Pagi hari Niko sudah menunggu Stella di depan panti asuhan.
"Cie kak Lala udah ditungguin pacarnya di depan," ledek Nadiya.
Stella mengernyitkan dahinya bingung.
"Tuh orang ngapain di sini pagi-pagi?" Tanya Stella bingung.
"Niko!" Panggil Stella.
Niko yang tadinya sedang menunduk sambil memainpkan ponsel langsung mengangkat kepalanya dan tersenyum ke arah Stella.
"Lo ngapain di situ?" Tanya Stella.
"Nungguin lo," jawab Niko.
"Hah?"
"Gue jemput lo," ujar Niko kemudian.
"Gak perlu dijemput kali gue mah, dari sini ke sekolah kan deket," ujar Stella merasa tak enak.
"Kan biar elo juga gak capek, La."
"Ya udah masuk dulu yuk," ajak Stella.
"Ada siapa di dalam?"
"Ada ibu sama adek-adek gue."
Niko pun turun dari motor dan mengikuti Stella masuk ke dalam rumah.
___
"Lho, ini siapa?" Tanya Riva saat melihat Niko duduk di ruang tamu.
"Eh tante, saya Niko teman sekolahnya Stella," jawab Niko dengan sopan.
"Oh.. tapi gak usah panggil tante ya, panggil ibu aja biar kayak Stella dan yang lainnya," ujar Riva.
"Ah iya siap ibu."
"Kamu udah sarapan belum? Kalau belum ayo ikut sarapan bareng ibu, Stella dan adik-adiknya," ajak Riva.
"Enggak bu, makasih. Saya kalau sarapan suka mual," tolak Niko.
"Hahaha kamu ini ada-ada aja, tapi jangan keseringan melewatkan sarapan ya, gak baik," ujar Riva menasehati.
"Iya bu siap, nanti Niko coba biasain sarapan."
Setelah Stella sarapan dan adik-adiknya sudah berangkat sekolah, ia dan Niko pamit kepada Riva.
"Bu, Lala berangkat dulu ya," pamit Stella.
"Saya juga berangkat dulu ya, bu," pamit Niko mengikuti Stella.
"Lala bekalnya udah dibawa?" Tanya Riva.
"Udah kok bu, udah dibawa."
"Ya udah, kalian hati-hati. Niko bawa motornya jangan ngebut ya," peringat Riva.
"Iya bu gak akan ngebut kok."
___
"Adik lo ada tiga?" Tanya Niko kepada Stella.
"Iya, adik asuh sih. Tapi karena udah bareng-bareng dari kecil jadi ngerasa kayak saudara kandung," jawab Stella.
"Siapa aja?"
"Yang cewek bawel itu namanya Nadiya, dia baru kelas dua SD, yang cowok itu kembar namanya Haikal sama Zafran, mereka baru aja masuk SMP," jelas Stella.
"Dan elo juga baru masuk SMA?"
"Ya iya lah, elo gimana sih?"
"Hahaha becanda kok."
"Eh tapi, itu kan panti asuhan, tapi kok anak-anaknya sedikit?" Tanya Niko heran.
"Sebenernya itu udah bukan panti asuhan lagi sih, ya jadi tempat tinggal gue sama ibu dan adik-adik aja. Karena waktu itu donatur yang biasa ngasih santunan ke panti tiba-tiba enggak ngasih lagi. Akhirnya ibu juga fokus ngerawat gue dan tiga adik gue. Dulu ada beberapa anak lainnya dan udah pada diadopsi gitu," jelas Stella.
"Elo enggak?"
"Guenya yang gak mau."
"Kenapa?"
"Udah nyaman aja di sana."
"Lo di panti dari umur berapa?" tanya Niko lagi. Dia begitu ingin tahu tentang Stella.
"Empat tahun. Pas si kembar masih bayi, terus pas gue SD tiba-tiba ada yang buang bayi depan panti dan itu Nadiya," ujar Stella.
"Serius, anak selucu itu dibuang?" Tanya Niko tak percaya.
"Makanya, gue juga heran. Emak bapaknya enggak mikir, cuma mau bikinnya aja."
"Tapi untung dia dibesarin sama ibu sih," lanjut Stella.
Niko diam.
"Kalau sama orang tuanya belum tentu Nadiya sebahagia ini? Dia mood booster banget buat gue, walaupun nyebelin karena dia bawel dan suka gangguin gue tapi gue sayang banget sih sama dia," ujar Stella lagi.
Niko tersenyum dibalik helm full facenya.
Karena asik mengobrol, tak terasa ternyata motor ninja milik Niko sudah berada di parkiran sekolah.
"Manfaatnya apaan sih, La?" Tanya Niko tiba-tiba.
"Hah? Gimana? Manfaat apaan?"
"Tuh anak osis tiap pagi di situ mulu, gue kira cuma hari Senin aja," cibir Niko.
"Mungkin mereka mau anak-anak di sekolah ini tertib dan disiplin," ujar Stella.
"Halah, paling cari muka aja."
"Udah lah, ayo masuk," ajak Stella.
Ketika sampai di depan gerbang mereka dihadang oleh beberapa anggota osis yang sedang berjaga, termasuk Andra dan Alvaro.
"Mana dasi kamu?" Tanya salah satu osis yang bernama Fian terlihat dari name tagnya.
"Gak bawa kak," jawab Niko.
Mata Fian beralih ke Stella.
"Kamu juga gak bawa? Tanyanya pada Stella.
Stella menjawab dengan gelengan kepala. "Lupa kak."
Fian nampak menghela napas berat.
"Kalian udah datang lima menit sebelum masuk, ditambah atribut gak lengkap, makanya jangan pacaran mulu. Sekolah jadi telat kan, mana ceroboh juga gak bawa atribut lengkap," ujar Fian sedikit membentak.
Niko dan Stella saling pandang. Hanya karena masalah mereka tak pakai dasi mereka sampai dibentak?
"Ya udah biar cepet mau apa?" Tanya Niko menantang.
Fian mendelik terlihat tak suka akan kalimat Niko.
"Andra, nih ada yang nantangin," lapor Fian kepada sang ketua osis.
"Apaan?" Tanya Andra menghampiri Fian.
"Ini mereka datang pas waktunya udah mepet mau bel masuk, udah gitu gak pakai dasi lagi," adu Fian.
Andra mengamati Niko dan Stella dari atas sampai bawah.
"Kalian tahu ini sekolah kan?" Tanya Andra.
Niko dan Stella mengangguk.
"Kalian juga tahu kalau di sekolah itu ada aturan?" tanya Andra lagi dengan nada yang lebih tegas.
Niko dan Stella kembali mengangguk.
"Kenapa kalian langgar?"
"Lupa kak," jawab Stella dan Niko bersamaan.
"Besok gak boleh lupa, karena toleransi masuk kelas maksimal lima belas menit, kalian ikut aja bersihin lapangan upacara sama mereka yang udah dihukum duluan," perintah Andra sambil menunjuk beberapa siswa yang tengah menyapu lapangan.
Tanpa kata lagi Niko dan Stella menurut. Mereka tak mau mencari masalah dengan anak-anak osis, karena pasti mereka akan kalah dan mereka juga menyadari jika memang keduanya bersalah karena melanggar tata tertib.
___
"Sebenernya lo bawa dasi kan?" Tanya Niko sambil memegang sapu.
"Iya emang bawa," jawab Stella santai.
"Ya terus, kenapa elo ngaku gak bawa?"
"Terus gue bakalan biarin lo dihukum sendirian, sementara lo bela-belain jemput gue dulu? Gue masih tahu diri ya," ujar Stella.
"Padahal kalau gak ada lo gue mau baku hantam sama anggota osis yang tadi," ujar Niko becanda tapi agak serius.
"Ya silahkan aja kalau elo mau kalah melawan anak hits sekolah."
"Anjir ia juga, gue jadi anggota osis aja gitu?"
"Gak cocok, udah elo jadi drummer. Gue jadi vokalis," canda Stella.
"Aamiin. Mudah-mudahan kita bisa jadi satu grup," ujar Niko berharap.
"Ogah ah, nanti gue disuruh nyanyiin lagu balonku lagi kayak lo kemarin," tolak Stella sambil bergidik.
"Gak bakal ya," ujar Niko, lalu lelaki itu mengapit kepala Stella di ketiaknya.
"Ih, elo pagi-pagi udah bau keringet aja," protes Stella
"Sampe pulang gak gue lepasin nih," ancam Niko.
"Ampun..ampun..."
Tanpa mereka sadari banyak pasang mata yang menatap mereka mulai dari yang berada di lapangan dan di balkon, termasuk para anggota osis yang memberi mereka hukuman tersebut.
"Harusnya lo ngasih hukuman berat, Ndra," ujar Fian memanasi.
"Gak usah, nanti mereka kaget. Baru sekali ini mereka ngelanggar, prosedurnya emang cuma hukuman ringan dulu sebagai teguran," ujar Andra sambil menatap lurus ke arah Stella dan Niko.
"Terlalu baik lo," cibir Fian.
Di lain tempat, Alvaro pun sama menatap mereka berdua. Ah, bukan mereka berdua. Lebih tepatnya hanya Stella.