THE CHARMING PRINCESS

2867 Kata
Setelah suasana tegang yang terjadi di Hall Utama Istana Chena pada upacara penobatan, sang Ratu memerintahkan kedua putrinya untuk segera kembali ke Bangsal Keputrian demi alasan keamanan. Ratu yang nampak geram kembali ketempat dimana pelaku itu diamankan untuk mencari tahu siapa dalang dibalik p*********n itu. Rasa was-was terhadap keselamatan ibunya memenuhi kalbu Putri Adeena. Dia berjalan mondar mandir di tengah taman keputrian sementara adiknya melihat kakaknya itu dengan heran. "Kakak, bisakah kau berhenti berjalan seperti itu? Aku pusing melihatnya." "Bagaimana aku bisa tenang kalau Istana sekarang mudah sekali disusupi penyerang Kyra. Apalagi Bunda Ratu yang mendapat ancaman langsung seperti tadi. Apakah kau tidak khawatir hah?" Putri Mahkota tampak semakin cemas "Kakak, aku juga khawatir atas tragedi tadi, hanya saja aku tidak akan melakukan apa yang kakak lakukan seperti sekarang. Itu cuma membuang-buang energi. Kita percayakan kepada prajurit Archadia untuk mengusutnya. Apalagi kau lihat aksi heroik pujaanmu itu tadi kan?" Putri Kyra sembari tersenyum. Putri berambut perak itu mendadak menghentikan langkahnya sembari mengernyitkan kelopak mata. "Maksudmu? Apa ya dengan kata pujaanmu itu?" Putri Adeena mulai sewot dengan pipinya yang sedikit mulai memerah. "Ya kau lihat sendiri betapa dia hebat membekuk pelaku itu hanya sekali tangkisan, dia berhasil membekuk penyerang yang berbadan lebih besar daripada dia." Ucap Putri Kyra dengan semangat. "Yah akhirnya kau lihat sendiri bagaimana hebatnya dia adikku." Putri Adeena mengambil duduk disebelah adiknya itu. "Aku rasa selama masih ada dia, kerajaan kita akan aman. Aku bisa merasakan betapa jiwa kepemimpinan dia begitu besar kakak." Putri Kyra memperhatikan percikan air mancur yang jatuh ke dalam kolam. "Semoga perkataanmu benar adik ku sayang, dia terlalu misterius untuk diselami sampai membuatku tenggelam sendiri." Putri Mahkota beranjak ke arah rumpun bunga menur yang mulai mekar. Menghirup semerbak wanginya yang tiada tara.  "Kak, aku punya usul. Kau ingin melakukan pendekatan lebih dengan Areez kan? Beri usul kepada Bunda Ratu untuk mengundang makan malam bersama sebagai bentuk rasa terimakasih atas aksinya hari ini." usul Putri Kyra dengan antusias. "Apakah Bunda akan menyetujuinya? Apakah Bunda tidak akan curiga?" Putri Adeena sedikit ragu dengan usulan adiknya. "Tenang, aku rasa Bunda tidak akan curiga." Putri Kyra meyakinkan kakaknya. "Baiklah dik, akan aku coba." Putri Adeena tersenyum sembari memainkan rambutnya yang panjang. Tidak selang lama, Ratu Zaina memasuki area Bangsal Keputrian. Melihat kedua putrinya sedang duduk bersama ditengah taman, sang Ratu pun segera mendekati mereka. "Ah yang mulia." Putri Mahkota memberi hormat diikuti oleh Putri Kyra yang masih kaget dengan kedatangan ibunda nya. "Sedang ada perbincangan apa kah ini?" tanya Ratu Zaina dengan senyumnya yang mendamaikan. "Ah tidak Ibunda, hamba dan adik hanya berfikir untuk membalas aksi heroik Kapten taruna Areez, apakah tidak sebaiknya kita mengundang dia makan malam bersama Bunda?" kata Putri Adeena memberanikan diri memberikan usul seperti itu. "Benar Ibunda, rasanya kita patut mengapresiasi keberanian prajurit kita," tambah Putri Kyra  "Apakah memang dirasa perlu seperti itu wahai anak-anak ku?" Ratu Zaina mencoba mengajuk hati putrinya terutama putri sulung nya yang ia rasa mempunyai perasaan lebih terhadap Kapten taruna itu. "Kami rasa perlu Bunda," ucap Putri Adeena "Benar bunda, kami rasa perlu." Putri Kyra meyakinkan ibunya. "Baiklah kalau ini permintaan kalian. Pengawal!" seru sang Ratu memanggil pengawalnya. Seorang pengawal yang berjaga didekat pintu gerbang pun berlari mendekat ke arah junjungannya berada. "Hamba yang mulia." Pengawal itu memberikan hormat. "Kamu sampaikan pesan saya kepada Kapten taruna Areez di pos penjagaan sekarang bahwa aku mengundang dia malam ini untuk makan malam bersama di Istana," ucap Ratu Zaina  "Baik yang mulia, siap laksanakan." ucap pengawal itu seraya undur diri. "Baiklah anak-anakku apakah kalian ada permintaan lagi?" tanya Ratu Zaina sembari tersenyum. "Tidak Ibunda, terimakasih sudah mengabulkan permohonan kami." Putri Adeena tersenyum. "Sekarang, mungkin kalian harus bersiap karena sebentar lagi malam akan tiba. Kalian tidak ingin sang tamu undangan kecewa kan kalau kalian tidak mandi haha." ucap Ratu Zaina dengan leluconnya "Hahaha Ibunda bisa saja. Baiklah Bunda kami mohon undur diri." hormat Putri Kyra diikuti Putri Adeena yang masing-masing kembali ke kamarnya. Ratu Zaina hanya tersenyum melihat tingkah kedua putrinya yang semakin hari semakin beranjak dewasa dan semakin terlihat cantik dimatanya. &&&&         Malam ini sang Ratu sengaja mempersiapkan jamuan makan malam di gazebo Tamansari. Suasana asri di dalam istana itu akan terasa lebih menyatu daripada harus makan di ruang makan keluarga Istana Utama. Berbagai hidangan telah tersaji diatas meja. Pemandangan lampu berwarna warni telah menyala diantara pohon-pohon rindang yang menambah semaraknya suasana malam itu. Pemain musik telah memainkan lagu-lagu yang bertema gembira sedari matahari mulai terbenam.         Putri Mahkota Adeena dan Putri Kyra telah menempati kursinya, disusul Ratu Zaina. Perasaan was-was sejenak menyelimuti Putri Mahkota jikalau Areez tidak akan memenuhi undangannya malam itu. Sementara Putri Kyra mencoba berusaha menenangkan dan meyakinkan kakaknya kalau Kapten taruna itu akan datang memenuhi undangan Ibu mereka. Seorang pengawal berjalam memasuki area gazebo untuk menemui sang Ratu dan kedua Putri Archadia itu. "Selamat malam yang Mulia, maaf kedatangan hamba mengganggu sebentar," sapa pengawal. "Tidak apa-apa pengawal. Adakah berita yang akan kamu sampaikan?" "Kapten taruna Areez Mattea dan Kapten taruna Jodie Azzan sudah hadir didepan gerbang Tamansari yang mulia," lapor pengawal penjaga. "Wow syukurlah mereka datang, segera suruh mereka masuk ya." perintah Ratu Zaina. Pengawal itu pun segera beranjak kembali ke arah gerbang Tamansari.        Sementara kedua putri Ratu Zaina tampak tersenyum lebar mendengar berita ini. Dua hawaki muda dengan setelan jas kemiliteran taruna berjalan mendekat ke arah gazebo. Wajah Areez dan Jodie perlahan semakin terlihat jelas tatkala lampu sekitar gazebo yang terang menyorot wajahnya. "Selamat malam yang Mulia, tuanku Putri." ucap Areez dan Jodie berbarengan sembari membungkukan badan memberi hormat. "Selamat malam," balas mereka bertiga "Syukurlah Areez, kamu datang memenuhi undangan saya malam ini." Ratu Zaina mempersilahkan Areez dan Jodie duduk. "Mohon maaf yang Mulia, saya mengajak seorang sahabat untuk bergabung." ucap Areez sedikit khawatir bahwa sang Ratu akan keberatan dengan ide nya mengajak Jodie. "Tidak apa-apa Areez, Kapten taruna Jodie juga berjasa tadi siang dalam melakukan pengamanan bersamamu, mari silahkan duduk." sang Ratu mempersilahkan duduk.        Sementara Areez dan Jodie mangambil duduk saling berhadapan dengan Putri Mahkota Adeena dan Putri Kyra. Putri bungsu Ratu yang telah mengenal Jodie nampaknya sudah tidak ada rasa canggung lagi saat mereka bertemu. Sementara Putri Mahkota dan Areez yang duduk saling berhadapan terlihat canggung satu sama lain. "Mari Areez ... Jodie, segera saja kita menikmati hidangan makan malam ini. Anggap saja seperti di rumah sendiri." Ratu Zaina mempersilahkan kedua hawaki itu untuk mengambil makanan. Sementara mereka berdua terlihat mulai mengambil makanan walaupun rasa canggung masih sedikit terlihat dari sikap mereka. "Kapten taruna Areez, saya pribadi mengucapkan terimakasih atas aksi tadi siang dalam menyelamatkan Ibunda Ratu dari serangan. Jika tidak cepat, mungkin bunda atau saya akan terkena tikaman belati itu." ucap putri mahkota Adeena yang memakai long dress berwarna merah malam itu. "Sama-sama tuanku. Itu sudah menjadi tugas hamba sebagai seorang prajurit untuk melindungi kerajaan." Areez menjawab sambil tetap menundukan kepalanya. Sementara Ratu Zaina hanya tersenyum melihat tingkah kedua insan hawanian muda tersebut. "Kapten Jodie, kapan taruna Legiun Eminent melakukan latihan bersama lagi? Aku ingin bergabung bersama kalian," tanya Putri Kyra "Belum ada jadwal dalam kurun waktu dekat ini tuanku. Mengingat taruna baru sudah memasuki masa training." jawab Jodie sambil tersenyum "Yah sayang sekali ya," ucap Putri Kyra "Kabari aku jika ada info terbaru tentang latihan bersama Legiun Eminent." "Siap tuanku," ucap Jodie        Sementara mereka menghabiskan makan malam dengan saling bertukar pikiran dan berbagi cerita pengalaman masing-masing. Setelah makan malam selesai, beberapa penari telah siap untuk memberikan pertunjukan kepada mereka. "Anak ku Areez dan Jodie, saya mohon diri untuk kembali ke dalam Istana. Masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan. Putri Mahkota dan Putri Kyra yang selanjutnya akan menemani kalian." Ratu berpamitan sembari beranjak dari tempat duduknya. "Siap yang mulia," jawab Areez dan Jodie bersamaan.        Sementara mereka melepas kepergian sang Ratu sampai bayangannya menghilang dibalik pintu gerbang Tamansari. Beberapa penari sudah bersiap akan mulai melakukan pertunjukan. Putri Mahkota Adeena mengajak mereka bertiga untuk duduk lesehan di gazebo agar bisa menikmati hiburan malam itu dengan lebih jelas.         Suara musik sudah mengalun dan para penari sudah memulai gerakannya. Dengan beralaskan karpet bulu tebal, mereka berempat duduk bersama menikmati pertunjukan dari penari Istana. Putri Mahkota Adeena duduk lebih dekat dengan Areez, sementara Putri Kyra dan Jodie duduk diseberang mereka berdua. "Betapa indah sekali tarian ini." gumam Areez masih sambil memperhatikan para penari yang bergerak semakin lincah. "Tarian ini bernama Xiomara. Tarian keindahan penyambutan kedatangan tamu sekaligus bentuk syukur terhadap karunia semesta" jelas Putri Mahkota Adeena tersenyum. "Siapakah pencipta tarian ini? Pasti hawanian yang menciptakan begitu menghargai akan keindahan dan keseimbangan semesta," gumam Areez "Apakah kau benar-benar ingin tahu siapa pencipta tarian ini?" nampak Putri Mahkota memperhatikan wajah Areez yang betapa sekarang begitu dekat dengan wajahnya. "Yah dia pasti hawanian yang luar biasa." ucap Areez tanpa melepas pandangan dari penari-penari yang semakin terlihat gemulai. "Penciptanya ada disini, disebelah kamu Areez." ucap Putri Adeena dengan tenangnya.        