Lelaki itu bangun dengan kepala yang pening ketika ia mencium wangi masakan yang membuat perutnya secara refleks berbunyi--meski kesadarannya baru saja terkumpul. Marvin bangun dan berdiri. Tak jauh dari tempatnya tegak, ia mendapati Violet tengah bergerak di dapur sambil menggoyang-goyangkan panci. Marvin menegak salivanya kasar sembari menggosok matanya pelan untuk mendapat penglihatan yang lebih jelas. Damn she is sexy.
"Hei, sedang masak apa?" Marvin mendekat dan menatap tubuh Violet dari belakang. Menyedihkan kalau membayangkan perempuan ini harus menangis hanya karena ia mencintai orang yang salah.
"Kau bangun?" Violet memutar tubuhnya dan membulatkan mata. "Aku membuat omelet. Apa kau suka?"
"Aku terbiasa hanya meminum s**u saat pagi, tapi kurasa tak ada salahnya makan sedikit sarapan hari ini." Marvin menjawab sambil menatap Violet intens dari atas ke bawah. "Kau sudah mandi? Ini jam berapa?"
"Baru jam tujuh lewat, aku berencana membangunkanmu setelah aku selesai memasak. Aku kira kau harus makan sedikit setelah semalam kau menegak begitu banyak bir."
"Bir itu tanpa alkohol. Jadi, aku tak apa. Perutku sudah terbiasa meminum yang lebih dari itu." Marvin berkata sembari melirik ke arah panci masakan Violet. "Ini terlihat enak, bisa pindahkan ke meja makan sekarang? Aku mau mencobanya."
"Oke. Kau tunggulah di sana, nanti kubawakan." Violet memerintahkan Marvin dan interaksi mereka mengalir begitu saja. Seperti ... kedua manusia tersebut adalah teman lama yang sudah sering bertemu, bukannya orang asing yang baru berjumpa kemarin.
"Kau koki yang hebat, aku masih tak tahu kenapa Darren menyia-nyiakan perempuan sesempurna dirimu," puji Marvin sembari menyuap sesendok omelet ke dalam mulutnya. Perkataan itu membuat pipi Violet memerah. "Oh, seharusnya aku tak membahas dia."
"Tidak apa." Violet menggeleng. "Aku memang bodoh karena justru mencintainya di saat aku sudah tahu kalau dia memiliki perempuan lain dan tak akan mungkin melirikku."
"Aku mau bilang kau bodoh dari kemarin karena masih menyukainya, tapi aku takut kau tersinggung," kata Marvin dengan nada jenaka yang membuat Violet melotot. Sepersekian detik kemudian, lelaki itu menyengir lebar, menampilkan deretan giginya yang rapi nan putih. "Bercanda, Sayang."
"Sayang?" Violet semakin membulatkan matanya, kali ini bahkan lebih lebar. "Siapa yang kau panggil sayang, huh?"
"Kau, memangnya tak boleh?" balas Marvin masih dengan santainya. "Kau kan secara 'hati' tidak ada yang punya."
Violet mengembuskan napas. "Dasar playboy. Aku sudah dengar dari Angela kalau kau punya banyak wanita, apa kau memang selalu sebaik ini dengan mereka semua?"
"Tidak. Aku hanya baik padamu." Marvin berhenti mengunyah dan tiba-tiba mendongak. Kedua manusia itu punya warna obisidian yang sama--abu--, tapi, satunya berwarna gelap, satunya lebih condong ke terang. Dan yang gelap adalah milik Marvin.
Deg. Violet merasa jantungnya tiba-tiba berdegup lebih kencang. Sejak kemarin, Marvin selalu menyatakan perasaannya yang lebih terdengar seperti candaan bagi Violet, tapi pagi ini, lelaki itu tampak serius. Ada sesuatu di dalam tatapannya yang membuat Violet terpaku, entah apa itu.
"Mereka adalah teman seksku. Pelampiasan. Tempat aku melepas hasrat. Kami--maksudku aku dan wanita-wanita itu--sama-sama mencari kepuasan seksual. Namun, denganmu, aku tidak merasa begitu."
Violet masih diam. Ia dan Marvin masih saling pandang lekat. Lelaki itu masih terus berceloteh di mana Violet masih merasa jantungnya berdebar kencang. Wanita itu yakin dia tak jatuh cinta pada Marvin--dia merasa tak akan jatuh pada lelaki lain semudah itu--, tapi Violet juga tidak bisa mengidentifikasi apa arti dari degupan kencang yang ia rasakan sekarang.
"Aku bisa saja membuatmu mabuk lalu melepaskan hasrat yang kutahan saat aku bersamamu secara paksa--jika aku memang seberengsek yang kaupikirkan. Namun, aku tidak melakukannya. Aku tak ingin merusakmu. Aku tak ingin menyentuhmu, kecuali kau yang datang padaku. Asal kau tahu, aku tak pernah memaksa perempuan. Semua hubungan yang kulakukan didasari oleh perasaan suka dengan suka."
Marvin mengambil gelas yang berisi air putih di samping piring omeletnya dan menegak cairan bening itu singkat. Gerakannya benar-benar seksi. Violet tidak bisa menampik fakta itu--meski ia tak suka dengan pikirannya sendiri yang terkesan genit.
"Aku harap kau bisa melihat sisi lainku, Violet," kata Marvin lagi sambil tersenyum. Lelaki itu berdiri setelah ia selesai makan. "Aku harus pergi sekarang. Kau bisa hubungi aku kapan pun kau butuh teman. Aku tak akan keberatan. Kau paham itu, kan?"
Violet mengangguk.
"Bagus." Marvin bergerak mendekat ke arah Violet dan mengecup dahinya lembut. Ciuman singkat yang sama sekali tak Violet sangka. "Kalau begitu, aku pergi sekarang."
Lelaki itu benar-benar menghilang kemudian. Dia meninggalkan Violet dalam sunyi, di mana yang bisa perempuan itu dengar di tengah keheningan itu hanyalah ... detak jantungnya sendiri.
**
"Ngelie."
Angela menoleh ketika Violet memanggilnya. Sekarang mereka sedang berada di dalam kelas kewirausahaan. Di mana mereka diminta untuk memikirkan ide usaha yang kreatif secara berkelompok--dan Angela sedang berpikir ketika Violet tiba-tiba memanggilnya.
"Ya?" balas Angela.
"Kakakmu itu ...." Violet menggantungkan ucapannya. Bibirnya tiba-tiba terkatup lagi. Apa yang ingin ia tanyakan menguap di udara. Sejak tiga hari yang lalu--di mana Marvin menemani Violet, menyatakan cinta pada Violet, dan mencium dahinya. Violet sudah merasakan berbagai perasaan aneh. Dan semua rasa ini juga didukung dengan ketidak pulangan Darren yang bahkan tidak menghubungi Violet.
Karena lelaki itu tak kembali ke apartemen, Violet jadi semakin terbayang dengan kebersamaan sehari yang ia rasakan dengan Marvin.
Violet tahu ada yang salah dengan dirinya. Marvin datang di saat-saat terpuruk tentang perasaannya pada Darren. Lelaki itu hadir dan menghangatkan Violet. Dia menenangkan Violet dan membuatnya merasa diinginkan. Dan semua perasaan singkat yang hanya ia alami sehari itu ... membuat Violet banyak berpikir selama tiga hari ini.
Dia bukan orang yang mudah jatuh cinta--setidaknya itulah yang membuat ia berhasil bertahan dan menolak orang-orang yang menyukainya ketika ia masih tinggal di kediaman Barson. Namun, Marvin ... dia berbeda. Dia punya karisma memikat yang membuat Violet tak bisa berhenti memikirkannya.
Aku pasti benar-benar gila! batin Violet marah. Ia benar-benar kecewa dengan dirinya sendiri--karena pemikiran ini. Violet merasa dirinya begitu murah karena bisa membagi hatinya pada orang asing hanya dalam jangka waktu pendek.
Membagi hati? Jadi sekarang kau sudah yakin kalau ada perasaan aneh yang sedang tumbuh di dalam dirimu ... untuk Marvin? Suara batin Violet mengejek. Sejak beberapa hari yang lalu, Violet memang selalu menampik kalau ia mungkin saja terbawa perasaan hanya karena sikap Marvin, tapi hari ini, rasanya dia tidak bisa menampiknya lagi.
Sepertinya dia memang terbawa perasaan ... karena sikap Marvin, tiga hari yang lalu.
Salahkah aku kalau aku ... mulai menyukai orang yang ingin membahagiakanku ... dan melupakan dia ... yang tak menginginkanku?
"Hei, kau melamun!"
Violet mengerjap ketika pipinya ditabok oleh Angela dengan cukup kuat.
"Eh?" Violet memegangi pipinya refleks. "Kau bilang apa?"
"Kau yang mau bilang apa?" Angela berdecak. "Kenapa kau tiba-tiba bertanya tentang Marvin? Apa dia menghubungimu tanpa sepengetahuanku?" tanya Angela dengan nada tinggi, perempuan itu tampak kesal.
"Jadi benar dia menghubungimu? Benar-benar ya lelaki itu. Padahal kau istri sahabatnya sendiri, masih mau dia gebet? Akan kupukul kepalanya nanti." Angela melanjutkan ketika Violet tidak menjawab.
"Tidak! Tidak begitu." Violet cepat-cepat menyela sembari menggeleng cepat. "Kami hanya berteman. Dia baik padaku."
"Jadi ... kalian benar-benar berhubungan lagi, setelah pertemuan tiga hari yang lalu?"
Violet menegak salivanya. Tampaknya, ia baru saja salah bicara. Perempuan itu terdiam sejenak sembari menimbang-nimbang.
Haruskah ... ia menceritakan yang sebenarnya saja pada Angela?
"Helo? Violet? Kau melamun lagi?" Angela baru saja hendak menabok Violet lagi, tapi kali ini, Violet menahan tangannya. "Oh, kau tidak melamun ternyata."
"By the way, ada yang harus aku omongin." Violet melepas tangan Angela dan menatap matanya dalam. Netra itu sangat mirip dengan milik Marvin. "Ini tentang ...."
"Tentang?"
"Tentang pernikahanku."
**