23

1112 Kata
"Lain kali, kau jangan minum secepat itu. Champagine dibuat untuk dinikmati. Biarkan dia mengalir di kerongkonganmu dan kau akan terbuai dengan sensasinya." Lelaki dengan mata abu itu berkata sambil tersenyum menawan. "Omong-omong, emangnya kau bisa meminum alkohol? Kudengar pesta ini menyediakan minuman keras dengan kadar alkohol yang cukup tinggi." Violet menggeleng. Baru beberapa menit sejak ia menegak cairan itu, tapi sekarang ia merasa badannya sudah rileks dan santai. Apa ini hanya perasaannya saja? "Aku tidak bisa minum." Violet menjawab pelan. "Tapi, tidak apa-apa. Sepertinya aku tidak akan mabuk. Tidak, aku tidak boleh mabuk." "Tapi perkataanmu sudah terdengar seperti orang mabuk." Marvin terkekeh pelan. Lelaki itu celangak-celinguk sejenak, sebelum kemudian ia bertanya, "Ke mana Darren?" Violet menggelengkan kepala. "Tidak tahu. Tadi Gladys meneleponnya, sepertinya ia menemui perempuan itu, tapi tidak tahu kenapa ia keluar. Memangnya Gladys tidak diundang? Kupikir Darren malah mau datang bersama dengannya ke sini," jelas Violet dengan suara yang agak pelan. Ia tak mau ada tamu undangan yang mendengar perkataannya ini--meski semua orang sedang sibuk dengan urusan mereka masing-masing dan tak memperhatikan ia dan Marvin. Kenangan Marvin kembali terputar pada saat Gladys diseret keluar karena ia tidak membawa undangan, mungkin, sekarang perempuan itu sedang mengumpat-ngumpat pada Darren karena mempermalukannya di pesta besar seperti ini. Entahlah, sejujurnya Marvin juga tidak terlalu peduli. Lagi pula, kalau Darren pergi, maka Marvin bisa dengan bebas berduaan dengan Violet, kan? "Dia berengsek, ya? Padahal baru tadi dia mengecup punggung tanganmu dan mengatakan kalau kau istimewa. Aku mual melihat dia bertingkah sepert--" "Stt!" Violet maju satu langkah dan menutupi mulut Marvin dengan tangannya. Perempuan itu menggerakkan jari ke arah bibirnya--dengan tangan satu lagi yang tidak menyentuh Marvin--, memberikan isyarat agar Marvin tutup mulut. "Jangan keras-keras. Aku tidak mau ada tamu yang mendengar soal keburukan Darren." Marvin tertegun untuk sejenak sebelum ia melepaskan tangan Violet dan tersenyum lembut. "Astaga. Sikapmu yang seperti ini justru membuatku semakin membenci dia, meskipun dia adalah sahabatku. Dan sikapmu yang seperti ini juga yang membuatku semakin ...." "Semakin?" tanya Violet pelan sambil mengulangi kata-kata Marvin. Sekarang, kepala perempuan itu mulai terasa aneh. Kata orang, biasanya alkohol butuh waktu untuk bekerja. Namun, mungkin karena Violet adalah pemula yang di mana tubuhnya sama sekali tidak terbiasa dengan efek ini, jadi dia lebih mudah mabuk. Entahlah. "Kalau kau mau tau lanjutannya, maka kau harus berdansa denganku." Marvin tersenyum jahil yang membuat Violet mengembungkan pipi karena kesal. "Hei. Kau berusaha menjebakku, ya?" Violet berkata sambil memukul d**a Marvin pelan. "Akan kulaporkan pada polisi;kalau ada seorang pria yang berusaha menjebakku agar bisa berdansa berdua dengannya." Marvin tertawa. Dia tahu ada yang aneh dengan Violet. Perempuan itu mungkin sudah terbawa efek alkohol, jadi perkataan dan intonasi yang ia gunakan terdengar lucu. "Jadi, kau tidak mau berdansa denganku?" tanya Marvin lagi. Violet diam sejenak. Tubuhnya terasa enteng. Dia merasa nyaman. Musik klasik memang diputar sedaritadi. Ada tempat khusus bagi mereka yang mau berdansa dan sejujurnya, Violet tak sengaja mendapati Angela berada di sana tadi dengan Seth. Violet tidak bisa berdansa. Dia sangat kaku karena ia tidak pernah melakukan kegiatan semacam ini. "Aku ... tidak bisa." "Kenapa?" "Hm ... Darren tadi bilang ... kalau aku tidak boleh berdansa dengan sembarang pria karena kebanyakan dari mereka berengsek." Violet menatap jahil pada Marvin. "Oh, jadi aku masih berengsek di matamu?" "Hm. Bisa jadi?" Violet memiringkan kepalanya, berpura-pura kalau ia sedang berpikir. "Mendekati banyak wanita dan memacari mereka semua adalah tindakan yang berengsek, kan? Dasar