Ke esokkan harinya, Andrian tetap tidak ke kantor karena mengurus Aline dan juga anaknya. Dia juga tidak meminta Arian untuk ke sini, karena harus menggantikan dirinya untuk meeting kemarin. Untung saja koleganya itu tidak masalah dan mengerti dirinya. Andrian hanya meminta supir untuk membantunya membawakan barang-barangnya saja. Aline sendiri ia papah dengan pelan sembari menggendong Marvin. Putranya itu tidak jarang sekali menangis, kemarin malam saja hanya dua kali terbangun. Ia lapar dan juga pipis, selebihnya bayinya itu tertidur. Namun, menurut dokter Marvin harus sering diberi asi meskipun sedang tertidur. Karena jarak klinik dengan rumahnya tidak terlalu jauh, maka mereka sampai di rumah. Di rumah asisten rumah tangganya itu segera membantu dirinya, dengan membawakan barangnya.

