April menatap ponselnya dengan pandangan gusar dan putus asa setelah panggilannya dengan Jun terputus. Jun sebenarnya kenapa, sih? Hampir seminggu nggak ada kabar, sekalinya bisa dihubungi kok jadi agak… dingin? Masa yang kangen banget begini cuma April doang, sih? Jun nggak?
Dia menggelengkan kepalanya heboh sampai kepalanya pusing sendiri. “Nggak nggak nggak. Overthinkingnya dipending sampe tahun depan aja, ya. Please please. Tahun depan kan nggak sampe dua bulan lagi.” Dia berbicara sendiri.
Tapi April benar - benar nggak ada waktu buat Overthinking sekarang. Dia banyak bawa pekerjaan pulang akhir - akhir ini karena kalau dia jam delapan belum sampai rumah, Mei akan rusuh menerornya via chat, telepon dan pesan singkat, menyuruhnya untuk pulang dan mempersiapkan acaranya di rumah. Jadi terpaksa, April membawa pekerjaannya pulang.
Sebenarnya yang perlu dibantu nggak banyak sih, kebanyakan waktu, April cuma harus ‘ada’ biar Mei nggak panik. Karena lucunya, cuma April yang bisa menenangkan Mei secara efektif. Walaupun tumbalnya, dia jadi lebih sering kena semprot dan kena marah. Tapi lagi - lagi, harus ada paling nggak satu orang yang bersedia menjadi tumbalnya.
Dia melemparkan ponselnya pelan ke atas ranjangnya dan beranjak turun untuk mengerjakan sisa pekerjaannya yang dibawanya pulang.
Anniversary perusahaan tinggal dua minggu lagi. Banyak sekali yang harus dipersiapkan. Dan perusahaan menghimbau kepada para karyawan untuk membantu serta berpartisipasi merayakannya, tapi dengan catatan, tanpa ada pekerjaan yang terbengkalai. Dan dengan absennya Jun, pekerjaannya jadi bertumpuk - tumpuk. Belum lagi bantu - bantu persiapan pernikahan Mei akhir tahun nanti. Rasanya, April ingin berguru jutsu seribu bayangan pada Naruto.
Capek tau ngapa - ngapain sendirian!
“Udah April, jangan ngeluh. Nanti nggak kelar - kelar.”
***
Duduk menghadap jendela, menatap pemandangan jalanan di bawah yang ramai, akhir - akhir ini menjadi hobinya. Di kota ini dia sendirian. Menyewa satu kamar kos tipe studio dengan fasilitas full furnish, di lantai empat sebuah bangunan. Cukup lumayan untuk orang yang tinggal sendiri seperti dia. Prestige nya naik lah.
Dengan harga yang masih terbilang standard, dia bisa punya tempat tinggal lengkap dengan kamar, space kecil sebagai ruang tamu, dapur kecil dan juga jendela besar yang di depannya dia jadikan ruang kerja seperti ini. Bukan berarti penghasilannya berlebih. Untuk mengakomodasi semua ini, dia harus melakukan dua bahkan kadang tiga pekerjaan sekaligus agar masih bisa menabung untuk masa depannya.
Akhir - akhir ini dia sedang kalut. Dia merasa amat sendirian saat pertama kali datang ke kota ini awal tahun lalu. Tak kenal siapapun dan asing akan semua hal. Semua orang menganggapnya udik karena datang dari daerah. Namun setengah tahun lalu, dia bertemu seseorang yang membuat hidupnya terasa bagaikan pelangi. Penuh warna. Kadang merah, kadang biru, kadang kuning, semua warna dia rasakan saat bersama dengan orang tersebut. Dan pada akhirnya, dia juga merasakan warna kelabu. Dia sedang patah hati.
Dia terkekeh pelan. Patah hati apanya. Patah hati kan kalau dia menyatakan cinta terus ditolak. Lah ini? Kesempatan saja dia nggak punya. Mendekat saja dulu walaupun dianggap sebatas menjadi teman. Awalnya, dia pikir, itu adalah cara tercepat untuk bisa menjadi dekat dengan orang tersebut. Sambil melakukan pendekatan yang nyaman dan tak kentara. Bukan kah itu cara yang ampuh?
Trik itu berhasil. Bukan trik kaleng - kaleng memang. Keinginannya tercapai, kok. Mereka menjadi dekat dalam waktu yang singkat. Kelewat dekat hingga batas jelas berupa pertemanan memisahkan mereka. Orang itu saking nyamannya berada bersamanya, bahkan menceritakan tentang perasaan sukanya kepada orang lain.
Sakit, tapi tak berdarah.
Dia tertawa parau. Parah sih, hidup ini kalau ngasih candaan, selalu saja on point. Sampai yang dibuat bercandaan tak mampu lagi berkata apa - apa lagi.
Dia beranjak dari jendela besar kesayangannya menuju meja yang ada di depannya. Meraih benda pipih berwarna hitam, mengutak atiknya sebentar hingga menemukan nama seseorang di sana dan menekan icon bertuliskan ‘panggil’. Nada sambung langsung terdengar dari ponselnya. Dia mendengarkan nada panggil yang berulang tersebut. Menunggu dengan sabar orang yang dihubunginya mengangkat panggilan teleponnya.
Setelah enam kali deringan, akhirnya suara yang dia tunggu - tunggu terdengar juga. “Halo?”
“Astaga, lo udah tidur?! Jam berapa ini, bayi banget, lo.” Dia tertawa saat mendengar makian pelan yang ditujukan untuknya. Orang yang menarik. Selalu saja bisa memancing tawanya.
“Ini udah jam sepuluh lewat, Bangsul.”
“Jam sepuluh tuh masih sore, benc*ng - benc*ng baru pada jalan tuh, mau mangkal, Lo malah molor!”
“Si*lan. Ya udah sana lo sama benc*ng aja, jangan sama gue. Gue tutup ih, teleponnya!”
“Aeeh, gitu aja ngambek.” Dia sama sekali nggak takut, malah dia terkekeh senang menikmati reaksi dari temannya ini. “Jangan tidur dulu, lah. Temenin gue.”
“Temenin apa? Lo mau ngajakin gue phone s*x, ya?! Najis banget lo!” Tuduhnya brutal yang malah membuatnya nyaris terjungkal karena hanya berdiri dengan pinggul bersandar di meja kerjanya.
“Sembarangan kalau ngomong lo, ya! Gini - gini gue anaknya alim! Lagian bikin dosa kok, nanggung!”
Mereka berdua tertawa kencang. Sungguh, masing - masing merasa tak habis pikir dengan apa yang dipikirkan lawan bicaranya. Saking nyamannya, mereka sampai nggak peduli kalau kalimat tersebut, jika diucapkan pada orang yang tak seberapa dekat, akan masuk ke pasal pelecehan se*ual.
“Temenin ngapain, sih?” Suara di seberangnya masih terdengar terengah - engah karena baru selesai tertawa saat pertanyaan itu terlontar.
“Temenin gue keluar, yok.”
“Gila, lo! Keluar ke mana jam segini?!” temannya berseru seolah - olah dia gila.
“Banyak tau, Makanya jangan tidur mulu. Banyak hal yang lo lewatin kalo malem ntar. Deal ya, gue jemput lo lima belas menit lagi. Siap - siap. Sikat gigi jangan lupa biar nggak bau jigong.”
“Si*lan!”
“Hahahahah! Bye.”
Senyumnya bertahan selama beberapa saat setelah panggilannya terputus. Memang, dia tuh, lagi nggak boleh sendirian kalau mau nggak kepikiran tentang hal - hal yang berhubungan dengan orang yang ditaksirnya itu tadi. Dan temannya ini merupakan salah satu teman yang bisa dia andalkan kapan saja saat hatinya galau.
Dia beranjak menuju kamar mandi untuk mencuci muka. Dia harus siap - siap menjemput temannya itu. Sebenarnya jarak tempatnya dan tempat temannya itu nggak terlalu jauh. Paling lama hanya sekitar sepuluh menit. Mereka juga kaget saat pertama kali tahu tentang hal ini. Ternyata selama ini mereka tetanggaan. Pertama - tama, dia harus cuci muka dan sikat gigi dulu, jangan sampai dia yang malah bau jigong saat mereka bertemu. Kan nggak lucu, ya. Senjata makan tuan.
Dia tertawa lagi. Mendadak merasa bersemangat malam ini setelah beberapa hari ini lesu.
PS:
Kalian gitu ya... sekarang, bacanya diem2 aja....
Nggak mau nyapa aku nih? Doain biar enakan gitu badannya? Nggak? Hiks....