Playboy." "Ck. Dasar. Kau masih tidak percaya padaku? Bahkan setelah aku mencium keningmu waktu itu dan menjelaskan semuanya?" tanya Marvin sambil menggelengkan kepala. Tentu saja ia dan Violet berbincang dengan volume suara yang cukup kecil. Ia tidak mau ada orang lain yang mendengar percakapan ilegal mereka berdua. "Bagaimana aku bisa percaya kalau pada nyatanya kau memang tidak pernah melabuhkan hati pada satu wanita secara permanen?" Violet menaikkan jari telunjuknya dan menggerakkan mereka ke kanan dan ke kiri di depan Marvin. "Kau terus membuatku bingung dengan perkataanmu. Aku tidak tahu kau bercanda atau main-main ketika mengatakan kalau kau menyukaiku, tapi terima kasih untuk itu. Kau membuatku merasa bahwa aku masih diinginkan, setelah apa yang kualami." Marvin menghela napas. Sangat sulit untuk membersihkan nama baik, bila ada satu julukan buruk yang sudah melekat lama pada dirimu. "Aku bisa membuktikannya kalau kau mau." "Membuktikan apa?" "Perasaanku." "Heh? Bagaimana caranya?" "Berdansalah denganku," kata Marvin, masih kekeh dengan perkataannya. "Aku tidak bisa berdansa." Violet mendengkus. "Dan, bagaimana kau bisa membuktikan perasaanmu melalui dansa? Aku tidak mengerti." "Kau akan mengerti bila kau berdansa denganku." "Tapi aku tidak bisa berdansa." Violet mengerutkan dahinya sebal. Ekspresi marahnya itu malah membuat Marvin menyengir. Lelaki itu memang iseng. Violet sempat melupakan fakta tersebut. "Kau tidak mendengarku, ya?" "Aku bisa mengajarimu. Kau hanya perlu mengikuti langkahku." Marvin masih bersikeras dengan gagasannya. Violet menimbang-nimbang untuk sejenak. Meski dia merasa tubuhnya memang dipengaruhi alkohol, tapi dia yakin dia tidak akan ambruk, pingsan, ataupun menggila karena mabuk. Ya, dia merasa dia masih bisa mengontrol dirinya sendiri. "Aku berdansa denganmu? Bagaimana tanggapan tamu lain nanti?" "Violetta, dengar, semua orang bebas berdansa dengan siapa pun yang mereka mau--asal yang diajak dansa setuju. Tidak akan ada kecurigaan, percaya padaku. Mereka semua sudah melakukan ini bertahun-tahun. Ini adalah budaya pesta yang selalu kami lakukan." "Jadi, apa kau berdansa dengan banyak wanita di setiap pesta?" balas Violet sambil menatap curiga ke arah Marvin. Pertanyaannya memang sangat random. Violet juga tidak mengerti kenapa hal tersebut bisa meluncur begitu saja dari mulutnya. "Tid--eh, apa? Pertanyaan apa itu? Kenapa kau terus membahas soal perempuan? Apa kau sebenarnya cemburu dengan mereka semua? Maksudku ... kau cemburu pada orang-orang yang pernah berkencan denganku?" Violet terdiam untuk sejenak. Tiba-tiba, ia merasa pipinya terbakar. Entah karena alkohol ataupun berkat ucapan Marvin. Violet juga tidak paham kenapa ia terdengar sinis tanpa alasan--satu-satunya penjelasan masuk akal kenapa ia melakukan ini adalah ... ia cemburu. Ya, Violet juga seperti ini tadi saat ia membaca pesan teks Marvin ketika lelaki itu bilang ia akan datang bersama perempuan lain. Astaga. Kenapa Violet jadi tidak mampu berkata-kata dan malah diam saja--hanya karena satu pertanyaan sepele Marvin? "Kau cemburu. Aku benar?" Marvin semakin melebarkan senyumnya kala ia mendapati Violet bergeming di tempat. "Oh, apa ini pertanda bahwa aku baru saja mendapat lampu hijau darimu?" "J-jangan gila!" Violet berkata dengan nada gugup tanpa memandang mata Marvin. "Aku tidak cemburu. Berhenti berkhayal yang tidak-tidak." "Oh, ayolah. Mengaku saja. Aku tidak akan marah, kok." Marvin menahan tawanya kala ia mendapati kalau Violet benar-benar blushing. "Kau cemburu, yaaa?" "Berhenti menanyaiku." Violet memegang pipinya yang terbakar. "Baiklah, mari berdansa. Aku mau berdansa denganmu asal kau berhenti menggodaku. Bagaimana?" "Deal." Marvin tersenyum lebar sambil mengangguk. Tingkah Violet sangat lucu sampai-sampai Marvin ingin menciumnya di sini. Sekarang juga. "Akan kutunjukkan padamu seberapa besar keseriusanku yang sebenarnya."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN