15

1295 Kata
"Aku terkejut ketika kau meneleponku." Marvin masuk ke dalam apartemen Violet dengan senyum lebar sembari membawa sekantung besar plastik putih yang entah apa isinya. "Padahal kukira kau tidak akan menggubris tawaranku tadi siang." Pipi Violet memerah karena ia memang terkesan tak senang dengan tawaran Marvin tadi siang. Ia bahkan mengabaikan pria itu karena Marvin malah membuat pengakuan gila bahwa ia menyukai Violet. Namun, entah kenapa sekarang Violet justru memanggil pria ini kemari. Violet juga tak mengerti mengapa ia tak takut dengan Marvin padahal Angela sudah memperingatkan Violet bahwa kakaknya itu playboy. Mungkin karena Violet membutuhkan tempat bercerita sekarang. Tak ada yang mampu mengerti posisinya selain orang yang tahu soal kondisi pernikahan ini. Dan ... tak banyak orang yang tahu soal ini. Marvin adalah satu-satunya opsi yang Violet bisa pilih. "Masuklah." Violet bergerak ke arah sofa. Ia sedang menonton televisi tadi setelah mandi dan menunggu Marvin datang, tapi pikiran Violet sebenarnya tidak fokus. Ia malah membayangkan banyak hal lain yang membuatnya kembali menangis. "Kau bisa duduk di mana pun kau mau." "Berarti aku bisa duduk di pangkuanmu?" Marvin berkata sembari tersenyum lebar penuh jenaka. Violet sedang tak berada dalam mood untuk bercanda. Perempuan itu mendengkus keras, sekarang ia mulai berpikir bahwa keputusan untuk membawa Marvin kemari adalah hal yang salah. "Aku bercanda." "Aku tahu." Violet menyenderkan tubuhnya dan menghela napas. "Aku mungkin membuatmu terkejut. Aku ... tak bermaksud untuk menghubungimu. Hanya saja ... aku tak tahu harus ke mana lagi. Tidak banyak orang yang tahu soal situasiku dan aku ...." Napas Violet perlahan mulai tercekat seiiring dengan emosi yang mulai menguasainya. Ia tak ingin menangis di depan Marvin yang notabenenya baru ia temui hari ini, tapi ... matanya berkhianat. Ia tak mampu untuk tak mengeluarkan butiran bening itu. Pada nyatanya, Violet sudah terluka terlalu banyak selama ini. Ia hanya ... bersikap seperti hal-hal yang dilakukan Darren tak menyakiti hatinya--meski pada nyatanya itu berketerbalikan dengan fakta yang ada. "Hei. Apa aku boleh memelukmu?" Marvin bergerak ke arah sofa yang Violet dudukki. Namun, baru saja lelaki itu mendaratkan p****t, Violet sudah bergerak menjauh karena ia tak terbiasa. "Aku tak berniat menyakitmu. Apalagi kau adalah teman adikku, istri dari sahabatku. Aku ... hanya merasa kau butuh sebuah pelukan. Kau tahu, ketika aku sedang sedih, sebuah pelukan hangat bisa membuatku lebih tenang." Violet membeku di tempat dengan air mata yang sudah berlinang deras. Melihat Violet diam saja membuat Marvin langsung bergerak dan menarik Violet ke dalam pelukannya. Hangat. Benar-benar terasa hangat dan harum. Marvin menyentuh rambut panjang Violet yang tergerai dan menghela napas panjang. Ia bisa merasakan bahwa tubuh perempuan itu bergetar dan mungkin saja nanti kemejanya akan basah kuyup karena air mata. "Aku tahu semuanya, Violet. Kau mungkin ... terluka karena ... kau mulai menyukai Darren. Aku tahu bahwa pernikahan ini sudah salah sejak aku tahu kalau Darren punya wanita lain, tapi ... aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku minta maaf untuk itu." Violet yang tengah menumpahkan semua hal yang ia rasakan di d**a Marvin kebingungan karena perkataan pria itu. Violet memang telah bercerita garis besar yang ia alami di telepon pada Marvin. Dengan suara serak, ia berusaha untuk berkata, "Kau sama sekali tak ada hubungannya dengan ini. Mungkin ini sudah nasibku. Sejak dulu kebahagiaan memang selalu lari dariku. Meninggalkanku. Kehidupan memang selalu begini. Apa mungkin semua ini terjadi karena ... aku tak pantas untuk bahagia?" Marvin menggeleng. Violet bisa merasakan pergerakannya. Sebenarnya, perempuan berambut abu itu juga tahu kalau ini adalah sesuatu yang salah. Memeluk sahabat dari suaminya sambil menangis bukanlah perbuatan yang etis. Namun, Violet juga tak bisa menampik bahwa pelukan Marvin memang menenangkannya--membuat ia lega sekaligus tenang di waktu yang bersamaan. Violet melupakan fakta bahwa mereka baru saja saling bertemu hari ini. Setidaknya, sekarang itu bukanlah sesuatu yang penting. "Setiap makhluk hidup pantas untuk bahagia, jangan bilang begitu," kata Marvin dengan bijak. Ia melepaskan pelukan Violet dan menyentuh wajah perempuan itu dengan kedua tangan. Ia menghapus air mata Violet yang turun dengan kedua ibu jarinya. "Hanya saja kebahagiaan itu bergantung pada pilihan yang manusia ambil." "Pilihan?" Violet berkata dengan hidung yang memerah. Ia merasa jaraknya dengan Marvin terlalu dekat dan perempuan itu merasa canggung. Jadi, dengan segera Violet mundur sedikit. "Apa maksudmu?" "Kaulah yang memilih untuk tetap bersama Darren di saat dia sudah memiliki wanita yang ia cintai, kan? Aku dengar, dia bahkan membebaskanmu untuk pacaran dengan pria lain, tapi kau tak mau. Kau masih setia menjadi istri yang baik. Kau menjaga dan merawatnya seolah kalian saling jatuh cinta dan apa kau tahu? Setiap tindakanmu itu justru menyakiti dirimu sendiri. Karena perlahan kau terus berharap bahwa sedikit demi sedikit, kebaikanmu bisa membuahkan hasil. Kau berpikir bahwa Darren lama-lama akan jatuh cinta dengan sikapmu itu. Namun, kau selalu terluka kala kau salah, bukan?" "Karena pada nyatanya dia masih mencintai perempuan itu, bahkan setelah semua yang kaulakukan" sambung Marvin yang membuat Violet benar-benar bungkam karena ucapan lelaki itu benar semua. Angela benar, Marvin playboy. Buktinya dia bisa mengerti Violet dengan begitu cepat, padahal Violet tak bercerita banyak. Ia hanya memberitahu garis besar tentang apa yang ia alami dan Marvin dengan segera mau kemari. "Sudahlah, jangan menangis lagi. Dia bahkan tak pantas untuk kau tangisi dengan air matamu itu. Darren memang sahabatku, tapi aku tak akan ragu untuk menegurnya bila ia salah dan menurutku, kau tidak pantas untuk tersakiti di pernikahan ini. Aku ... tak ingin kau terluka." Marvin membuka kantong plastik putih yang ia bawa dan memberi sebotol bir kalengan pada Violet. Ketika keadaannya mulai canggung karena perkataannya sendiri, Marvin langsung mengalihkan topik. "Omong-omong, aku membeli banyak cokelat supaya kau senang. Aku baik, kan?" Violet menerima bir yang Marvin sodorkan dan mengintip isi dari kantong yang Marvin bawa--ia berpura-pura untuk tak dengar soal perkataan Marvin sebelumnya--dan benar saja, dia membeli banyak sekali cokelat. Mungkin totalnya lebih dari 20 batang. "Kau membelikan itu untukku?" Marvin mengangguk. "Aku mau mengajakmu ke kelab sebenarnya supaya kau bisa berlari sebentar dari masalahmu, tapi aku dengar dari Angela kalau kau tak pernah datang ke tempat seperti itu. Karenanya kupikir ... cokelat dan bir rendah alkohol adalah jawaban yang tepat. Aku juga memesan satu bucket ayam goreng. Mari kita maraton film horor malam ini supaya kau tidak menangis lagi. Berteriak mungkin akan membuatmu lebih lega." Violet menghapus air matanya. Ia tersentuh dengan kebaikan Marvin. Meski mereka tak dekat, tapi Marvin bahkan tak berniat untuk menjerumuskan Violet ke dalam dunia malam. Dia tampaknya memang baik. Setidaknya ... dia membuat Violet benar-benar merasa nyaman sekarang. Sejenak, Violet memang merasa rasa sakit hatinya menguap entah ke mana. Film horor adalah saran terburuk yang Marvin berikan karena Violet tak bisa berhenti menjerit ketika hantunya muncul--ia sempat tak sengaja memeluk Marvin karena terkejut, yang membuat pria itu tersenyum penuh jenaka dan menggoda Violet habis-habisan. Marvin bahkan menggelapkan apartemen supaya sensasi seram lebih terasa. Namun, meskipun Violet ketakutan dan terus berteriak, tak bisa ia pungkiri bahwa beban di hatinya sedikit lebih terangkat. Marvin membuat Violet merasa ia punya teman di dunia yang bisa membantunya dan ia tahu, ia berutang budi pada pria gila yang playboy ini. "Terima kasih ...." Violet berkata pada Marvin ketika jam menunjuk pukul tiga pagi dan Darren masih tak pulang, sedangkan Marvin masih membuka matanya sempurna--dan sekarang ia sangat fokus pada layar TV yang ia setel dengan film horor sejak tadi. Seluruh ayam yang Marvin beli sudah habis, demikian pula dengan bir yang sudah kandas dan hanya tersisa kalengannya  di atas meja.  "Karena sudah mendengarkanku, menghiburku, dan membuatku lupa soal Darren meski sejenak ...." "Tak masalah. Aku bahkan punya pilihan yang lebih efektif untuk membuatmu bangkit dari rasa sakit, tapi aku tak yakin kau mau mendengarnya." Marvin berkata tanpa menatap mata Violet. Perkataannya terdengar menggiurkan. "Apa itu?" "Berhentilah menyukai Darren dan berpacaran denganku. Aku berjanji akan membuatmu bahagia." Marvin menoleh dan menatap Violet intens. "Setidaknya aku berharap kau mau mempertimbangkan itu. Karena aku ... benar-benar menyukaimu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN