7

1216 Kata
Violet mengerjapkan mata beberapa kali kala sinar mentari telah menyinari ruangan kamar itu, membuat tidurnya menjadi terganggu. Perlahan, ia bangkit dari posisi awal dan mengedarkan pandangan. Violet berusaha untuk mengingat kejadian kemarin ketika ingatan di mana ia menunggu Darren untuk makan malam kembali terputar. Perempuan berbola mata abu itu menarik napas panjang. Dia merasa dibodohi. Lalu sepersekian detik kemudian, Violet mulai merasa ada yang aneh. Ia menggaruk kepala dan bertanya-tanya ... bagaimana ia bisa tidur di atas ranjang? "Seingatku kemarin aku terus menunggu di meja makan?" gumam Violet pada dirinya sendiri. "Apa aku tidur sambil berjalan?" Suara berisik dari luar menarik perhatian Violet yang awalnya tengah bertanya-tanya tentang bagaimana ia bisa berakhir di atas kasur empuk. Perempuan itu mengerutkan dahi karena bingung. Apa para pembersih sudah datang hari ini? Tapi bagaimana mereka masuk? batin Violet bertanya-tanya. Ia tahu akan ada beberapa orang asisten yang datang ke apartemen ini setiap tiga hari sekali untuk membantu Violet bersih-bersih, tapi jadwal kunjungan itu esok, bukan hari ini. Lagi pula kalaupun mereka memang datang, seharusnya mereka tak bisa masuk, karena mereka tak tahu password apartemen Violet. Jadi ... siapa yang ada di luar? Violet tak bisa memikirkan siapa pun. Tak ada yang tahu password untuk masuk ke dalam apartemen ini, bahkan Darren saja tidak tahu. Pencuri? Violet mulai berpikir negatif. Di hari seterang ini? Seriously? Karena tidak bisa menahan rasa penasaran, Violet akhirnya melangkah ke luar ruangan. Jam baru menunjuk pukul tujuh lewat sedikit. Ruangan kamarnya hanya memiliki sedikit barang karena banyak dus yang belum dibongkar, membuat Violet tak bisa mencari benda yang bisa ia gunakan sebagai senjata--kalau yang ada di luar memang benar-benar maling mungkin Violet akan menjerit kuat-kuat saja. "D-darren?" Mulut Violet menganga ketika ia sudah sampai ke luar kamar dengan langkah sepelan yang ia bisa--karena ia takut ketahuan oleh pencuri yang ternyata adalah Darren. Dahi Violet berkerut ketika menemukan Darren berada di dapur, tengah sibuk memasak tanpa mengenakan baju. Violet ulangi, Darren memasak tanpa menggunakan sehelai benang pun di bagian tubuh atasnya! Otot lelaki itu begitu terbentuk. Tubuhnya besar dan kekar, tapi tidak berlebih dan pas. "Darren apa yang sedang kaulakukan?" Violet bertanya ketika ia mendekat ke arah dapur karena tampaknya Darren tak sadar kalau Violet sudah bangun. Lelaki itu memasak sesuatu yang membuat aroma apartemen menjadi menggiurkan, tapi Violet tak yakin tentang makanan apa yang Darren buat. "Dan bagaimana kau masuk? Kapan kau pulang? Kenapa kau tidak memakai pakaian?" "Kau ini cerewet sekali." Darren menatap Violet sekilas yang membuat Violet langsung memalingkan wajah karena ia tak sengaja melihat otot-otot di perut Darren. "Lagi pula, orang bodoh macam apa yang memasang tanggal pernikahan sebagai password? Pencuri bahkan bisa menebak itu." Violet merasa pipinya memanas karena ucapan Darren. Dia tak tersinggung, hanya saja ... ia agak malu karena ketahuan memasang tanggal pernikahan mereka sebagai kata sandi. Omong-omong, kemarin Violet sangat kecewa karena ucapan Darren ditelepon--tentang bagaimana cara lelaki itu menggambarkan pernikahan mereka dari sudut pandangnya yakni; buang-buang waktu dan tak penting. Violet benar-benar terkejut dan tak menyangka kalau Darren akan setega itu, hingga ia menangis tanpa ia sadari. Violet tak tahu apakah lelaki itu memang memiliki kebiasaan berbicara kasar atau dia hanya tak menyukai Violet. Namun, setelah Violet ingat-ingat lagi, Darren tampak begitu ramah dengan tamu-tamu undangan di pernikahan mereka. Jadi, kesimpulannya adalah Darren hanya tak menyukai Violet, makanya dia kasar. "Aku akan mengubah password-nya nanti." Violet bergumam. "Omong-omong, kapan kau pulang?" "Semalam." Darren menjawab cuek lalu ia memindahkan nasi goreng yang ia masak ke dua piring putih yang telah ia siapkan. "Semalam?!" Violet membulatkan mata. "Aku ... tak melihatmu?" "Tentu saja. Aku pulang jam tiga pagi." Darren bergerak menuju meja makan dan Violet mengikutinya seperti orang bodoh. "Aku kan sudah bilang kalau aku akan pulang." Violet mengikuti Darren dari belakang sambil merenung. Namun, langkah perempuan itu berhenti saat Darren tiba-tiba berbalik, yang menyebabkan kepala Violet membentur d**a Darren karena ia terkejut. "Aw!" Violet mengaduh sambil memegang dahinya. "Sakit." Ketika rasa sakit itu berangsur menghilang beberapa detik kemudian, Violet berhenti mengeluh dan menatap ke depan, tapi pandangannya langsung teralih karena sekarang d**a bidang Darren yang tak ditutupi apa-apa itu tengah terpampang di depan Violet. Oh! Pipi perempuan bermata abu tersebut memerah. "Dasar lemah." Darren memandang Violet sambil menggelengkan kepala. Perempuan itu sangat mungil bila disandingkan dengan Darren. "Kenapa kau tak makan semalam? Kau bisa makan malam dan meninggalkanku, tapi kenapa kau malah menungguku sampai ketiduran di atas meja? Sebenarnya kau ini bodoh atau dungu, ha?" Violet terpana karena perkataan Darren. Otaknya mulai bekerja setelah ia mendengar apa yang suaminya itu katakan. "Jadi ... aku tertidur di meja makan dan kaulah yang memindahkanku ke kamar?" Darren terdiam. Ekspresinya berubah untuk sejenak. "Kenapa pula aku harus memindahkanmu? Merepotkan sekali. Kau mungkin berjalan sambil tidur tanpa kau sadari." Darren segera berbalik dan duduk di meja makan. Jawaban lelaki itu membuat senyum kecil terbit di bibir Violet. Ia yakin Darren yang memindahkannya ke tempat tidur, tapi lelaki itu tak mau mengakuinya. "Jadi ... kenapa kau memasak hari ini?" Violet membuka topik baru ketika ia melihat dua piring putih yang telah diisi segunung nasi goreng tampak menggiurkan di atas meja. "Supaya kau tak meracuniku dengan masakanmu, jadi aku masak sendiri." Darren membalas sambil menyuap satu sendok nasi ke dalam mulutnya. Lalu, ia menyodorkan salah satu piring yang belum ia sentuh ke arah Violet. "Ha?" Violet menatap Darren bingung karena aksi tiba-tiba lelaki itu. "Makan ini," ucap Darren setelah ia selesai mengunyah. "Kenapa?" Violet memiringkan kepalanya bingung. Ia tahu Darren tak sebaik itu untuk memasakkannya sarapan. "Makan saja. Kenapa cerewet sekali, sih?" Darren mengerutkan kening. "Aku tak tahu kalau kau bisa sebawel ini, kupikir kau pendiam karena waktu pertemuan perjodohan kau diam saja saat kita ditinggal berduaan." "Aku juga tak tahu kalau kau juga cerewet," balas Violet tak mau kalah. "Buktinya kau terus mengomel daritadi." Darren membulatkan mata, lalu dia menarik napas. Baru pertama kali ada yang berkata bahwa aku cerewet, batin lelaki itu. "Makanlah. Jangan membuatku memaksamu." Darren menatap Violet sekali lagi dengan pandangan tajam, seolah Violet akan ditelannya bila Violet tak memakan apa yang Darren masak. Violet menarik kursi di depannya dan duduk bersebrangan dengan Darren. Diliriknya nasi goreng itu dengan pandangan penuh selidik, lalu dengan jahil, Violet bertanya, "Kau tak akan meracuniku, kan?" Darren mendengkus keras lalu memalingkan wajah. Respons yang menurut Violet sangat imut. Perempuan berbola mata abu itu menyuap satu sendok nasi dan jatuh cinta akan rasanya. "Enak," puji Violet tulus. Perempuan itu makan dengan lahap yang membuat Darren terpana karenanya. Lelaki itu hampir tidak pernah memasak untuk orang lain--bahkan Gladys sekalipun. Darren memasak untuk Violet karena ia merasa bersalah, sebab wanita ini semalam tak makan hanya karena menungguinya. "Semoga kau tak keracunan setelah makan itu." Darren berkata ketika nasi di piring Violet sudah tinggal setengah. Wajah serius lelaki itu sempat membuat Violet memucat, tapi semua kekhawatiran Violet luntur kala Darren tiba-tiba tertawa. Tawa yang bahkan belum pernah Violet lihat setelah dua bulan lebih mereka saling mengenal. "Aku hanya bercanda. Kenapa kau serius sekali?" Violet tersenyum. Senyum termanis yang pernah ia keluarkan selama setahun terakhir. Pagi ini, hatinya terasa hangat. Violet tak mengerti kenapa Darren tiba-tiba memasak untuknya, tapi Violet cukup bahagia dengan fakta bahwa Darren ada di sini, tersenyum, sarapan, dan melakukan hal-hal layaknya pasangan bersama Violet. Perempuan itu sungguh berharap agar waktu bisa dihentikan di sini. ** cerita akan dilanjut setelah vote 55 dan komen 12!!!!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN