TUJUH PULUH TUJUH: A FREEDOM TO LOVE

1100 Kata
Kemarin - kemarin, untuk ukuran orang yang kaget banget dan sedang diancam, April tenang banget. Tapi beberapa hari ini, hatinya sangat kacau, seperti ada yang meledakkan balon hijau di dadanya. Dia nggak ketemu Jun sudah beberapa hari. Baik di rumah maupun di kantor. Terakhir kali lihat Jun adalah hampir seminggu yang lalu saat pria itu datang ke kantor memberikan instruksi padanya sebelum cuti. Dan saat itu suasananya formal banget karena ada Pak Ano dan Bu Sabrina juga di sini. Saat dia pulang ke rumah sore harinya, Jun dan Bunda sudah berangkat ke Bandara. Mereka sudah beberapa hari nggak saling bicara. Bicara yang benar - benar bicara. Dan walaupun April memang menghindari Jun karena ancaman Bu Sabrina, tapi sepertinya malah Jun yang lebih menghindari April. “Lesu banget?” Tanya Janu. Beberapa hari terakhir, Mei yang super sibuk dengan persiapan pernikahannya nggak bisa ditebengin ke kantor. Jadinya dia nebeng Janu pulang pergi kerjanya. Bantuan yang diterima April dengan sukarela karena dia bokek! Uang ya habis buat beli hadiah nikahan Mei. Mereka sekarang dalam perjalanan pulang. Sudah agak malam, mereka lembur karena semua pegawai selain menyelesaikan deadline akhir tahun, KPI akhir tahun, laporan tahun ini dan proyeksi tahun depan, mereka juga harus mau sukarela membantu persiapan anniversary perusahaan. “Capek aja gue. Kerjaan kan lagi nggak selo. Gue jado susah tidur." April menjawab dengan jawaban normal. Nggak mungkin juga kan, mendadak merengek pada Janu bilsng kalau dia lagi kangen banget sama Jun. Bingung gimana keadaan Jun di Surabaya, dia lagi ngapain sampai - sampai chatnya nggak pernah dibalas dan telpon juga nggak diangkat. Tengsin lah! "Kirain gara - gara crush lo. Adaw!! Sakit, Pril! Sumpah, jadi cewek tangannya nakal banget. Jangan buat nyubil elah, mending lo gunain buat bikin pasangan lo seneng." "Heh! Heh! Heh! Mulut lo ternyata aslinya begitu, ya! Minta di sumpek pake tembakau sekilo!" April sewot. Kok Janu sekarang jadi m***m begini, sih! Tapi bukannya marah, Janu malah tertawa mendengar ancaman April. "Abisan seminggu ini lo kontras bener. Awal minggu lo berbunga - bunga. Eh serius! Muka lo cerah banget. Eh sekarang nggak ada bedanya sama cucian kucel belom kena setrika. Kalau gue suka nyambung - nyambungin nih, bisa aja gue ngira kalau lo lesu gara - gara di tinggal Pak Jun cuti." Jantung April langsung selip sekali, mendengar pernyataan Janu. Tubuhnya juga mendadak kaku dan hawa dingin merambat naik dari tulang punggung bawahnya. Jangan bilang kalau… Nggak mungkin kan, Janu juga tau kayak Bu Sabrina? Beberapa hari terakhir ini dia selalu mendapati tatapan Bu Sabrina yang luar biasa tajam padanya dan seringainya yang bagi April terlihat menakutkan. Itu alasan dia tak bisa tidur nyenyak kalau malam. "Lo… lo jangan sembarangan napa ngomongnya. Kalau jadi gosip gue kan susah. Fans pak Jun ngeri." Jawabnya tergagap - gagap. Janu terbahak kencang. Membuat April semakin waspada. "Santai aja, di sini juga cuma ada kita. Kan gue nggak ember, Pril. Lagian kayak iya aja lo naksir Pak Jun. Bener kata lo, fans nya ngeri! Udah kaya fans bola fanatik, nggak boleh salah!" April menghembuskan nafas leganya perlahan dengan gemetar. Fyuh, untung aja. "Eh tapi, Pril." Tubuhnya kembali menegang mendengar tapi dari Janu. Tapi apaan, nih?! "Tapi kan aturan nggak ada salahnya juga kalau lo naksir Pak Jun. Pak Jun single, kan?" Eh? Ini pembicaraan mengarahkannya ke mana, sih? "Setau gue sih, belom ada Bu Jun nya." "Nah! Kalau sama - sama single apa masalahnya?" Tanyanya. "Mungkin lo bisa coba deketin Pak Jun. Itung - itung buat usaha lo.move on dari crush lo." Masalahnya lo nggak tau aja Jan, kalo crush gue itu ya yang lo panggil Pak Jun itu! *** Jun melihat pesan yang bertumpuk yang belum dia buka dari April. Dia bukan nggak sempat. Memang sengaja nggak dia balas. Dia bahkan belum membacanya, kadang, dia hanya membaca sekilas saat pesannya muncul di bar notifikasi. Biasanya, jam segini dia akan menelpon. Tapi dia sudah menunggu sekitar lima belas menit dan telpon April tak kunjung datang. April ke mana?! Kenapa nggak nelpon?! Dia sedang berada di kamarnya di rumah Neneknya. Seharian ini dia mengantar Neneknya berkeliling ke rumah para sepupu jauhnya. Jun tahu maksud Neneknya ingin mengenalkannya pada mereka dengan harapan ada yang membuat Jun tertarik. Tapi bagaimana dia bisa tertarik kalau kepalanya sudah penuh dengan satu nama?! "Biar ndak lemes, ayo, ikut Nenek main ke tempat budhe - budhe sama tante - tantemu, yok." Begitu bunyi ajakannya tadi pagi. Memang benar, wajahnya sudah kusut sejak datang. Itu gara - gara April lagi. Begitu sampai di bandara, dia mengirim pesan pada gadis itu, menanyakan keberadaannya. Saat April menjawab masih di kantor, Jun membalas, berpesan agar pulang naik ojolnya hati - hati. Dan balasan April adalah, 'Gue pulang bareng Janu, kok. Aman. Salam buat Nenek. Have fun! Gonna miss you!' Jawaban yang membuatnya gerah luar biasa. Jun sudah beberapa kali mengisyaratkan pada April bahwa dia nggak suka April bareng Janu. Tapi sejak mereka bersama, berapa kali sudah April melanggarnya. Apa dia sebegitu inginnya bareng Janu sampai nggak mau nurut apa kata pacarnya ini?! Pacar? Menurut Jun. Mereka berdua sudah pacaran sejak ciuman mereka yang kedua di dalam mobil waktu itu. Dan walaupun Jun biasa mencium perempuan tanpa ada status, tapi Jun paham kalau dengan April, dia harus yang merendah. Karena April terlalu noob, dan nggak mungkin bisa langsung naik ke level Jun yang Pro. "Le?" Dia menengok pada Nenek yang berdiri di pintu kamarnya yang terbuka. "Nggih, Nek?" "Ayo makan dulu. Itu Rosita dateng bawain sop daging sama perkedel ayam. Katanya kemaren kamu bilang pengen makan perkedel Ayam." Dia nggak bilang gitu! Dia cuma bilang kalau perkedel ayamnya enak. Udah. Tapi toh dia tak bilang apapun untuk menyanggah perkataan Neneknya itu, dan hanya menganggukinya. "Iya, Nek. Nenek duluan aja. Bentar lagi Jun turun." Dia berpaling ke ponselnya lagi setelah Neneknya pergi. Menatap layar yang tetap hitam tanpa notifikasi baru apapun. Sebenarnya Jun nggak berencana untuk mendiamkan April sampai selama ini. Tapi setiap kali dia mau balas pesan April, selalu saja ada nama Janu di setiap pesan yang April kirimkan padanya. April lagi makan siang sama Janu, Septi dan Novi di rooftop. Septi bikinin mereka brownies tapi dihabisin sama Janu padahal mereka baru makan satu. Dia lupa beli makan siang, tapi dibeliin sama Novi, tapi karena Novi meeting, akhirnya dia cuma makan bertiga aja sama Janu dan Septi. Hari ini berangkat dan pulang kantor sama Janu. Janu Janu Janu terus! Jun muak!! Dan sekarang malah April nggak mengabarinya sama sekali! Pasti lagi sama Janu, dia! "Terserah lo lah, Pril. Gue capek!." Katanya meninggalkan ponselnya di meja kamar dan beranjak ke ruang makan. "Eh, Mas Jun. Sini Mas, udah kuambilin makan loh buat, Mas."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN