Eleanor membuka matanya karena terganggu oleh cahaya matahari, yang entah datang dari mana. Kelopak mata gadis itu kemudian mengerjap-ngerjap, menyingkirkan rasa kantuk, dan keinginan untuk segera beradaptasi agar seseorang yang sedang mengamati reaksinya menjadi jelas. Tunggu. A—apa? Orang? Eleanor membelalak. Bangun dari tidurnya dan melihat Julius sedang duduk di sebuah kursi di hadapan ranjangnya—dengan dua tangan yang sebelumnya menyangga dagu. Lalu secara impulsif, Eleanor mengintip masuk ke dalam selimutnya. Dia berpakaian. Ada sebuah ekspresi kelegaan yang mengalir di wajahnya detik itu juga. “Kau berpikir aku menyentuhmu, Primrose?” Julius terkekeh pendek, amat maskulin. Pria itu tahu ke mana isi kepala Eleanor menuju. “Aku tidak berselera tidur dengan perempuan yang tidak sada