Seketika Areez melihat ke arah Putri Mahkota yang telah tersenyum menatap wajahnya dengan lekat. Beberapa detik mata mereka kembali saling bertemu disertai deguban jantung yang semakin mengencang. Tatapan mata mereka begitu dekat, disaat itulah Areez menyadari hawana yang sejak awal bertemu dan sempat membuatnya kepikiran itu sangatlah cantik. Areez kembali menundukan kepalanya, dan mencoba menata kembali perasaannya agar tidak kembali terlalu dalam. "Anda hebat sekali tuanku." Areez masih sambil menunduk "Kenapa kau selalu menundukan kepala disaat berbicara denganku Areez? Itu terkesan tidak sopan!" ucap Putri Mahkota sedikit kesal. "Justru ini yang harus hamba lakukan agar harga diri tuanku tidak jatuh sebagai seorang hawana." ucap Areez tenang. Sejenak Putri Mahkota yang baru di nobatkan itu tertegun dengan ucapan Areez. "Kau tahu Areez, seumur-umur aku baru menemukan hawaki sepertimu. Tidak pernah menatap lama wajahku walaupun hanya beberapa detik." ucap Putri Adeena terheran "Terserah tuanku mau menganggap saya kampungan atau tidak sopan." Areez tersenyum "Harga diri seorang hawana sangatlah bernilai, dan tugas seorang hawaki adalah menjaga harga diri seorang hawana. Bentuk seorang hawaki dalam menghargai seorang hawana adalah dengan dia tidak menatap wajahnya terlalu lama. Itu adalah bentuk cintanya yang paling sederhana." ucap Areez dengan tenang.        Putri Adeena kembali terkejut dengan ucapan hawaki tampan itu yang seketika membuat hatinya bergetar dan terasa meleleh. Sesungging senyum kecil terukir dibibir tipis calon pewaris tahta Archadia itu. "Apakah kau ingin melihat aku menarikan tarian Xiomara itu kapten?" Putri Adeena tersenyum. "Tidak tuanku, seorang Putri Mahkota hanya berhak membawakan tarian untuk keluarga dan suaminya." ucap Areez tenang. "Yah kau memang benar, tapi apakah kau tahu jika ada satu pengecualian?" tanya Putri Adeena sembari tersenyum. "Maaf hamba tidak tahu tuanku." Areez sedikit bingung. "Pengecualiannya adalah aku akan menarikan tarian itu didepanmu jika kau berhasil lulus menjadi taruna terbaik." Putri Adeena tersenyum menatap wajah pujaan hatinya itu, sekarang giliran Areez lah yang terbengong mendengar ucapan dari Putri Adeena. "Tuanku, mohon maaf sepertinya malam semakin larut. Tuanku dan Tuan Putri Kyra harus beristirahat. Hamba dan Kapten taruna Jodie mohon undur diri." ucap Areez berpamitan dan segera memberi kode kepada Jodie untuk ikut berpamitan. "Baiklah kapten. Terimakasih untuk malam ini." ucap Putri Adeena terasa berat akan kembali berpisah dengan hawaki yang selalu berputar-putar dalam pikirannya.        Akhirnya Areez dan Jodie meninggalkan Tamansari diikuti oleh sepasang mata Putri Mahkota Adeena dengan senyum yang terkembang. Melihat kakaknya senyam senyum sendiri, Putri Kyra segera menyadarkan kakaknya. "Kakak kenapa si senyum-senyum sendiri?" tanya Putri Kyra penasaran. "Adik, aku sudah bisa membaca bagaimana perasaan dia yang sebenarnya." ucap Putri Adeena masih menyunggingkan senyuman. "Serius? Nanti kecewa lho kalau nggak bener," ucap Putri Kyra "Untuk kali ini perasaan kakakmu tidak akan salah," ucap Putri Adeena. Akhirnya mereka kembali menuju bangsal Keputrian untuk segera beristirahat. &&&&         Dua bulan tidak mendapat kabar tentang Areez sejak peristiwa di gazebo malam itu membuat hati Putri Mahkota mendadak gundah gulana. Wajah suram terpancar jelas selama seharian ini. Nafsu makan nya berkurang, semangat nya menurun. Hal ini sempat membuat sang Ratu khawatir akan kondisinya. Nampaknya, Putri Mahkota itu selalu berhasil meyakinkan ibunya bahwa dia dalam keadaaan baik-baik saja.         Putri Kyra tiba di Bangsal Keputrian setelah selesai berlatih berkuda. Memasuki halaman Keputrian, dia segera mencuci tangan, kaki dan wajahnya yang telah penuh dengan debu. Terlihat pelayan pribadi kakaknya datang mendekat sembari membawakan baki berisi segelas air dingin. "Hesa ... apakah kakak ku sudah makan siang?" tanya Putri Kyra mencemaskan keadaan kakaknya sembari menenggak air dingin yang terasa sangat menyegarkan di terik siang hari itu. "Belum tuanku, tuanku putri Adeena masih tidak mau makan sedari pagi." Hesa melaporkan keadaan junjungan nya dengan sedikit khawatir. "Hhmm baiklah, siapkan makanan untuk dia. Biar aku langsung yang akan memaksanya." ucap Putri Kyra dengan kesal, sementara Hesa pergi mengambil makan untuk tuannya. Setelah selesai segera nampan itu diserahkan ke Putri Kyra untuk dibawa menuju kamar kakak nya. Tok ... tok ... tok .... "Masuk," Terdengar suara lembut dari dalam kamar. Putri Kyra muncul dengan membawa nampan yang telah terisi berbagai makanan, sementara Putri Adeena segera beranjak duduk begitu melihat adiknya datang. "Kak, ayo makan. Aku suapin ya?" bujuk Putri Kyra "Aku tidak ingin makan dhe," ucap Putri Adeena "Kenapa? Kakak kepikiran Areez kan?" tanya Putri Kyra, sementara Putri Adeena hanya memandang wajah adiknya sambil menganggukan kepalanya. "Areez sedang masa training di Legiun nya kak. Dia tidak hilang. Dia tidak juga pergi. Aku mendapatkan kabar itu dari Letnan Arian. Kabarnya dua hari lagi dia akan di wisuda dari Akademi Ksatrian." ucap Putri Kyra sambil menyuapi kakak nya. "Apa? Benarkah dia akan wisuda?" ucap Putri Mahkota Adeena sedikit terperanjat. "Iya benar dan Ibu Ratu yang akan membaret para prajurit. Kalau kakak mau, aku bisa bilang kepada ibu agar kita bisa ikut juga di acara pembaretan itu." ucap Putri Kyra dengan semangat menyuapi kakaknya. "Jelas Kyra, kita harus ikut. Kamu harus bilang kepada bunda bahwa kita akan ikut." Putri Adeena mulai terlihat girang. "Iya aku akan bilang kepada ibu, asalkan kakak menghabiskan makanan ini," ucap Putri Kyra "Pasti Kyra, terimakasih ya adik ku sayang." ucap Putri Adeena sambil memeluknya. "Apakah kakak tidak akan memberikan tanda mata kepadanya sebagai hadiah kelulusan?" tanya Putri Kyra "Hah hadiah? Apakah tidak terlalu berlebihan Kyra?" tanya Putri Adeena "Ya nggak lah, itu akan membuat dia lebih senang dan akan memberikan pandangan yang lain terhadapmu kakak." Putri Kyra tersenyum. "Kamu nggak tahu Areez dhe, dia bukan tipe orang yang suka dikasih hal-hal romantis seperti itu. Aku tidak yakin." Putri Adeena sedikit ragu. "Apa salahnya mencoba? Kalau diterima ya syukur, kalau tidak ya buat aku hahaha." ledek Putri Kyra "Huuu dasar, baiklah aku akan mencari hadiah untuknya. Terimakasih ya dhe," ucap Putri Adeena. Akhirnya mereka