19

1494 Kata
"Apa kau tau kalau perusahaanku akan mengadakan acara minggu ini?" Violet sedang mengetik untuk menyelesaikan tugas kuliahnya ketika Darren tiba-tiba muncul dari balik pintu. Entah kapan lelaki itu kembali--sebab ini kali pertama Violet menatap batang hidungnya lagi setelah empat hari--karena Violet tak mendengar suara apa pun sebelum ini. Perempuan berbola mata abu itu menoleh dan mengangguk. "Iya. Aku dengar dari Angela." "Kalau begitu, sebagai istriku, kau tahu, kan, kalau kau akan ikut? Nah, kau punya baju untuk pesta?" Darren duduk di kursi yang terletak di depan meja rias. Lelaki itu memakai pakaian yang berbeda dari beberapa hari yang lalu--yang kemudian membuat Violet berasumsi bahwa dia punya baju di rumah Gladys. Atau, mungkin dia punya ruang pribadi dan pakaian ganti di kantornya. "Mau kubelikan?" "Tidak usah, aku punya." Violet membalas sembari memalingkan wajah. Perempuan itu berusaha untuk mengabaikan perasaan aneh yang terasa di hatinya setiap kali ia bertatapan dengan Darren. Demi Tuhan, ia masih mencintai pria ini, tapi rasanya Violet sekarang sudah tak mau lagi bertahan--setelah apa yang ia alami. Sebab, setelah perjuangan panjangnya kemarin, ia sama sekali tak melihat hasil. Darren tak meliriknya sama sekali, yang ada Violet malah patah hati sendirian. Betapa menyedihkan. Karena itu, Violet ingin mencoba mengendalikan diri. Ia ingin mencoba melupakan Darren perlahan. Meski status mereka masih suami istri dan Violet akan tetap berusaha menjadi istri yang baik, tapi kali ini, ia tak mau melibatkan perasaan di dalam kehidupan rumah tangganya bersama Darren. "Oh? Kau sudah membelinya?" tanya Darren sembari mengendurkan dasi yang ia pakai. "Kapan?" "Beberapa hari yang lalu, sebelum kau pergi menemui dia." Violet membalas dengan nada dingin yang membuatnya terkesan seperti cemburu. Namun, perempuan itu memutuskan untuk tak peduli. "Oh begitu ...," balas Darren seadanya, setelah itu, lelaki tersebut masuk ke dalam kamar mandi tanpa berniat memperpanjang obrolan karena Violet tampak tak tertarik untuk meladeninya. Violet tebak, Darren ingin membasuh diri karena ia tampak agak kusut. Padahal, bukankah harusnya ia gembira dan tampak senang karena ia baru saja menghabiskan beberapa malam panjang bersama kekasih kesayangannya itu? Lantas kenapa .... Oke! Berhenti! Itu bukan urusanmu! Kau mau melupakannya, Violet, bukan begitu? batin Violet menjerit kesal karena ia terus membayangkan soal Darren dan Gladys, bahkan ketika suaminya itu sudah tak ada lagi di hadapan Violet. Violet menarik napas panjang dan menyandarkan tubuhnya pada kursi. Tiba-tiba, ia merasa lelah. Sepertinya, Violet harus membiasakan hatinya dulu untuk mengabaikan Darren. Ya, mau tak mau, ia harus terbiasa. ** Gladys sedang memilih koleksi gaun-gaunnya untuk acara Anniversary Malferent Group besok karena Darren mengajaknya ke sana. Meskipun sekarang lelaki kesayangannya itu telah menikah, tapi syukurlah dia tidak melupakan Gladys. Kecuekan Edward dan dinginnya pernikahan yang ia jalani membuat Gladys menjadi haus kasih sayang. Ia menginginkan Darren lebih daripada yang pernah ia bayangkan dan sekarang lelaki itu sudah menjadi bagian dari hidup Gladys. Mereka berdua akan tetap saling mencintai, meskipun keduanya sama-sama terikat di pernikahan bodoh yang tak diinginkan. Oh, sebenarnya Gladys dan Edward sama-sama tak mau menikah, tapi mereka berdua tidak bisa berkutik karena faktor orang tua dan uang. Keduanya dipaksa untuk menjalin kasih demi keuntungan keluarga--dan Gladys tidak berani mengambil risiko untuk cerai, begitupula dengan Edward, karena ini tidak sesimpel hanya tentang mereka berdua, ini lebih dari itu. Dan bila harus berpisah pun, Gladys tidak akan mengambil langkah awal. Edwardlah yang harus menceraikannya, tapi lelaki itu tidak pernah tertarik untuk melakukan hal tersebut--meski Gladys sudah memintanya berkali-kali. Mereka berdua sama-sama saling berselingkuh, tapi keduanya juga sama-sama pura-pura tak tahu. Bila bisa digambarkan, maka hubungan Gladys dan Edward mungkin bisa melukis sejarah baru saking rumitnya. Well, itu agak berlebihan. Perempuan berambut merah tembaga yang panjangnya sepunggung itu bersenandung. Besok dia akan menitip Andrew di rumah orang tuanya, karena ia tidak pernah membawa anak kecil ke pesta--itu bisa mengurangi pesona Gladys. Meski sudah bersama Darren, ia masih sering melakukan tebar pesona kepada beberapa lelaki lain. Ya, Gladys realistis. Sekarang ia memang mencintai Darren--bahkan menggilai lelaki itu, tapi tidak ada yang bisa menebak perasaan manusia, bukan? Karena itu ia tidak mau menutup kesempatan pada lelaki mana pun yang dia anggap potensial untuk diajak berkenalan. "Yang ini bagus!" Gladys berdecak sambil tersenyum lebar kala ia menemukan dress simpel berwarna hitam metalik yang akan tampak mengkilat bila terkena lampu. Gaun itu pendek, hampir 10 senti di atas lutut. Bagian dadanya juga rendah, tapi bagi Gladys ini adalah pakaian yang paling sopan yang ia punya--karena rata-rata dress-nya lebih parah daripada ini. Mengingat acara yang ia hadiri kali ini adalah acara Anniversary di mana akan ada banyak orang penting--yang meskipun tak Gladys kenal--ia akan memakai sesuatu yang terlihat sedikit lebih sopan. Gladys juga anak seorang pengusaha, tapi perusahaan keluarganya tidak sebagus itu untuk diundang oleh Malferent Group yang notabenenya adalah perusahaan TOP yang sangat terkenal di New York dan penjurunya, sedangkan perusahaan Edward? Mereka memang cukup besar--tapi tak sebesar itu sampai bisa diundang oleh Malferent. Tanpa Darren, Gladys tidak akan pernah bisa merasakan pesta orang kaya yang sejenis itu. Ia hanya pergi ke acara-acara menegah yang sama sekali tak bisa dibandingkan dengan ini. Dengan Darren, Gladys merasa level sosialnya menjadi melambung naik. Dia senang. "Perfecto, tubuhmu memang sempurna." Gladys memuji dirinya sendiri di kaca. Anaknya, Andrew sedang tertidur, jadi Gladys punya banyak hal yang bisa ia lakukan. "Begitu beruntung dirimu karena pernah membuat Darren Malferent jatuh cinta. Well, wajar, sih, lihat dirimu, kau cantik, kulitmu putih mulus. Oh, lekukan yang luar biasa. Bila dibandingkan dengan si jalang Violet yang tubuhnya sama sekali tak berbentuk, kau menang telak, Sayang." Gladys berkata pada pantulan dirinya sendiri di cermin. Ia selalu melakukan itu, memuji dirinya sendiri secara berlebihan di depan kaca dan menjelekkan orang lain yang ia benci sejadi-jadinya. Gladys masih sibuk memandangi dirinya, berkata hal buruk tentang Violet, lalu mengulangi rentetan kalimat berlebihan yang mengagung-agungkan dirinya sendiri sampai suara pintu di buka menarik perhatian perempuan berbola mata biru terang itu. Merasa aneh karena ia yakin Andrew masih tertidur, Gladys menoleh. "Ed? Kau pulang?" Gladys menatapi suaminya dengan pandangan takjub. Edward, lelaki itu, tidak biasanya dia menemui Gladys duluan. "Apa sebentar lagi topan akan menghujam New York karena kau masuk ke dalam sini dan menemuiku, hm?" "Ada yang ingin kukatakan," kata Edward singkat dengan tatapan mata kosong. Satu hal yang khas dari Edward adalah, mata biru pudarnya yang selalu tampak hampa dan kulit pucatnya yang seperti vampir. Melihat dia selalu mengingatkan Gladys pada Edward Cullen di Twilight. Kebetulan, nama mereka sama. Betapa mengerikan. "Apa itu?" Gladys menaruh dress-nya kembali dan duduk di atas ranjang yang kemudian di susul oleh Edward. "Hal penting? Apa? Mengenai perempuan selingkuhanmu?" Ini kali pertama Gladys membahas soal selingkuhan Edward, sebelum ini, mereka berdua sama-sama berpura-pura bodoh. Obrolan keduanya pun biasa hanya seputar soal Andrew. Itu pun jarang. "Ya." Edward sama sekali tak tampak terkejut, ia juga tak menyangkal. "Dia hamil." Napas Gladys tercekat mendengarnya. Tidak, dia bukannya cemburu, dia hanya ... merasa kesal. Kesal karena pada nyatanya Edward sama sekali tidak berhati-hati, di saat Gladys berusaha untuk menyembunyikan perselingkuhannya serapi mungkin dari keluarga mereka berdua. "Dan dia mau aku menikahinya." "Kau pasti gila!" jerit Gladys kencang kemudian. Perempuan itu juga tak percaya kalau ia berteriak sekencang itu di saat Andrew tengah tertidur. Menyadarinya, Gladys kemudian berusaha mengatur napas dan volume suaranya. "Kau ... bagaimana bisa kau membuatnya hamil? Aku bahkan berusaha sekuat tenaga untuk tidak ketahuan. Dan apa kau bilang? Menikahinya? Kau pasti sudah kehilangan akal." "Kau bilang berhati-hati? Berselingkuh di rumah kita itu berhati-hati? Bercinta dengan dia di atas ranjang ini kau sebut berhati-hati? Aku bahkan memiliki video m***m kau dengan dia! Kau tak tahu kalau aku memasang kamera tersembunyi di sini, kan?" "Kau!!" Wajah Gladys memerah. Ia menunjuk wajah Edward dengan kuku-kuku panjangnya yang sudah diwarnai dengan warna kuning. "b******n! Mau apa kau dengan video itu?!" "Mari kita bercerai," kata Edward dengan tenang sambil menatap mata Gladys. Dia sama sekali tak terganggu dengan emosi Gladys yang meluap-luap di depannya. "Tapi, aku tak mau disalahkan sepenuhnya atas perceraian ini. Karena itu, mari kita membagi dua konsekuensi yang harus ditanggung. Kalau kau tidak setuju, maka aku akan menyebar video itu dan membuatmu malu sendirian, bagaimana?" "Aku akan mencari selingkuhanmu dan menjambak rambutnya sampai kepalanya lepas dari leher jika kau berani melakukan itu!" seru Gladys emosi. "Jangan macam-macam denganku, Edward! Aku tidak main-main." "Kenapa kau emosional sekali? Aku hanya menawarkan kesepakatan. Aku tak akan menyebarkannya bila kau mau membagi dua denganku konsekuensi yang terjadi atas perceraian kita." "Dan kenapa aku harus melakukannya?!" "Karena kau juga menginginkan perceraian kita!" Gladys terdiam. Dadanya naik turun saking marahnya. Perempuan itu menatap tajam ke Edward, tapi lagi-lagi, lelaki itu sama sekali tak terpengaruh. Sialan! "Aku beri kau waktu sampai besok untuk berpikir. Kalau kau tidak menjawab, maka aku akan ambil opsi kedua. Kita bercerai, aku akan mempermalukanmu dan ... kau menanggung semua risikonya sendiri." Setelah itu, Edward berdiri dan keluar dari kamar. Gladys memang selalu menginginkan perceraian--agar dia bisa bersama dengan Darren secara bebas--, tapi sekarang lelaki itu sudah menikah dan bukan hal ini yang Gladys inginkan sepenuhnya. "b******n!!" seru Gladys marah ketika Edward tak lagi terlihat di sana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN