dengan gontai. Ia membuka pintu dan terlihat dua orang petugas sedang berdiri menjaga dirinya.
“Kau sudah bangun?” tanya salah satu petugas itu sambil mengerutkan keningnya.
Tanpa basa-basi lagi Arryan langsung meninju wajah petugas itu sampai tersungkur ke lantai. Begitu pun dengan petugas yang satunya lagi, Arryan membuatnya sampai tidak bisa berdiri setelah memukulnya dengan membabi buta. Setelah mengalahkan dua petugas itu, Arryan langsung berlari keluar dari rumah sakit tanpa mempedulikan rasa sakit yang dideritanya.
Arryan memberhentikan sebuah taxi lalu masuk ke dalamnya. Ia mengatakan sebuah apartemen di mana Alice tinggal. “Pak, cepat jalannya!”
“Iya, Pak,” ucap supir taxi itu yang hanya bisa mengangguk mengiyakan keinginan Arryan.
Sementara di belakang, mobil polisi sedang mengejarnya dengan kecepatan tinggi membuat supir taxi itu panik. “Ada apa ini, Pak? Kenapa mobil polisi itu mengejar saya?”
“Kau tidak perlu menghiraukannya, tetap lajukan mobil dengan kecepatan tinggi dan jangan sampai tertangkap!” ucap Arryan seraya beberapa kali melihat ke belakang karena ia pun sama paniknya dengan supir taxi itu.
Supir taxi itu menghentikan mobilnya secara mendadak membuat kening Arryan terbentur. “Kenapa kau berhenti?!”
“Saya tidak bisa, Pak! Saya tidak memiliki kesalahan apa pun, dan tidak ingin terlibat dengan masalah anda,” ucap supir taxi itu yang meminta maaf karena tidak mau terlibat sebuah masalah.
Arryan langsung keluar dari mobil taxi itu dan berlari ke arah seorang pria yang akan menaiki motornya. Arryan mendorong pria itu lalu naik ke atas motor dan mengendarainya dengan kecepatan tinggi tidak peduli dengan teriakan sang pemilik motor yang menginginkan kendaraannya kembali. Arryan membelah jalanan yang cukup padat itu dengan kecepatan tinggi karena mobil polisi terus mengejarnya di belakang. Arryan membelokkan motornya ke arah sebuah gang sempit mencari sebuah jalan lain agar polisi tidak dapat menemukannya. Beruntungnya, rencana Arryan berhasil membuat polisi yang mengejarnya kehilangan jejak.
Arryan menghentikan motornya saat sampai di depan sebuah apartemen yang sudah lama tidak ia pijak. Ia langsung turun dari motor dan masuk ke dalam gedung yang sudah berdiri dengan kokoh selama bertahun-tahun. Arryan masuk ke dalam lift lalu menekan angka tempat Alice tinggal. Perasannya begitu was-was karena tidak percaya sebentar lagi akan bertemu dengan pujaan hatinya. Untuk bertemu dengan kekasihnya, Arryan harus mempertaruhkan nyawanya sendiri. Tapi ia lakukan dengan senang hati demi Alice tercinta.
Arryan sampai di lantai tempat Alice tinggal, ia berjalan dengan wajah berseri-seri menuju apartemen milik Alice. Ia menarik napasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan kasar sebelum membuka pintu. Setelah siap, Arryan masuk ke dalam dan mendapatkan sebuah kejutan yang luar biasa. Arryan mematung dengan sesak d**a melihat adegan yang terhenti di depan mata kepalanya sendiri.