Papa seketika tertawa. "Ayolah, Papa harus bergegas, Mega. Papa janji, Ma, ganti nya kita makan malam bersama nanati."
Mama menghela napas tipis, karna kecewa.
Baik, seperti nya aku juga harus menyudahi sarapan ku yang belum seprtiga, nasib ku sama dengan remaja lain, harus berangkat ke sekolah bersama orangtua. Mereka buru-buru, maka aku ikut buru - buru. Mereka telat, aku juga ikut telat. Aku meletak kan sendok, beranjak berdiri, lantas berlari naik ke kamarku, mengambil ras dan keperluan sekolah yang lain nya.
" Jangan lupa sarapan lagi di kantor, Pa."
" Tentu saja bila perlu, Papa akan sarapan sambil rapat sengan Tuan Direktur. Itu pasti akan menarik." Papa mengedipkan mata, begurau.
Mama melotot, Papa buru-buru memperbaiki eksperi wajah nya. "Papa tidak akan lupa, Ma. Peraturan ketujuh keluarga kita ( sarapan selalu penting)." Papa meniru gayaku, tangan hormat di dahi. Mama haya tersenyum meliat kelakuan Papa.
Papa selalu begitu karna Papa memang sedang berada di titik paling penting karier pekerjaan nya, setidaknya demikian lah kalau Papa menjelaskan kenpa dia harus pulang larut malam, kenapa dia harus bergegas pagi-pagi sekali. "Papa harus berhasil melewati fase ini dengan balik, Mega. Sekali Papa berhasil memenangkan hati pemilik perusahaan, karer Papa akan melesat cepat. Posisi lebih baik, gaji lebih tinggi. Keluarga kita harus kompak mendukung, termasuk kamu, kamu harus rajin ber do'a agar Papa bisa memenangkan hati si pemilik perusahaan. Toh pada akhirnya kamu juga yang di untungkan. Mau liburan ke mana? Mau beli apa? Semua beres.
Aku haya bisa mengangguk, setengah paham ( soal jalan - jalan atau belanja ), setengah tidak ( soal memenangkan hati pemilik perusaahan).
"Dasi Papa miring." Mama menunjuk, beranjak mendekat, lalu memperbaiki dasi Papa yang aga miring itu.
"Terimakasih Ma." Papa tersenyum karna pelakuan istrinya itu, lalu melirik pergelangan tangan Mama.
"Celemek Mama juga miring." Papa ikut memperbaiki, meski sekali lagi melirik pergelangan tangan Mama yang halus itu.
"Jangan pulang larut malam Pa, Mama kangen kita makan malam bersama," kata Mama lirih.
" Mama lupa ya? Kan tadi Papah bilang nanti malam kita makan malam bersama. Spesial, tidak akan terlambat." Ucap Papa meyakin kan istrinya itu. Papa mendongak. "Alangkah lamanya anak itu mengambil tas sekolah."
" Tentu saja Pa."
" Tentu saja apanya Ma?"
" Ya tentu saja Mega lama. Meniru siapa lagi? Selalu lama melakukan sesuatu, dan terbirit-b***t panik kalau sudah kehabisan waktu." Kata Mama sambil tersenyum simpul kepada Papa.
" Oh, itu entah lah meniru siapa Ma." Papa pura-pura tidak mengerti, sambil ketiga kalinya melirik jam tangan nya. " Yang Papa tahu, anak itu cantiknya meniru siapa."
Mama tersipu. Lalu mereka berdua tertawa.
Papa melihat jamnya lagi, sambil mengeluh karna Aku lama. " Lima menit? Lama sekali anak itu mengambil..."
"Mega suadah selesai dari tadi kok." Aku nyengir, sambil menurunkan kedua telapak tangan ku.
"Eh? Mega?" Papa berseru kecil, hampir terlonjak melihatku tiba-tiba sudah berdiri di anak tangga terakhir. "Bagaimana kamu sudah ada di sana? Kamu selalu saja mengejutkan orangtua." Kata Papa sedikit memarahiku, meski marahnya sebentar karena dia harus begegas ke kantor.
"Jangan menggoda Papah mu, Mega. Dia selalu saja tidak memperhatikan, sejak kamu kecil malah." Sekarang giliran Mama yang menggunakan kalimat itu, sambil terseyum ke arah ku.
Aku tersenyum tanggung membalas senyuman Mama itu.
Itu juga menjadi penjelasan sederhana Mama atas keanehan keluarga kami sejak usiaku dua puluh dua bulan. Sejak permainan petak umpet. Sesimpel itu Papa tidak memperhatikan sekitar dengan baik. Padahal, kalau aku lagi bosan, tidak mau dilihat siapa pun, atau sedang iseng, aku tinggal menutupi wajahku dengan kedua telapak tangan ku, lalu memnghilang.
Seperti pagi ini, aku iseng ingin melihat percakapan akrab orangtuaku. Sudah sejak tadi aku turun mengambil tas, berdiri di anak tangga paling bawah dengan kedua telapak tangan menutupi wajah ku, sambil mengintip wajah mereka yang tersipu. Baik dulu maupun sekarang itu selalu seru.
" Ayo berangkat." Papa bejalan lebih dulu.
Aku haya mengangguk membalas perkataan Papa itu.
" Jangan lupa sarapan lagi di sekolah ya, Mega." Kata Mama yang mengingatkan ku.
" Mega tidak akan lupa, Ma. Peraturan ketujuh keluarga kita: sarapan selalu penting." Sambil mengangkat tangan, dengan sikap hormat.
Lalu Mama mengacak poni rambutku karna merasa gemas dengan tingkah ku.
****
Lima menit kemudian, mobil yang Papa kemudikan sudah melesat di jalanan. Pagi itu aku sungguh tidak tahu, setelah sarapan bersama yang selalu menyenangkan, beberapa jam lagi, kejutan itu tiba. Ada yang tahu rahasia besarku, bukan haya satu, melainkan susul-menyusul. Seluruh kehidupan ku mendadak berubah seratus delapan pulug derajat.
Perang besar siap meletus di Bumi. Aku tidak begurau.
Gerimis turun di sepanjang perjalan menuju sekolah. Papa mengemudikan mobil dengan sangat cepat, menerobos jutaan tetesan air lebih. Aku menatap jalanan yang basah dari balik jendela mobil. Aku selalu suka hujan. Menatap buliran air jatuh, itu selalu menyenangkan.
"Kamu nanti pulang sore?" Papa bertanya, tangan nya menekan klakson, ada angkutan umum mengetem sembarangan, menghambat lalu lintas pagi yang mulai macet di depan.
"Tidak ada les, Pa. Mega langsung pulang dari sekolah," aku menjawab tanpa menoleh, tetap menatap gemercik hujan dan langit yg gelap.
"Oh. Berarti kamu bisa ya, menemani Mama ke toko elektronik?"
Aku mengangguk. Tangan ku menyentuh jendela mobil yang terasa dingin karan hujan.
"Mesin cuci itu. Kamu pernah memikirkan nya, Mega?" Papa sepertinya masih tertarik dengan percakapan di meja makan tadi. Ia menekan klakson lagi, menyuruh dua motor di depan yang sembarangan menyalip di tengah kemacetan agar menyingkir.
"Ya?" Aku ikut menatap kedepan.
" Usianya sudah lima belas tahun bukan?" Papa tertawa kecil, membayangkan sekaligus berhitung.
" Ya?" Balasku sambil melihat kedepan.
" Kamu tahu, kalu setiap hari mesin cuci itu mencuci pakaian sebanyak dua puluh potong pakaian, maka selama lima tahun, itu berarti lebih dari 36.000 potong pakaian pernah di cucinya, hingga akhirnya rusak, minta di ganti. Hebat, bukan?" Kata Papa yang memuji mesin cuci itu.
Aku mengangguk pelan mendengar perktaan Papa, sambil menatap halte yang baru saja kami lewati. Ada lima-enam anak sekolah sepertiku yang sedang menunggu akutan umum dan ada beberapa pekerja kantoran yang sama sedang menunggu angkutan umum. Lampu kendaraan menyala, ber kedip-kedip. Beberapa pedagang asongan berdiri dan seorang pengamen membiarkan gitarnya tersampir di pundak. Pemandangan yang biasa sebenarnya, tapi hujan gerimis membuat suasana terlihat berbeda.
" Konsisten. Eh, bukan, persisten maksud Papa. Ya, itu kata yang lebih tepat. Kamu tahu, Mega, persisten membuat kita bisa melakukan hal hebat tanpa disadari. Seperti mesin cuci itu. Sedikit setiap harinya, tapi dalam waktu lama, tetap saja hebat hasilnya. Coba kamu bayangkan 36.000 potong pakaian, itu lebih banyak dibanding koleksi seluruh department store besar." Lalu Papa tertawa lagi.
Aku mengangguk. Aku tahu kebiasaan keluarga kami. Papa selau suka "( menasihati ku)" dengan caranya sediri. Seperti mengajak bicara hal unik pada pagi yang basah menuju sekolah ini. Mungkin orangtua kebanyakan lainya juga seperti orangtua ku. Selalu merasa penting mengajak anak-anak remajanya bicara sesuatu, menasehati, dan berharap kalimat-kalimat itu bekerja baik, meskipun haya urusan mesin cuci. Terlepas dari kesibukan nya, juga topik pembicaraan yang kadang tidak menyambung dengan situasi, tetapi bagiku Papa menyenangkan. Dia selalu ada saat aku butuh seorang untuk bercerita.