Amar menatap sang putra dalam diam. Dia tidak menyangka kalau dirinya sudah mempunyai putra yang sangat tampan. Amar menghampiri sang putra yang sedang asyik dengan mainannya. “Hai, Boy,” sapa Amar pada putranya. Alex menoleh ke asal suara. Dia begitu kaget melihat sang papa yang sekarang ada di depannya. Air mata Alex tidak kuasa untuk jatuh. Alex lari menuju ke kamarnya. Amar yang melihat sang putra berlari meninggalkannya, hatinya terasa sakit. Amar mencoba memosisikan sebagai putranya yang selama ini cuma bisa melihat sang papa dari jauh. Amar berjalan menghampiri sang putra yang masuk ke dalam kamar. Exelin yang melihat sang putra berlari ke dalam kamar, dia mencoba membiarkannya dulu. Exelin percaya kalau sang suami bisa mengatasi putranya. Amar masuk ke dalam kamar sang putra dan

