"Dia nggak pernah bilang cinta sih" aku menatap Fatih dan teman-temannya sedang bermain bola di halaman depan rumah kita. Janeta menatapku yang tampak lesu sembari memakan brownies yang dibuatnya bersama anak-anak tadi pagi. Tiga hari ini Nata pulang ke apartemennya, dia mengatakan pada Papi bahwa ada pekerjaan yang harus dia selesaikan sehingga waktunya berguru dengan Papi ditunda dulu. Tanpa diberitahupun, aku tau dia sedang menghindariku. Dulu Nata sering menghindariku, tetapi sekarang melihatnya seperti ini membuatku benar-benar tidak bisa berpikir sama sekali, juga aku merasakan nyeri dalam dadaku. Rasanya menyakitkan sekali, seperti ada yang menghentak-hentak. Seharusnya aku sudah kebal dengan penolakan Nata kan? "Ya elo! Pikir aja sendiri, dia udah perjuangin lo di depan keluarg