menghabiskan waktu sore itu dengan mencari ide-ide hadiah yang pas untuk diberikan kepada Areez sebagai hadiah kelulusannya. &&&&        Setelah menghadiri upacara pembaretan siang itu di Akademi Ksatrian Archadia, seorang Putri Mahkota Adeena ditemani adik satu-satunya mencari sosok yang sedari tadi ibunya jadikan bahan pidato. Yah benar, Kolonel Eminent Areez lah yang mereka cari. Melihat taruna yang sudah berhamburan menjadi satu membuat kedua putri itu kesulitan mencari sosoknya. Sebuah kotak hadiah yang di rencanakan untuk diberikan kepada Kolonel Eminent Areez Mattea sebagai bentuk rasa terimakasih dan ucapan selamat untuk kelulusannya telah mereka siapkan.       Putri Kyra pun membantu kakaknya mencarikan sosok Areez yang memang susah untuk dilihat diantara ratusan taruna yang dibaret siang itu. Dirinya lah yang meyakinkan kakaknya, Putri Mahkota Adeena untuk memberikan sebuah kado di hari kelulusannya. Jika dia tidak menemukan Areez dan kado itu tidak tersampaikan, maka sia-sialah usaha dia yang telah merayu kakaknya dengan susah payah. Tapi sampai sang Ratu akan meninggalkan lapangan sosok Areez belum juga ditemukan. "Adik ... dia dimana si?" Putri Mahkota terlihat sedikit cemas. "Aaah aku juga pusing kak dari tadi nggak nemu." jawab Putri Kyra dengan kesal. "Seragam dia kan beda sendiri, harusnya mudah bagi kita untuk menemukan. Tapi kok nggak ada. Atau jangan-jangan dia sudah kembali ke Bangsal Ksatrian taruna Eminent?" tanya Putri Adeena dengan mimik wajah sedih. "Yasudah kak, kita susul dia kesana." ajak Putri Kyra "Gila kamu, apa kata orang kalau kita kesana? Nanti ada gosip yang tidak-tidak beredar." Putri Mahkota Adeena terlihat bimbang. "Kakak gimana si? Katanya kakak cinta sama dia, suka sama dia. Bagus dong kalau ada gosip seperti itu, berarti jalan buat mendapatkan Areez semakin berpeluang besar," ucap Putri Kyra. "Kamu tidak tahu Areez seperti apa dik. Dia cuek. Kakak juga tidak yakin apakah dia ada rasa sama kakak atau tidak. Setiap kita beradu pandang dia selalu menundukan kepalanya dan menghindari pandangan dari kakak." ucap Putri Mahkota Adeena sembari menghela nafas. "Yaelah kakak, itu bukan berarti menghindar. Tapi itu bentuk dia menghormati kakak sebagai Putri dari Archadia, apalagi kakak kan Putri Mahkota. Atitude seperti itu sudah seharusnya dilaksanakan sebagai seorang prajurit kak. Kyra lebih paham jika masalah ini." jelas Putri Kyra dengan gamblang. "Putri Mahkota Adeena ... Putri Kyra, mari kita kembali ke Istana." ajak Ratu Zaina. "Apakah kita akan kembali sekarang juga ibunda?" tanya Putri Mahkota Adeena tampak gusar. "Iya, memang ada apa? Apakah kau sedang menanti seseorang?" tanya Ratu Zaina dengan tersenyum. "Benar bund ... mmmhh." ucapan Putri Kyra terpotong dengan sigap oleh Putri Mahkota Adeena yang langsung menutup mulutnya. "Baiklah Ibunda, mari kita kembali ke Istana." Ajak Putri Mahkota Adeena dengan berat hati.       Sampai dia menaiki kereta kencana, sosok Areez belum juga nampak dimata nya. Dia hanya menghela nafas panjang, sementara Putri Kyra sangat mengetahui apa yang kakaknya rasakan. Digenggam tangan kakak nya itu, meyakinkan kalau masih banyak waktu dan masih banyak kesempatan untuk menyerahkan kado hadiah. Suara terompet lima kali berbunyi dan kereta kencana meninggalkan Akademi Ksatrian dengan segera.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN