21

1410 Kata
Gladys turun dari taksi di depan gedung hotel Malf yang merupakan salah satu aset milik Darren yang juga menjadi tempat di mana diselenggarakannya acara anniversary Malferent Group yang ke 60 tahun. Ekspresi perempuan itu masih saja semringah, kalau saja ia tidak menyadari kalau ... semua orang yang ada di sini memakai baju putih! Ya! Gladys yakin ia tidak salah lihat. Semua tamu undangan yang berada di lobi memakai baju putih, ia satu-satunya manusia yang memakai outfit bernuansa hitam di sini! Darren tidak mengatakan kalau ada dresscode untuk acara ini! Astaga, apa dia lupa?! Bagaimana bisa ia melupakan hal penting seperti ini?! Gladys memang tidak menerima undangan berbentuk fisik ataupun digital karena ia diundang lewat jalur khusus--Darren. Ya, ini adalah acara Malferent Group, jadi kata Darren, Gladys tak perlu repot-repot membawa undangan, ia hanya perlu datang di tempat dan waktu yang telah ditentukan. Bila ia ditahan, ia hanya perlu menyebut nama Darren--hal ini hanya berlaku untuk Gladys karena ia adalah tamu khusus. Kemarin, perkataan Darren terasa sangat manis dan Gladys merasa spesial, tapi hari ini ... semuanya jadi boomerang! Benar-benar sial! Kini, Gladys sadar kalau semua orang menatapnya aneh. Hari ini hanya ada acara Malferent Group di hotel ini, tak ada yang lain. Semua orang jelas sudah menangkap basah Gladys sebagai perempuan yang salah warna kostum dan yang menyebalkan adalah, tatapan mereka semua seolah mencemooh kebodohan Gladys! Kebodohan yang bahkan bukan karena ia! Gladys berusaha untuk berpura-pura tidak peduli. Dia ingin pulang dan ganti baju, tapi rumahnya cukup jauh dari hotel ini. Belum lagi ini adalah weekend, jalan pasti macet dan dia butuh waktu yang lama untuk sampai di sini lagi. Namun, kalau dia tidak kembali ...? Dia harus apa? Masuk ke dalam dan mempermalukan diri sendiri? Gladys merasa ia tidak bisa melakukan itu. "Gladys?" Gladys masih berdiri seperti orang bodoh di lobi hotel saat ia mendengar seseorang menyebut namanya. Ia menoleh dan menemukan sepasang bola mata abu asing yang tampak familier di saat bersamaan. Gladys merasa pernah melihat orang itu, tapi ia tak tahu di mana dan siapa. "Ya?" balas Gladys ragu. Ia memandangi pria di depannya dengan wajah bingung, meski di dalam hati, Gladys sedang meneliti setiap inci dari wajah lelaki tampan ini. Wajahnya termasuk ke dalam tipe ideal Gladys. Mungkin dia sedang beruntung, setelah kesialan demi kesialan yang hadir sebelum ini. "Siapa?" "Hai, aku Marvin. Masih ingat aku?" Marvin menebar senyum lebar dan memeluk Gladys singkat, seolah mereka akrab. "Aku teman Darren, kita pernah bertemu beberapa kali dulu waktu sekolah, kalau kau ingat." Gladys tidak ingat. Sungguh, dia tidak terlalu punya memori soal masa lalu karena ia bukan tipikal orang yang tinggal dalam penyesalan. Namun, pelukan singkat yang terasa hangat itu berhasil memompa jantungnya beberapa kali lebih kuat. Terlebih, ketika wangi maskulin menyeruak ke dalam indra penciumannya, membuat Gladys tiba-tiba saja merasa nyaman, meskipun ia sedang dipeluk oleh seseorang yang bahkan tak ia kenal. "Oh, Marvin." Gladys tersenyum canggung ketika pelukan mereka terlepas. "A-apa kabar?" tanya Gladys, berpura-pura kalau ia mengingat pria itu. "Aku baik." Marvin tersenyum hangat dan tampak bersahabat. Dia menatapi Gladys dari atas ke bawah dengan alis yang berkerut, sebelum ia bertanya, "Omong-omong kenapa kau memakai dress hitam? Kau tidak tahu kalau dresscode hari ini berwarna putih?" Gladys menggeleng sembari mengigit bibirnya. "Aku ... tidak tahu. Darren sepertinya lupa memberitahuku dan sekarang aku tidak tahu harus bagaimana, aku malu kalau harus masuk ke dalam dengan pakaian yang berbeda sendiri." "Kasihan sekali kau." Marvin menggelengkan kepala. Ia memang datang sendirian karena Angela memutuskan untuk pergi dengan pacarnya, sampai ia tidak sengaja melihat Gladys di lobi. Perempuan itu tidak berubah, meski sudah lama tak bertemu, dia hanya terlihat sedikit lebih dewasa. Well, sebenarnya Marvin sempat mencari akun sosial media Gladys ketika Darren menceritakan hubungannya dengan Gladys untuk pertama kali--ini ia lakukan karena ia penasaran. Dan berkat stalking itu, Marvin bisa mengenali Gladys sekarang. "Iya, aku benar-benar tidak tahu harus baga--apa yang kau lakukan?" Gladys baru saja mau mengeluh saat ia melihat Marvin melepaskan jas yang ia pakai. Lelaki itu memang memakai kemeja dan jas putih, jadi kalau ia melepas jasnya pun, ia akan tetap terlihat formal dan rapi--dan tetap sesuai dengan dress code yang ditentukan. "Pakai ini," balas Marvin sembari tersenyum. Ia membiarkan jasnya dipakai oleh Gladys. "Setidaknya dengan itu, kau tak terlalu mencolok." "Tap--" Gladys baru saja hendak bertanya lebih lanjut saat Marvin mengangkat tangannya--seperti melambai--dan bergerak menjauh dari Gladys tanpa salam perpisahan. Dia benar-benar meninggalkan jasnya di tangan Gladys. "What a sexy man." Gladys menatapi jas yang sekarang sudah ia pakai di pundak. Secara mengejutkan, gaunnya cocok dengan jas ini. Perempuan bermata biru itu memandangi punggung Marvin dengan tatapan terpesona sebelum ia tersenyum lebar. Senyum yang maknanya hanya bisa dipahami oleh dia dan ... Tuhan. ** Pesta itu sudah mulai ramai dengan banyak orang, ketika Gladys masih tersangkut di bagian pintu masuk. Penjaga yang bertugas untuk memantau situasi tidak membiarkan ia masuk ke dalam karena ia tak punya undangan. Dan sialnya, menyebut nama Darren pun tidak membawa pengaruh, karena mereka tidak percaya! "Dengar! Aku bisa memecat kalian semua!" Gladys berkata dengan nada yang marah. Ia sudah menjadi tontonan publik sejak ia melangkahkan kaki di sini dan ia sangat marah, tapi Gladys tidak mau pulang karena ia tahu, semua yang ia lakukan sekarang akan sia-sia bila ia kembali ke rumah. Lagi pula, ia masih mau bertemu dengan pria seksi yang meminjamkannya jas putih tadi. "Aku ... aku ini ...." Gladys hampir meneriakkan statusnya sebagai selingkuhan Darren, kalau saja akal sehatnya tak mengambil alih. Ia tidak mau menjadi bahan cemoohan orang-orang karena menjadi selingkuhan yang bahkan tidak diberitahu soal dresscode di pesta ini. Gladys tak akan mempermalukan dirinya sendiri lebih jauh lagi. "Maaf, Nona. Kami tidak diberitahu soal tamu khusus. Peraturannya adalah, yang membawa undanganlah yang boleh masuk. Lagi pula Anda tidak memakai dresscode yang sesuai. Bukankah itu berarti sejak awal tidak ada undangan? Karena di undangan sudah tertulis dengan jelas kalau semua tamu undangan harus memakai warna putih." "Aku tidak butuh undangan! Aku ini orang penting! Lebih baik kalian biarkan aku masuk atau kau akan menyesal!" Gladys berusaha menerobos masuk, tapi tubuhnya ditahan oleh dua pria bertubuh besar. Dia benar-benar dipermalukan karena dua orang itu justru menggendongnya secara bersama-sama menuju pintu depan--dan mereka bahkan membawanya turun sampai ke depan gedung. Benar-benar kurang ajar! "Kami minta maaf sekali lagi, tapi peraturan tetap peraturan. Kembalilah ketika Anda memiliki undangan dan kami akan meminta maaf soal ini--bila hal itu terjadi." Penjaga itu berkata dengan nada yang ragu, seolah ia benar-benar tidak percaya bahwa Gladys memang diundang di pesta ini. Darah Gladys mendidih. Dia mengumpat dan bahkan melempar sepatu yang ia gunakan ke kepala salah satu penjaga itu, tapi sayang, lemparannya meleset. "Persetan dengan kalian semua! Akan kubuat kalian menyesal!" teriak wanita itu di depan hotel yang gelap, dengan beberapa orang yang menyaksikannya dengan pandangan prihatin. ** Marvin menyesap champaign-nya sambil tersenyum lebar. Darren dan Violet--serta keluarga besar Malferent belum terlihat, sedangkan pesta sudah hampir dimulai. Itu karena sepertinya mereka memiliki segmen pembuka khusus yang akan menampilkan satu keluarga besar tersebut di atas panggung. Ya, begitu tebakan Marvin. Ia sudah datang sedaritadi. Setelah ia meminjamkan jasnya pada Gladys, Marvin langsung mencari minuman yang bisa menemaninya untuk menyaksikan sebuah pertunjukan menarik. Di mana ada seorang perempuan yang tidak diperbolehkan masuk karena ia mengaku-ngaku bahwa ia memiliki undangan khusus, sehingga ia tak butuh undangan formal untuk datang kemari. Marvin secara tak sengaja mendengar orang-orang menggosipi Gladys dengan terang-terangan karena aksinya yang menarik perhatian--di saat pesta belum dimulai. Beberapa dari mereka bahkan tak segan-segan menghina Gladys dengan kata kampungan, norak, orang gila, dan masih banyak lagi. Sebenarnya, Marvin bisa saja menolong Gladys--lagi. Mengingat undangan ini memuat dua orang dan ia datang sendirian. Jadi jika dia mau, dia bisa bilang pada penjaga itu bahwa Gladys datang bersamanya dan ia akan memperbaiki citra buruk Gladys di mata tamu undangan lain. Namun, Marvin tak ingin melakukannya--karena ini terlalu menarik untuk ditonton. Ia sudah punya rencana tersendiri untuk Gladys. Meminjamkan perempuan itu jas rasanya sudah lebih dari cukup dan Marvin tak sebaik itu pada seseorang yang sudah sering membuat gadisnya--Violet--menangis. "Perempuan itu bodoh sekali." Marvin tertawa lepas ketika Gladys diseret menjauh dari pintu masuk ballroom. "Meski aku tak mengerti kenapa Darren melakukan ini pada wanita yang ia cintai, tapi aku menikmatinya," sambung Marvin, berbicara sendirian. Kebahagiannya yang melihat Gladys dipermalukan seperti itu mendorong Marvin untuk bermonolog, saking antusiasnya ia. "Dasar perempuan bodoh." Marvin menggelengkan kepala sambil menyesap champaign-nya sekali lagi--masih dengan senyum manis yang terpasang di sana. Oh, sungguh malam yang indah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN